Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

20 Tahun Bekerja Merantau, Warga Sumberasih Probolinggo Meninggal Terseret Banjir Bali

Inneke Agustin • Jumat, 12 September 2025 | 04:09 WIB

 

BERDUKA: Suasana di rumah duka Endang Cahyaning Ayu di Desa Sumurmati, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo. Tampak sejumlah keluarga, kerabat, dan tetangga sedang takziah, Kamis (11/9).
BERDUKA: Suasana di rumah duka Endang Cahyaning Ayu di Desa Sumurmati, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo. Tampak sejumlah keluarga, kerabat, dan tetangga sedang takziah, Kamis (11/9).

PROBOLINGGO, Radar Bromo - Musibah banjir yang melanda sejumlah wilayah di Bali juga membawa duka bagi keluarga Endang Cahyaning Ayu, 43.

Perempuan asal Desa Sumurmati, Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, itu meninggal akibat terseret arus banjir di Kabupaten Badung, Bali, Rabu (10/9).

Jenazah Endang tiba di kampung halamannya Kamis (11/9) dini hari dan dimakamkan pada pagi harinya.

Suasana duka menyelimuti prosesi pemakaman. Tampak sejumlah anggota keluarga, kerabat, dan warga desa ikut mengiringi ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Endang sendiri sudah puluhan tahun tinggal di Badung bersama suaminya, Juma`ali, 57.

Terhitung, dia menetap di Bali sekitar 20 tahun terakhir. Pasangan ini sehari-hari berjualan kue lapis ke pasar-pasar di sekitar tempat tinggalnya.

Pada Rabu (10/9) pukul 04.00 WITA, mereka berangkat menuju Pasar Pengosari, Jalan Raya Kerobokan-Canggu, Kelurahan Kerobokan Kaja, Kecamatan Kuta Utara.

Namun, setibanya di jembatan dekat pasar, banjir tiba-tiba datang akibat meluapnya Sungai Tukad Yeh Poh.

Air yang deras menutupi jalan dan area pasar, hingga membuat mobil Sigra milik keduanya terjebak. Arus kuat kemudian menyeret kendaraan tersebut menuju aliran sungai.

“Saya sempat membuka pintu mobil untuk menyelamatkan diri, tapi derasnya arus membuat mobil ikut terseret. Istri saya masih di dalam mobil. Saya tidak bisa menolong karena arusnya sangat kuat,” tutur Juma`ali saat ditemui di rumah duka usai pemakaman, kemarin.

Dalam kondisi panik, Juma`ali berusaha menyelamatkan diri dengan berpegangan pada batang kayu. Namun, tubuhnya terbentur berkali-kali karena derasnya arus hingga membuat kaki dan kepalanya terluka.

Baru sekitar pukul 04.30, ia akhirnya diselamatkan warga dan dilarikan ke RS Mangusada Badung.

Namun, nasib tragis menimpa istrinya. Ia tak dapat selamat dari insiden tersebut. Tubuhnya ditemukan tak bernyawa di lokasi proyek vila di Kelurahan Kerobokan Kelod, sekitar dua kilometer dari titik kejadian.

Jenazah Endang ditemukan oleh petugas proyek saat mengecek tembok pagar vila yang ambrol akibat banjir. Sementara itu, mobil Sigra milik pasangan tersebut hingga kini belum ditemukan.

“Kalau penyebab pastinya meninggal belum diketahui. Apakah tenggelam atau mengalami benturan. Tapi menurut keterangan anaknya, korban sempat menelepon untuk meminta pertolongan dan mengatakan dirinya masih berada di dalam mobil,” jelas Bhabinkamtibmas Desa Sumurmati Aipda Taufik.

Begitu selamat dari musibah, Juma’ali diberitahu anaknya bahwa Endang dalam kondisi kritis dan dirujuk ke Surabaya. Karena itu, Juma’ali pulang ke Probolinggo dan berencana menenami Endang dirujuk.

Namun, begitu sampai di Sumurmati pada Kamis (11/9) selepas subuh, dia justru mendapati fakta bahwa istrinya meninggal. Jenazah Endang bahkan tiba lebih dulu di rumah duka, sebelum Juma’ali sampai.

 “Ternyata dia meninggal sejak di lokasi kejadian. Saya baru tahu sesampai di rumah, hari ini (11/9). Anak saya sengaja tidak menceritakan hal ini karena khawatir saya drop,” ungkap Juma`ali dengan mata berkaca-kaca.

Diketahui, bencana banjir pada Rabu (10/9) melanda enam wilayah di Bali: Kota Denpasar, Kabupaten Jembrana, Gianyar, Klungkung, Badung, dan Tabanan. Berdasarkan catatan BNPB, banjir dipicu curah hujan ekstrem dengan intensitas lebih dari 150 mm per hari.

Sementara BMKG Wilayah III Denpasar menyebut, fenomena ini terjadi akibat gelombang atmosfer ekuatorial rosby disertai kelembapan udara tinggi hingga ketinggian 12.000 meter. (gus/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#Merantau #Sumberasih #banjir bali #probolinggo