PROBOLINGGO, Radar Bromo - Balai Desa Jetak, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, tampak riuh pada Sabtu (9/8) siang.
Ratusan warga berpakaian adat Tengger berkumpul, merayakan pembukaan Hari Raya Karo 2025.
Suasana penuh warna dan semangat ini menjadi penanda dimulainya rangkaian perayaan adat yang berlangsung selama tujuh hari.
Salah satu warga, Kermat menjelaskan bahwa persiapan telah dilakukan sejak awal memasuki bulan Karo.
“Setahun biasanya Karo dirayakan sekali, waktunya ditentukan berdasarkan perhitungan adat. Seminggu lalu kami sudah memulai beberapa upacara, tapi pembukaan resminya baru hari ini (9/8). Ada Tari Sodoran, Tumpeng Gedhe dan Sesanding,” ujarnya.
Menurut Kermat, selama tujuh hari ke depan masyarakat akan saling berkunjung ke rumah warga lainnya tanpa memandang agama.
“Kalau muslim mau berkunjung ke rumah nonmuslim juga boleh, nanti diberi makanan dan kue seperti Idul Fitri. Sebaliknya, saat Idul Fitri, warga nonmuslim datang ke rumah muslim. Beginilah bentuk toleransi kami di sini,” tambahnya.
Kermat menuturkan, Hari Raya Karo memiliki makna filosofis tersendiri. Kata karo berarti ‘berdua’, melambangkan kesatuan antara laki-laki dan perempuan.
Tradisi ini juga diiringi peran simbolis dari kepala desa. Tahun ini, pengantin lelaki berasal dari Kades Ngadisari, pengantin perempuan dari Kades Jetak, dan Kades Wonotoro bertindak sebagai wali.
“Tahun depan, perannya dirolling. Kades Ngadisari akan menjadi pengantin perempuannya,” jelasnya.
Kepala Desa Jetak, Ngantoro yang bertugas sebagai Ki Petinggi dalam perayaan kali ini, menambahkan bahwa Tari Sodoran menjadi salah satu pertunjukan utama di pembukaan.
“Tari ini melambangkan asal-usul manusia dari lahir hingga tua, yang berawal dari laki-laki dan perempuan,” jelasnya.
Perayaan ini juga menjadi pengalaman baru bagi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang sedang bertugas di Kecamatan Sukapura. Naoryn Harbima Rahmawati (20), mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang asal Kota Batu, mengaku terkesan.
“Awalnya saya kira di Tengger hanya ada upacara Kasada, ternyata ada Karo dan tradisi lainnya. Ini menambah wawasan kami,” ungkapnya.
Bagi warga seperti Madina. 46, Hari Raya Karo selalu identik dengan tarian Sodoran dan makan bersama.
Para kaum ibu biasanya membawa nasi, lauk, buah, dan kue dari rumah untuk dinikmati secara gotong-royong.
“Kami berdoa semoga warga selalu sehat, tanah subur, dan dijauhkan dari malapetaka,” harapnya.
Bupati Probolinggo, dr. Mohammad Haris yang turut hadir menegaskan pentingnya pelestarian tradisi ini.
“Bromo bukan sekadar gunung, tetapi rumah bagi adat, budaya, dan masyarakatnya. Harapan kami, selain dikenal sebagai destinasi wisata alam, Bromo juga dikenal melalui kekayaan budaya tradisinya,” pungkasnya. (gus/fun)
Editor : Abdul Wahid