Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cara Dewan Kesenian Kota Probolinggo Menolak Alih Fungsi Gedung Kesenian Jadi Lapangan Tenis Indoor

Arif Mashudi • Sabtu, 30 Agustus 2025 | 02:02 WIB
SATIR: Sejumlah bocah berlatih di area Museum Probolinggo. Aksi itu dilakukan sebagai bentuk protes rencana alih fungsi gedung kesenian.
SATIR: Sejumlah bocah berlatih di area Museum Probolinggo. Aksi itu dilakukan sebagai bentuk protes rencana alih fungsi gedung kesenian.

Dewan Keseninan Kota Probolinggo (DKKPro) tegas menolak rencana mengembalikan fungsi gedung kesenian menjadi lapangan tenis indoor. Lewat komunikasi politik, penolakan disampaikan pada wakil rakyat di gedung DPRD setempat. Juga dengan cara satir, mengajak ratusan anak latihan beratap langit di halaman Gedung Museum Probolinggo.

ARIF MASHUDI, Kanigaran, Radar Bromo

TIDAK ada orasi atau marah-marah. Tidak perlu protes seperti itu. Di Rabu sore (27/8) yang hangat itu, ratusan anak menari.

Bukan di dalam Gedung Kesenian Kota Probolinggo di Jalan Suroyo. Namun, justru di luar gedung yang seharusnya menjadi tempat berkesenian. Di halaman gedung Museum Probolinggo, masih di satu kawasan dengan Gedung Kesenian.

Mereka semua berbaris rapi. Sebagian bersiap di teras museum, lainnya mengalir hingga ke taman. Mereka bukan sekadar berkumpul.

Mereka tampil. Menari, berteater, melantunkan jiwa seni yang telah lama tumbuh dalam ruang yang kini tengah terancam: Gedung Kesenian Kota Probolinggo.

Bukan sebuah pertunjukan biasa. Hari itu, panggung mereka bukan di dalam gedung. Melainkan di bawah langit terbuka, di atas lantai semen dan rerumputan taman.

Sekilas, ini bagai latihan kesenian yang menghibur. Namun, kontras yang menyentil ini adalah bentuk protes.

Sebuah penolakan halus, namun tegas terhadap rencana Pemkot Probolinggo yang hendak mengembalikan fungsi Gedung Kesenian jadi lapangan tenis indoor.

Para pengurus DKKPro bersama para orang tua, guru seni, dan tentu saja ratusan anak pegiat kesenian, memilih bersuara lewat cara yang paling mereka kenal: berkarya.

“Saya rutin latihan di Gedung Kesenian ini. Banyak teman-teman juga. Kami sudah nyaman di sana,” ucap Dewi, 12, gadis kecil penari tradisional dengan mata penuh harap.

Ketua DKKPro Peni Priyono menegaskan, Gedung Kesenian itu bukan sekadar bangunan. Ia adalah rumah bagi hampir 500 anak yang menapaki jalan kesenian. Jika dialihfungsikan menjadi lapangan tenis indoor, mereka khawatir hanya segelintir orang yang akan mengaksesnya.

“Bisa dibandingkan. Nilai manfaatnya jauh. Gedung kesenian dimanfaatkan ratusan anak dari berbagai latar belakang. Sedangkan lapangan tenis, kemungkinan besar hanya dinikmati kalangan menengah ke atas,” ujar Peni pada Jawa Pos Radar Bromo.

Aksi sore itu memang mendadak, namun penuh makna. Kebetulan, Rabu adalah jadwal rutin latihan di gedung kesenian. Ada ratusan anak-anak dari berbagai sekolah dan sanggar seni latihan di sana. Namun hari itu, seluruh pegiat sepakat berpindah ke luar ruangan.

Kontras yang satir ini dilakukan selama sekitar satu jam. Pukul 16.00 hingga pukul 17.00. Tujuannya jelas. Agar publik melihat, bahwa gedung itu selama ini hidup.

Bahwa ruang itu tak pernah benar-benar kosong, meski dari luar tampak sepi. Sambil berharap, Gedung Kesenian yang biasa mereka tempati berlatih dan unjuk karya itu tidak dipindah.

“Karena latihan biasanya dilakukan di dalam ruangan tertutup, kesannya seperti tidak ada aktivitas. Padahal, sebenarnya penuh. Selama ini mereka berlatih seni di sana. Menari, berteater, berkreasi,” tambah Peni.

DKKPro pun tak tinggal diam. Mereka telah melakukan audiensi dengan DPRD Kota Probolinggo dan mendapat angin segar. Pimpinan DPRD merekomendasikan agar rencana alih fungsi tersebut dibatalkan. Namun, Peni menegaskan, bahwa seluruh aksi yang dilakukan tetap dalam koridor seni.

“Kami hanya bisa bersuara melalui bidang kami. Tidak ada yang kami lebih-lebihkan. Kami hanya menampilkan kegiatan kami sendiri,” ujarnya.

Dari sisi ekonomi, keberadaan gedung kesenian sejatinya telah berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ketua Bidang Pembinaan DKKPro Budi Kristanto menyebutkan, selama ini pendapatan dari retribusi sewa gedung untuk kegiatan seni berkisar Rp 30 juta – Rp 40 juta per tahun.

Menurut Budi, potensi ini sebenarnya bisa ditingkatkan. Di luar waktu latihan, gedung bisa disewakan atau dikenakan retribusi saat ada event dari luar kota. Hal itu memungkinkan PAD meningkat tanpa harus mengorbankan ruang tumbuh generasi seni.

“Silakan dikaji. Seberapa banyak orang yang akan menggunakan lapangan tenis, dibandingkan dengan ratusan anak yang selama ini memakai gedung kesenian. Kalau alasannya PAD, gedung kesenian pun bisa dimaksimalkan,” tegasnya.

Sore itu, langkah-langkah kecil menari bukan hanya untuk seni. Mereka bergerak demi hak atas ruang, demi rumah yang selama ini melahirkan mimpi. Sebuah panggung yang bukan hanya tempat tampil. Namun, tempat tumbuh, belajar, dan mencinta budaya. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#museum probolinggo #tari #Lapangan Tenis #dewan kesenian #dprd #gedung kesenian #probolinggo