WONOMERTO, Radar Bromo-Kebakaran hebat terjadi di Desa Jrebeng, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo. Sabtu (6/9) malam, sebuah peternakan ayam potong habis terbakar. Menyebabkan kerugian hampir Rp 1 miliar.
Ada 20 ribu bibit ayam potong berusia 8 hari di lokasi peternakan saat kebakaran terjadi. Hampir semua terbakar, tak bisa diselamatkan. Hanya 30 ekor bibit ayam yang selamat.
Peternakan seluas 400 meter persegi milik Carik atau Sekretaris Desa (Sekdes) Jrebeng Sodik itu diketahui terbakar sekitar pukul 22.00. Namun, petugas Damkar Kabupaten Probolinggo baru mendapat laporan satu jam kemudian atau pukul 23.00.
Inspektur Inspeksi Damkar Kabupaten Probolinggo Danang Purwanto menjelaskan, pihaknya baru menerima laporan kebakaran sekitar pukul 23.00. Satu jam setelah api mulai terdeteksi.
“Menerima laporan tersebut, kami langsung berangkat ke lokasi dengan tiga unit fire truck. Namun saat tiba, api sudah membesar,” ungkapnya.
Titik api diketahui pertama kali muncul dari sisi timur kandang, lalu dengan cepat menjalar ke seluruh bangunan. Kondisi semakin mengkhawatirkan karena jarak antara kandang dengan permukiman hanya sekitar 5 meter.
“Harus segera dipadamkan. Jika tidak, dikhawatirkan panas dari api bisa menimbulkan titik api baru di permukiman,” jelas Danang.
Sementara di dalam kandang, terdapat sekitar 20 ribu bibit ayam potong berusia 8 hari. Hampir seluruhnya mati terpanggang dalam kobaran api. Hanya 30 ekor ayam berhasil selamat.
Kandang yang terbuat dari bangunan semi permanen, seluruhnya ambruk jadi puing. Dinding bambu hangus terbakar, sementara atap asbes bergelombang roboh tak tersisa. Ada dua blok kandang di peternakan itu. Satu blok berisi masing-masing 10 ribu bibit ayam.
Proses pemadaman sendiri berlangsung cukup lama. Sebab, bangunan peternakan yang terbakar terbuat dari bambu. Sehingga, api cepat berkobar. Ditambah angin bertiup kencang. Menyebabkan api semakin besar.
Di sisi lain, akses jalan menuju lokasi cukup sempit. Hanya bisa dilalui satu mobil. Sehingga, menyulitkan petugas bergerak lebih cepat.
Saking besarnya api, tiga unit mobil damkar berkapasitas 3.500 liter, 4.000 liter, dan 6.000 liter yang diterjunkan, sampai harus dua kali mengisi air. Air diambil dari sungai yang berjarak sekitar 500 meter dari peternakan.
Sehingga, total dibutukan 27 ribu liter air untuk memadamkan api. Api berhasil dipadamkan dalam waktu hampir tiga jam.
“Pemadaman berlangsung hampir tiga jam, mulai pukul 23.46 hingga 02.12 dini hari. Baru setelah itu api benar-benar padam,” terang Danang.
Sodik, pemilik peternakan masih syok saat dikonfirmasi tentang kebakaran itu. Menurutnya, semua bibit ayam di dalam kandang habis tak tersisa. Begitu pun bangunannya, hangus jadi arang.
Sodik bahkan mengalami kerugian materil hampir Rp 1 miliar akibat kebakaran itu. “Ayam dan pakannya saja nilainya Rp 300 juta. Belum lagi bangunan dan alat-alat di dalamnya, sekitar Rp 700 juta. Jadi hampir Rp 1 miliar,” katanya.
Sementara itu, penyebab kebakaran sampai kemarin belum diketahui dengan pasti. Hanya Danang memperkirakan, kebakaran berasal dari inkubator pemanas ayam yang mengalami korsleting.
Alat tersebut berfungsi untuk memanaskan suhu kandang ayam secara otomatis. Inkubator ini diduga korslet dan memercikkan api ke sekam yang digunakan sebagai alas kandang. Hingga akhirnya, kebakaran terjadi.
“Kalau instalasi listrik utama tidak ada masalah, sudah sesuai standar. Hanya saja inkubator ini yang diduga mengalami konsleting,” imbuhnya.
Danang memperkirakan, pemilik peternakan mengalami kerugian sedikitnya Rp 500 juta. Bahkan, bisa lebih dari itu.
Sebab, barang yang terbakar bukan hanya 20 ribu ayam. Namun, juga bangunan kandang dan peralatan.
Kapolsek Wonomerto AKP Bagus Purnama membenarkan dugaan bahwa penyebab kebakaran adalah korsleting listrik. Kondisi semakin diperparah dengan angin yang bertiup kencang. Sehingga, membuat api cepat membesar.
“Kami masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab pastinya,” pungkasnya. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi