Rangkaian peringatan Hari Jadi ke-666 Kota Probolinggo sukses digelar Pemkot Probolinggo. Berkat sinergi kolaborasi bersama, seluruh masyarakat ikut merasakan kemeriahannya.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Probolinggo ambil bagian penting untuk memastikan rangkaian kegiatan berjalan sukses sekaligus bermakna bagi seluruh masyarakat. Salah satunya, dengan melibatkan para pelajar se- Kota Probolinggo.
Selama 9 hari, (27/9-5/10) panggung utama peringatan Hari Jadi ke-666 Kota Probolinggo yang dipusatkan di Stadion Bayuangga, Kota Probolinggo, tak pernah kehabisan suguhan penampilan.
Mulai tingkat RA/TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK hingga kelompok seni dan sanggar seni ikut semringah telah menjadi bagian penting kemeriahan Hari Jadi kota tercinta.
Diantaranya, ada seni tari, fashionshow, modern dance, seni hadrah, lagu islami, menyanyi, seni bela diri, atraksi pencak silat hingga seni musik gambus, seni keroncong dan seni melayu semuanya lengkap ditampilkan.
“Dalam peringatan Hari Jadi ke-666 Kota Probolinggo, kami melibatkan keluarga besar Dinas Pendidikan Kota Probolinggo yakni lembaga pendidikan, sanggar seni hingga kelompok seni budaya di masyarakat,” ungkap kepala Disdikbud Kota Probolinggo, Dr. Siti Romlah, S.Si., M.Si saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo.
Siti Romlah melanjutkan, semuanya bersama dan bersatu, untuk melestarikan kebudayaan Kota Probolinggo.
“Sehingga, apa yang sudah ditanamkan, dilatih, dibimbing, baik di sekolah maupun di sanggar seni, bisa ditampilkan di panggung utama peringatan Hari Jadi Ke-666 Kota Probolinggo dan ini mereka menjadi semakin percaya diri. Semakin berani dan bangga dengan budaya-budaya yang tumbuh dengan baik di Kota Probolinggo,” katanya.
Kepala bidang Kebudayaan Disdikbud, Sardi SH, mengamini apa yang disampaikan Kadisdikbud Dr. Siti Romlah.
“Ini sejalan dengan salah satu tupoksi Dinas Pendidikan sendiri. Diantaranya pembinaan sekaligus meningkatkan kelestarian budaya di Kota Probolinggo.
“Untuk tampilan, kami menyesuaikan dengan usia mereka. Jenjang TK maupun SD kami tampilkan dipanggung utama pada sore hari hingga jelang magrib. Nah, untuk jenjang SMP dan SMA kami tampilkan malam hari, mulai pukul 19.00 WIB. Jadi kami juga mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan anak-anak yang akan tampil,” lanjut Sardi.
Disdikbud berharap, potensi dari masing-masing lembaga pendidikan bisa lebih meningkat dan fokus sebagai keunggulannya.
“Dengan sering kami libatkan untuk tampil, baik di dalam kota maupun di luar kota, tentu semakin meningkatkan kelestarian budaya sekaligus menambah khasanah kekayaan kebudayaan yang ada di Kota Probolinggo,” ujar Sardi. (el/*)
Editor : Fandi Armanto