Pada 4 September 2025 ini, Kota Probolinggo merayakan hari jadi ke-666. Tahun ini hari jadi mengangkat tagline: Deddinah 666 Probolinggo Kotttah.
Untuk sekelas kota, tentu saja usia 666 bukanlah usia singkat. Kota Probolinggo telah jadi saksi sejumlah era dengan memiliki sejarah panjang.
Lalu bagaimana asal muasal dan sejarah Kota Probolinggo? Berikut cerita singkat sejarah Kota Probolinggo:
Sejarah Kota Probolinggo
PENAMAAN Probolinggo memiliki sejarah yang panjang. Sebelum disebut sebagai Probolinggo, wilayah yang berada di pesisir utara pulau Jawa, dahulunya sering disebut dengan Banger.
Istilah Banger sudah dikenal ketika Prabu Hayam Wuruk mengadakan perjalanan keliling daerah Lumajang dan Baremi pada 4 September 1359, yang kini menjadi dasar penentuan hari jadi Kota Probolinggo.
“Sebab saat itu, ia memerintahkan pembukaan hutan di sekitar Sungai Banger untuk menjadikannya pusat pemerintahan,” kata Pegiat sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono.
Banger secara administratif berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit Barat serta berbatasan dengan wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit Timur.
Pada tahun 1404, Banger menjadi tempat terjadinya Perang Paregreg antara Majapahit Timur atau Blambangan yang dipimpin oleh Bhre Wirabhumi dengan Kerajaan Majapahit Barat yang dipimpin oleh Wikramawardhana.
Dua tahun kemudian, Raja Wikramawardhana berhasil menaklukkan Kerajaan Majapahit Timur.
Tahun 1518 Kerajaan Majapahit jatuh pada Kerajaan Demak di bawah kepemimpinan Sultan Trenggono.
Namun sepeninggalannya, Kerajaan Demak runtuh terlebih setelah penyerangan yang dilakukan oleh Jaka Tingkir dan pasukannya dari Pajang.
Pada 1582 Kerajaan Pajang dan Kerajaan Mataram berseteru. Kerajaan Mataram memenangkan perang kala itu.
Dan konsekuensinya seluruh wilayah milik Kerajaan Pajang menjadi milik Kerajaan Mataram.
Banger pun resmi menjadi kekuasaan Kerajaan Mataram hingga 1743 saat VOC berkuasa. Pada 1746, VOC mengangkat Kyai Djojolelono sebagai Bupati pertama di Banger hingga 1768.
Kemudian dilanjutkan oleh Raden Tumenggung Djojonegoro yang menjadikan daerah Banger makin makmur.
“Pada tahun 1770 nama Banger diubah olehnya menjadi Probolinggo yang artinya sinar berbentuk tugu,” kata Edi.
Disebut Caleba dan Baleba
Jauh sebelum perubahan nama Banger menjadi Probolinggo, beberapa cartographer dari Belanda seperti Samuel Tornton (1711), Hendri Abraham Chatelain (1719), dan Gerard van Keulen (1728) sudah menyebut Banger dengan nama Caleba dan juga Beleba di dalam peta-peta mereka.
Francois Valentijn adalah salah satu dari cartographer yang juga menyebut daerah Banger dengan nama Baleba di dalam bukunya yang berjudul Oud en nieuw Oost Indie.
“Saya mempunyai hipotesa, bahwa nama Caleba tersebut mungkin diserap dari bahasa lokal yang menyebutnya dengan nama Kali Banger menjadi Caleba,” terang Pegiat sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono.
“Sedangkan untuk nama Baleba, saya memiliki hipotesa bahwa itu diambil dari Bahasa Banggai Sulawesi Tengah untuk nama angin timur yang kencang atau angin Muson yang bertiup di daerah tersebut,” beber Edi.
Edi menambahkan, kata Baleba juga terdapat pada halaman 52 pada buku volume 2 oleh Abraham Jacob can der Aa yang dipublikasikan pada 1841.
Buku tersebut menjelaskan bahwa lokasi Baleba yang disebutkan pada peta-peta kuno sebelumnya, tentang pulau Jawa dan Pulau Madura dan sama dengan lokasi Banger.
Pernah Menjadi Kotapraja
Pada tahun 1809, Gubernur Jenderal Daendels memutuskan membangun Jalan Anyer hingga Panarukan.
Namun ditengah prosesnya, Inggris memblokade Pulau Jawa. Akibatnya Daendels sulit mendapatkan pasokan dana hingga akhirnya beberapa daerah di Pulau Jawa dijual pada pihak swasta.
“Salah satunya, wilayah Probolinggo yang dijual dengan harga 1 juta ringgit pada pedagang kaya bernama Han Tik Ko alias Han Keek Koo,” tutur Pegiat sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo, Edi Martono.
Karena alasan membeli tanah tersebut, ia diangkat menjadi Bupati Probolinggo mulai 1810 sampai 1813.
Namun di akhir masa jabatannya, warga pribumi bergejolak dan Han Tik Ko dilengserkan.
Selanjutnya Belanda kalah terhadap Inggris dan Probolinggo akhirnya menjadi milik Inggris.
Namun hal tersebut hanya berlangsung sebentar. Akhir tahun 1813-1814, Probolinggo kembali menjadi kekuasaan Belanda.
Selama penjajahan Belanda, banyak kebijakan yang diterapkan untuk mendukung praktek kolonialismenya di Hindia Belanda.
Salah satu kebijakannya, adalah di bidang pemerintahan. Yaitu dikeluarkannya Decentralisatie Wetgeiving 1903 atau yang disebut juga desentralisasi lama pada masa penjajahan Belanda.
Di dalam aturan tersebut menjelaskan, bahwa memungkinkan suatu daerah mempunyai tata keuangan sendiri untuk membiayai kebutuhan daerahnya sebagai gewest, plaats, atau gemeente.
Pada tahun 1918, di Jawa telah terbentuk 16 gemeentee. Di mana salah satunya adalah Probolinggo.
Pemerintah Kolonial tidak memberikan status gemeente (kotapraja) kepada semua daerah yang ada di Hindia Belanda.
Status ini hanya diberikan kepada daerah-daerah yang memiliki keistimewaan khusus.
Di Kota Probolinggo sendiri, ada tiga faktor yang menjadi pertimbangan bagi Pemerintah Hindia Belanda menentukan hal tersebut. Yakni faktor keuangan, penduduk, dan keadaan tempat.
Faktor keuangan, umumnya berkaitan dengan anggaran daerah yang dihasilkan dari kegiatan ekspor dan impor Pelabuhan Probolinggo.
Probolinggo memiliki daerah hinterland yang subur dengan dikelilingi pabrik-pabrik gula. Sehingga banyak orang Eropa yang bertempat tinggal di sini.
Untuk melengkapi aktivitas orang-orang Eropa, maka di Probolinggo juga dibangun beberapa sekolah sebagai sarana belajar bagi anak-anak orang Eropa serta penduduk pribumi.
“Jadi memang apabila diperhatikan memang Probolinggo sudah memenuhi syarat untuk menjadi sebuah gemeente dan telah mampu mengurusi daerahnya sendiri,” ujar Edi.
Hingga pada 1942, Jepang merampas seluruh kekuasaan Belanda. Khususnya di tanah Jawa termasuk Probolinggo.
Namun pada 17 Agustus 1945, Indonesia berhasil memperoleh kedaulatannya. Sejak saat itu pula, Probolinggo secara resmi menjadi bagian dari NKRI. (gus/one/mie)
Editor : Muhammad Fahmi