Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Omzet Turun, Pedagang CFD Probolinggo di Jalan Suroyo Pilih Kembali ke Sekitar Alun-Alun

Inneke Agustin • Senin, 8 September 2025 | 14:00 WIB
KEMBALI RAMAI: Sejumlah pedagang CFD kembali berjualan di dekat Alun-Alun Kota Probolinggo, Jalan Ahmad Yani, Kota Probolinggo, Minggu (7/9).
KEMBALI RAMAI: Sejumlah pedagang CFD kembali berjualan di dekat Alun-Alun Kota Probolinggo, Jalan Ahmad Yani, Kota Probolinggo, Minggu (7/9).

PROBOLINGGO, Radar Bromo- Kegiatan Car Free Day (CFD) Kota Probolinggo Minggu (7/9), berbeda. Sejumlah pedagang yang seharusnya berjualan di Jalan Suroyo, malah kembali membuka lapak di sekitar alun-alun di Jalan Ahmad Yani. Mereka berdalih, selama di Jalan Suroyo, omzetnya menurun.

Salah seorang pedagang Wiwik Pujiati, 54, warga Kelurahan Kebonsari Wetan, Kecamatan Kanigaran, mengaku telah direlokasi ke Jalan Suroyo. Namun, memilih balik ke Jalan Ahmad Yani karena omzetnya menurun.

Setiap Minggu dalam kegiatan CFD, Wiwik berjualan segala jenis pakaian. Sebelum pindah ke Jalan Suroyo, ia mengaku bisa mendapatkan omzet Rp 1 juta dengan berjualan mulai pukul 05.00 hingga pukul 10.00. Sejak dipindah ke Jalan Suroyo, omzetnya turun menjadi Rp 100 ribu.

“Minggu pertama dapat Rp 180 ribu, Minggu kedua Rp 60 ribu, Minggu ketiga cuma dapat Rp 120 ribu. Lalu bagaimana saya harus memutar modal jualan. Mana masih bayar utang. Sampai mobil pun saya jual untuk modal, tapi tidak bisa balik modal kalau seperti ini terus. Akhirnya saya memilih balik ke alun-alun,” jelasnya.

Ia menduga, turunnya omzet tersebut karena para pelanggan tidak mengetahui lokasi baru tempatnya berjualan di Jalan Suroyo.

Kedua, karena tempat jualannya terbatas hanya 2 kali 2 meter. Ia tidak bisa terlalu banyak memajang barang dagangannya.

“Kalau di alun-alun kan bebas, tidak terbatas tempatnya. Terakhir, karena lokasinya terlalu jauh. Tempat saya ada di sebelah selatan, sementara parkiran di utara. Orang malas mau jalan jauh-jauh, sudah capek duluan,” katanya.

Ia berharap pengertian dari Pemkot Probolinggo untuk memperbolehkan para pedagang berjualan di dekat alun-alun.

Terlebih alun-alun belum juga direvitalisasi. Ia mengaku bersedia pindah bila alun-alun sudah betul-betul akan dibongkar.

“Nanti saja kalau sudah dibongkar kami pindah lagi tidak apa-apa. Dulu kan bilangnya karena alun-alun mau dibongkar, makanya direlokasi. Sampai sekarang belum dibongkar, boleh kan kami berdagang di sini lagi," harapnya.

"Daripada kami tidak bisa mencari nafkah. Kami bukan pekerja yang punya gaji tetap, mau makan harus cari dulu. Mohon itu dipikirkan juga,” harapnya.

Hal senada disampaikan Eva, 48, warga Kelurahan/Kecamatan Kanigaran, yang berjualan pentol. Ia mengaku pendapatannya nyungsep ketika direlokasi ke Jalan Suroyo.

“Masak saya jualan dari pukul 05.30 sampai 09.00 hanya dapat Rp 7 ribu. Padahal, kalau dulu jualan di CFD alun-alun, masih bisa dapat Rp 150 ribu. Toh ya alun-alunnya belum dibongkar, nanti kalau sudah dibongkar tidak apa-apa direlokasi lagi,” ungkapnya.

Karena beberapa kali barang dagangannya tidak habis, Eva mengaku dibagi-bagi kepada tetangga.

Ya gimana lagi, rugi. Tapi namanya jualan barang matang, kalau dibekukan 3 hari saja sudah berbeda rasa. Nanti pelanggan malah tidak suka. Mana yang bayar cicilan, pusing saya,” katanya. (gus/rud)

 

 

Editor : Ronald Fernando
#car free day (cfd) #pemkot #jalan ahmad yani #Kota Probolinggo #alun-alun #cfd #jalan suroyo