DI tengah derasnya arus globalisasi, banyak olahraga tradisional perlahan ditinggalkan. Namun, ada yang tetap lestari dan mengundang perhatian warga. Yakni, tarik tambang. Olahraga ini tetap dilestarikan, bahkan berkembang menjadi sebuah ajang kompetisi bergengsi. Seperti digelar di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.
Tarik tambang sejatinya bukan sekadar permainan rakyat. Sejarah mencatat, olahraga adu kekuatan otot ini sudah dikenal sejak masa India Kuno. Salah satu kisah menyebut pertandingan legendaris antara Raja Gathka dari Kerajaan Chandranayan dan seorang Pandita yang baru selesai bertapa di Himalaya.
Dengan membawa rakyat, Pandita menantang sang raja yang sombong. Aturannya jelas, siapa yang kalah harus rela memberikan kekuasaannya. Benar saja, sang raja akhirnya takluk dan rakyat merebut kemerdekaan.
Di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, tarik tambang sudah dikenal sejak 1990. Awalnya, hanya dimainkan oleh warga lokal sebagai hiburan sederhana. Seiring berjalannya waktu, terbentuk lima tim yang kerap bertanding hingga ke luar kota. Latihan rutin digelar dua kali sepekan dengan cara unik. Menarik batu besar seberat 1 ton.
“Kami ingin menghidupkan lagi olahraga tradisional ini. Sebab, tidak semua daerah masih memiliki semangat melestarikannya,” ujar salah satu panitia Tarik Tambang Joboan Cup, Jupri, 35.
Tahun ini, untuk kali pertama Joboan Cup resmi digelar. Panitia menyiapkan arena sepanjang 25 meter dengan indikator di tengah tali yang ditandai angka kelipatan lima hingga 45 sentimeter. Arena ini dilengkapi kotak pijakan khusus untuk para pemain. Satu tim ada tujuh orang. Terdiri dari lima pemain, seorang official, dan seorang pemain cadangan.
Antusiasme masyarakat luar biasa. Pendaftaran yang dibuka sejak Juli dengan biaya Rp 100 ribu per tim langsung diserbu. Total ada 256 tim. Sejumlah 128 tim turun di kelas 65 kilogram dan 128 lainnya di kelas bebas. Peserta bukan hanya dari Kota dan Kabupaten Probolinggo, tapi juga dari Pasuruan, Malang, Jember, hingga Lumajang.
Hadiah yang diperebutkan cukup menggiurkan. Total mencapai Rp 40 juta. Tak heran jika perlombaan ini menjadi magnet bagi atlet tarik tambang sekaligus hiburan rakyat.
Joboan Cup juga membawa dampak ekonomi. Sejumlah pedagang makanan dan minuman ringan dari kalangan warga sekitar turut meramaikan arena pertandingan. “Event ini selain untuk hiburan dan olahraga, juga bisa menggerakkan ekonomi warga sekitar,” ujar Jupri.
Ribuan pasang mata tertuju pada arena Tarik Tambang Joboan Cup. Olahraga tradisional yang berhasil menyedot animo warga. Pertandingan digelar rutin setiap malam, bahkan saat hujan sekalipun. Khusus Kamis malam, libur.
Rata-rata ada 3 hingga 5 partai yang dipertandingkan. Penonton yang hadir tidak sedikit. Tercatat 400–500 orang datang setiap malam dengan tiket masuk Rp 2 ribu per orang.
“Biasanya malam Minggu lebih ramai. Apalagi nanti saat final, dipastikan penonton membludak karena beberapa tim dari luar kota biasanya membawa suporter,” kata warga Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo, yang bertugas sebagai pembaca acara pertandingan, Sadam Husein.
Seperti cabang olahraga lain, tarik tambang juga memiliki aturan main. Setiap peserta wajib menjalani pemeriksaan tubuh sebelum masuk arena. Ini untuk memastikan tidak ada peserta membawa senjata tajam atau alat bantu yang bisa membahayakan. Sebelum bertanding, setiap peserta ditimbang satu per satu di hadapan tim lawan untuk memastikan berat badan tidak lebih dari 65 kilogram.
“Kami juga memberikan briefing sebelum pertandingan agar semua peserta memahami tata tertib,” ujar Ketua Panitia, Adi Sapta.
Meski tidak ada standar resmi, panitia tetap membuat aturan jelas. Peserta dilarang memakai alat bantu seperti kayu, besi, atau sandal. “Kalau hanya kain yang dilakban di kaki, masih diperbolehkan. Bila ketahuan curang, langsung diskualifikasi,” tegas Sapta.
