Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Bus IND's 88 Rombongan RS Bina Sehat yang Kecelakaan di Boto Probolinggo Diduga Turun dari Bromo dengan Gigi Tiga

Inneke Agustin • Kamis, 18 September 2025 | 02:42 WIB
Kondisi bus IND
Kondisi bus IND

PROBOLINGGO, Radar Bromo Tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi Republik Indonesia (KNKT RI) mengindikasi terjadi brake fading atau rem blong pada bus pariwisata IND’s 88 muat rombongan RS Bina Sehat Jember.

Kondisi inilah yang diduga menyebabkan bus kecelakaan di Jalur Bromo masuk Desa Boto, Kecamatan Lumbang dan menyebabkan delapan tewas.

Indikasi ini diketahui setelah KNKT RI melakukan ramp check. Ramp check dilakukan di dua lokasi.

Pertama, dilakukan pada bangkai bus IND's 88 nopol P 7221 UG yang kini diamankan di Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) Kelas II Probolinggo.

Kedua, dilakukan di rest area Lumbang, Kabupaten Probolinggo.

Investigator Senior KNKT RI Ahmad Wildan mengatakan, ramp check di Rest Area Lumbang dilakukan pada beberapa bus pariwisata. Tujuannya untuk mengetahui kondisi bus yang ada di Rest Area Lumbang.

Apakah ada kebocoran pneumatik atau tidak, tabung angin bersih atau tidak, dan kampas remnya baik atau tidak. “Kami memeriksa itu karena tiga hal ini yang sering menyebabkan rem blong,” tuturnya.

KNKT RI juga melakukan safety action. Yaitu, melakukan survei identifikasi pemasangan papan peringatan penggunaan gigi rendah di jalur Bromo.

Selama kegiatan itu, KNKT RI mengedukasi bus pariwisata di Rest Area Lumbang untuk memeriksa sistem rem sebelum berangkat. Tim juga mengidentifikasi jalur rawan laka di Bromo.

“Selanjutnya pada Rabu (17/9), kami juga akan ke Jember untuk menemui korban dan perusahaan bus serta Dishub Kabupaten Jember,” terangnya.

Berdasarkan ramp check pada bus pariwisata IND's 88, KNKT RI mengindikasi bahwa sopir bus Al Bahri, 60, mengerem bus terus menerus.

Bahkan, hingga tercium bau sangit oleh penumpang mulai jarak 2 kilometer sebelum titik kecelakaan.

“Akibatnya terjadi brake fading atau rem blong. Sehingga terjadi kecelakaan menabrak pembatas jalan sisi kanan,” ungkapnya.

Wildan menjelaskan, brake fading biasanya terjadi karena pengereman yang dilakukan secara berlebihan dan terus menerus. Terutama saat menuruni jalan panjang dan curam.

Akibatnya, sistem rem kehilangan efektivitasnya. Gesekan terus menerus membuaat kampas rem panas. Saat terlalu panas, material kampas kehilangan daya cengkeram dan terjadilan blong.

“Pengereman ekstrem membuat kampas dan tromol mengeluarkan gas atau debu yang menumpuk di antara keduanya, hingga membentuk lapisan licin. Ini membuat daya gesek turun drastis,” katanya.

Indikasi lain faktor penyebab kecelakaan bus IDN’s 88, menurut Wildan, yaitu sopir tidak memanfaatkan gigi rendah saat jalan menurun. Sehingga, beban kerja pengereman hanya bertumpu pada rem utama.

Diduga, sopir menggunakan gigi tiga saat bus turun. Seharusnya, sopir menggunakan gigi satu agar lebih aman.

“Namun ini masih akan kami dalami lagi. Kemarin sempat kami bongkar sistem pengeremannya dan telah kami periksa. Tinggal nantinya menunggu penjelasan detail dari pihak bus. Baru akan diketahui apakah hipotesis kami sesuai dengan temuan teman-teman,” terang Wildan.

Indikasi bahwa sopir bus turun dengan menggunakan gigi tiga juga diperkuat keterangan petugas derek bus.

KNKT RI mendapat penjelasan dari petugas derek bus bahwa mesin bus dalam posisi gigi tiga.

“Seharusnya untuk menghindari laka semacam ini, bus dapat menggunakan gigi satu saat hendak turun dari Gunung Bromo. Sehingga tidak menggunakan rem secara simultan,” lanjut Wildan.

Dalam kondisi brake fading, menurutnya, gigi tidak bisa dikurangi lagi atau diturunkan.

Bila dipaksakan, gigi berpotensi netral. Posisi ini malah lebih berbahaya menurut Wildan. Sebab, bus bisa melajut lebih cepat.

Berdasarkan keterangan sopir bus Al Bahri, menurut Wildan, sebelum kecelakaan sopir sempat menarik rem tangan.

Sayangnya, upaya tersebut tidak berhasil menghentikan laju kendaraan. Bus tetap melaju kencang, hingga akhirnya menabrak pembatas jalan.

“Pengemudi mengaku angin rem tidak ada. Namun, tabung angin saat itu terlepas akibat benturan dengan pohon. Sehingga, kami tidak bisa mengecek apakah benar angin rem sudah tidak ada,” katanya.

Di sisi lain, buzzer tanda peringatan tidak berbunyi. Seharusnya, buzzer berbunyi saat ada masalah.

Misalnya, saat tekanan udara rem rendah, kebocoran, atau masalah pada komponen rem lainnya.

Menurutnya, kesimpulan akhir masih menunggu pemeriksaan detail dari pengelola bus dan pihak kepolisian. Namun, secara global dugaan awal dari pihaknya mengarah pada faktor human error.

“Indikasinya pengemudi kurang terampil (askill) dalam mengendalikan bus di medan ekstrem,” pungkasnya.

Kepala Desa Ngadisari Sunaryono menambahkan, agenda KNKT berkunjung ke desanya adalah untuk melihat sejumlah hal. “Mulai dari larangan motor matik yang dibawa ke Bromo hingga faktor jalan yang ada di sana,” ungkapnya. (gus/mie)

 

 

Editor : Muhammad Fahmi
#RS Bina Sehat Jember #bus pariwisata #jalur bromo #knkt #boto #lumbang #probolinggo