KANIGARAN, Radar Bromo– Event organizer (EO) Hari Jadi ke-666 Kota Probolinggo ternyata tidak menyerahkan uang jaminan untuk antisipasi kerusakan di Stadion Bayuangga.
Padahal tahun lalu, penyelenggara kegiatan serupa di Stadion Bayuangga menyerahkan uang jaminan Rp 30 juta.
Pantauan Jawa Pos Radar Bromo di lapangan, panggung untuk peringatan Hari Jadi dan tenda undangan VIP, sudah berdiri di tengah lapangan stadion.
Masing-masing di sisi barat dan timur lapangan. Lalu, puluhan tenda kerucut untuk stand PKL berdiri di lintasan pinggir lapangan.
Elok Hanifah mewakili CV Tropis Media Plan sebagai EO menjelaskan, pihaknya tidak menyerahkan uang jaminan untuk antisipasi kerusakan lapangan stadion.
Sebab, kegiatan untuk memperingati Hari Jadi ke-666 itu tidak menggunakan anggaran APBD. Namun, pihaknya berkomitmen untuk menjaga lapangan stadion agar tidak rusak.
”Event ini non APBD, tidak menggunakan APBD. Namun, kami berkomitmen menjaga stadion. Before dan after. Mulai saat loading atau persiapan event, sampai selesai,” terangnya.
Menurutnya, kegiatan Hari Jadi digelar selama 10 hari. Mulai Jumat (29/9) sampai 5 Oktober.
Beragam hiburan ditampilkan. Mulai pameran produk UMKM, PKL, angkringan, dan wahana permainan bertajuk Probolinggo Expo.
Selain itu, warga Kota Probolinggo dan sekitarnya akan dihibur dengan beragam tampilan budaya dan kesenian.
Ada penampilan band lokal dan pelajar, marching band, break dance, tari modern dan tradisional, pawai budaya dan gowes.
“Ada juga lomba video 360 yang bisa diikuti perorangan dan kelompok dengan hadiah jutaan rupiah,” lanjut Elok.
Lomba video itu digelar selama acara berlangsung. Lokasinya di dalam areal stadion. Selama lomba, EO menyediakan alatnya, yaitu 360 video spintooth.
Ketua Askot PSSI Kota Probolinggo, Eko Purwanto saat dikonfirmasi, mengaku kecewa. Bukan hanya karena event Hari Jadi tetap digelas di stadion. Namun, juga karena pihak EO tidak menyerahkan uang jaminan sebagai antisipasi kerusakan lapangan stadion.
Menurutnya, ini membuktikan bahwa pemkot tidak punya komitmen untuk menjaga dan merawat Stadion Bayuangga.
Padahal, perbaikan atau perawatan lapangan stadion membutuhkan anggaran tidak sedikit.
”Kalau terjadi kerusakan pada lapangan stadion, siapa yang bertanggung jawab? EO sendiri tidak menyerahkan uang jaminan. Ujung-ujungnya, pemerintah lagi yang harus mengeluarkan anggaran untuk pemeliharaan lapangan stadion. Dan itu merugikan," kata Eko, yang juga anggota DPRD Kota Probolinggo tersebut.
Slamet Riyadi selaku ketua panitia event Hari Jadi ke-666 Kota Probolinggo belum dapat dikonfirmasi. Slamet belum merespon saat dihubungi melalui telepon, maupun chat.
Sebagai informasi, gelaran event Hari Jadi di lapangan Stadion Bayuangga, mendapat penolakan dari sejumlah pihak.
Di antaranya, sejumlah anggota DPRD Kota Probolinggo dan Askot PSSI Kota Probolinggo. Sebab, bisa merusak lapangan stadion yang selama ini digunakan untuk latihan sepak bola.
Namun, saat itu Kepala Dispopar Kota Probolinggo, Rachmadeta Antariksa mematikan bahwa kegiatan itu tidak akan merusakan lapangan stadion. Deta (panggilannya) juga menegaskan, EO wajib bertanggung jawab jika ada kerusakan.
“Kami juga minta uang jaminan pada event organizer sebagai langkah antisipasi pascakegiatan apabila ada kerusakan. Apabila tidak ada kerusakan sama sekali, uang tersebut bisa dikembalikan,” terangnya saat itu. (mas/hn)
Editor : Muhammad Fahmi