Penggunaan azimat tidak dilarang, karena dianggap bagian dari tradisi dan kepercayaan. Syaratnya, azimat tersebut tidak boleh berbentuk benda tajam, seperti keris. Karena dikhawatirkan akan membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Begitu pertandingan dimulai, sorak-sorai penonton langsung membahana. Para peserta tampak mengerahkan seluruh tenaga untuk menarik tambang. Pembawa acara terus memandu jalannya laga. Indikator berupa batang bambu di tengah tambang menjadi penentu tim mana yang unggul.
Setiap partai berlangsung selama 2 kali 5 menit dengan istirahat 5 menit. Jika skor imbang, diberikan tambahan waktu 3 menit. Jika masih seri, pemenang ditentukan dengan lempar koin. Dari 128 tim peserta, separonya akan tersisih di babak awal. Pertandingan kemudian berlanjut hingga 64 tim, lalu 32, 16, 8, hingga akhirnya mengerucut ke 4 tim terbaik.
Besarnya animo peserta tak lepas dari hadiah yang ditawarkan panitia. Untuk kategori bebas, juara I mendapat Rp 10 juta, juara II Rp 7 juta, juara III Rp 5 juta, dan juara IV Rp 3 juta. Sedangkan, kategori 65 kilogram, juara I mendapat Rp 6 juta, juara II Rp 4 juta, juara III Rp 3 juta, dan juara IV Rp 2 juta.
Dari sisi keamanan, panitia bekerja sama dengan Polsek dan Koramil Mayangan. Disiapkan juga lokasi parkir dengan tarif Rp 2 ribu per kendaraan. Pemilik kendaraan akan diberi karcis bertuliskan nomor polisi motor masing-masing sebagai bukti sah. “Ini sebagai antisipasi bila terjadi kehilangan kendaraan,” terang Sapta.
Tidak hanya itu, aturan ketat juga diberlakukan. Seluruh peserta dan penonton dilarang melakukan perjudian, mengonsumsi minuman keras, narkoba, maupun tindakan kekerasan. “Kami ingin event ini benar-benar menjadi hiburan sehat,” ujar penasihat perlombaan, Rudi Purwanto.
Rudi mengatakan, jika penyelenggaraan tahun ini sukses, maka Joboan Cup akan dijadikan agenda tahunan. “Nanti juga akan kami koordinasikan dengan KORMI (Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia). Harapannya, olahraga tradisional ini semakin dikenal dan tetap lestari,” katanya. (gus/rud)
Tak Lupa Latihan, Pijat-Jamu
DALAM setiap ronde tarik tambang, semua tim tentu berharap bisa keluar sebagai juara. Namun, kemenangan tidak datang begitu saja. Di balik sorak-sorai penonton dan tegangnya pertandingan, setiap tim memiliki cara dan resep tersendiri untuk mempersiapkan diri agar bisa meraih hasil terbaik.
Seperti dilakukan Tim Pancoran Emas asal Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo. Official Tim, Fauzan mengatakan, persiapan dilakukan sejak sebulan sebelum pertandingan. “Kami latihan tiga kali dalam seminggu. Selain itu, tim ini memang sudah terbentuk sejak tiga tahun lalu dan sering bertanding ke luar daerah, termasuk ke Pasuruan,” ungkapnya.
Latihan yang dijalani tidak main-main. Setiap anggota Tim Pancoran Emas, membiasakan diri menarik batu seberat 6 kuintal sebagai pengganti beban tambang. Selain itu, mereka juga menjaga stamina dengan mengonsumsi jamu tradisional berbahan telur dan madu. “Sebelum dan sesudah bertanding, kami juga melakukan pijat untuk menjaga kondisi tubuh,” tambah Fauzan.
Hal serupa dilakukan Tim Asapok Mardeh dari Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo. Salah satu pesertanya, Anan Hosnanto mengatakan, timnya juga sudah terbentuk sejak tiga tahun lalu dan memiliki rekam jejak cukup mentereng. Mereka pernah beberapa kali menjuarai perlombaan di luar daerah, termasuk di Kabupaten Lumajang.
Untuk menjaga kekuatan fisik, Tim Asapok Mardeh berlatih rutin dua kali dalam seminggu. Caranya unik, menarik batu raksasa seberat 2 ton. Tak hanya itu, sebagian besar anggota tim berprofesi sebagai kuli bangunan. “Sehari-hari mereka sudah terbiasa mengangkat beban berat, jadi secara tidak langsung itu juga menjadi latihan,” terang Anan.
Selain latihan fisik, ada juga ritual khusus sebelum bertanding. Tim ini selalu mengonsumsi jamu racikan dari kunyit dan telur, pijat untuk melenturkan otot, serta tak lupa berdoa bersama. “Azimat kami berupa doa-doa. Tapi, di sini kami hanya memohon keselamatan dan kekuatan,” ujarnya.
Dengan kombinasi antara latihan keras, asupan tradisional, serta doa, para peserta menunjukkan bahwa tarik tambang bukan sekadar adu otot. Lebih dari itu, ada kerja keras, disiplin, dan kekompakan yang menjadi kunci kemenangan. (gus/rud)
Dorong Olahraga Tradisional Masuk Inorga
TARIK tambang sejatinya dapat bernaung di bawah Induk Organisasi (Inorga) Persatuan Olahraga Tradisional Indonesia (PORTINA). Portina menaungi beragam olahraga tradisional. Mulai egrang, ketapel, gobak sodor, hingga tarik tambang. Sayang, di Kota Probolinggo, Inorga belum terbentuk.
Sekretaris KORMI Kota Probolinggo Christianto Suryo mengatakan, KORMI Kota Probolinggo baru berdiri pada Juni 2025. Sejauh ini, sudah ada sejumlah Inorga di bawah naungan KORMI. Di antaranya, Persatuan Panahan Tradisional Indonesia (PERPATRI), Federasi Seni Panahan Tradisional Indonesia (FESPATI), Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI), dan Perkumpulan Pelayang Indonesia (PELANGI).
Ada juga Indonesia eSports Association (IESPA), Barisan Atlet Veteran Tenis Indonesia (BAVETI), Senam Tera Indonesia (STI), The Universal Line Dance (d’ULD), Asosiasi Instruktur Aerobik dan Fitnes Indonesia (ASIAFI), Federasi Breaking Seluruh Indonesia (FBSI), serta Senam Ling Tien Kung.
“KORMI memiliki tujuan utama mempromosikan, mengembangkan, sekaligus meningkatkan olahraga masyarakat. Baik secara kompetitif maupun rekreasi. Harapannya, olahraga bisa membentuk kesehatan dan kebugaran masyarakat, melahirkan bakat, hingga mengadakan event berskala nasional,” jelas Christianto.
Untuk mewujudkannya, KORMI menggandeng Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Dispopar) Kota Probolinggo. September mendatang, mereka berencana menggelar event khusus yang menyasar siswa sekolah dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dalam kegiatan itu, sejumlah olahraga tradisional akan dipertandingkan.
“Harapan kami, olahraga tradisional ini bisa masuk ke ekstrakurikuler sekolah. Dengan begitu, pegiatnya muncul sejak dini dan ada pembinaan berkelanjutan. Bahkan, ke depan kami mendorong terbentuknya organisasi resmi untuk olahraga-olahraga tradisional ini,” ujarnya.
Christianto tak menampik, bahwa melestarikan olahraga tradisional bukan perkara mudah. Di tengah gempuran modernisasi, olahraga semacam ini kian terpinggirkan. Karena itu, diperlukan upaya serius agar tidak punah. “Kami ingin membuat event dengan hadiah menarik, juga menyasar sekolah-sekolah dan kelompok masyarakat agar olahraga tradisional tetap hidup,” ungkapnya.
Ia menambahkan, masih banyak masyarakat yang belum menyadari manfaat bergabung dengan organisasi olahraga di bawah KORMI. “Kadang muncul ungkapan, untuk apa ikut organisasi, apa untungnya? Dengan menjadi anggota KORMI, mereka bisa mendapat pembinaan dari pelatih kredibel, kesempatan memperoleh dana hibah pemerintah, hingga peluang bertanding di luar kota bahkan luar negeri,” jelasnya.
Menurutnya, Kota Probolinggo memiliki potensi besar untuk menjadi tuan rumah ajang olahraga tradisional. Baik tingkat regional maupun nasional. Banyaknya venue yang di kota ini yang layak untuk dimanfaatkan. “Khusus olahraga tradisional, kami yakin Probolinggo punya modal untuk menjadi tuan rumah ke depannya,” ujarnya. (gus/rud)
Editor : Ronald Fernando