PROBOLINGGO, Radar Bromo- Rumah Sakit Dharma Husada (RSDH) di Kota Probolinggo kini memulai “hidup baru.” Kepemilikan dan manajemennya berganti. Berbagai langkah pembenahan mulai dilakukan demi meningkatkan kualitas layanannya.
Sebelumnya, rumah sakit di Jalan Soekarno Hatta, ini dikelola PT Dharma Husada Hafis. Kini, kepemilikannya beralih ke PT Disa Prima Prima milik pasangan suami-istri (pasutri) dr. Sadi Hariono dan Endang Sadi.
Di rumah sakit ini, Endang menjabat sebagai direktur utama. Sementara, suaminya menjabat sebagai komisaris.
“Untuk saat ini, kami mengelola dua rumah sakit lainnya, yaitu RS Prima Husada di Malang dan Sukorejo (Kabupaten Pasuruan). Kami juga merencanakan pembangunan rumah sakit baru di Wonorejo. Namun karena saat ini masih fokus membenahi Dharma Husada, maka rencana tersebut kami tunda sementara,” jelas Endang, Kamis (7/8).
Endang menceritakan bahwa pembelian RSDH semula tidak masuk dalam rencana mereka.
Selama ini, pihaknya lebih memilih membangun rumah sakit baru dibandingkan mengambil alih yang sudah ada.
Namun, karena kedekatan hubungan keluarga dengan pendiri rumah sakit lama, pihaknya akhirnya memutuskan untuk melakukan akuisisi.
“Kami kenal baik dengan keluarga pendiri RSDH, almarhumah Ibu Luluk, dan juga mantan direktur rumah sakit, Bapak Haji Husain Salim Kuddah,” kenang Endang.
“Mereka dulunya tetangga kami di Malang. Karena hubungan emosional itu, kami tergerak untuk mengambil alih saat mendapat kabar bahwa rumah sakit dalam kesulitan menjelang Lebaran 2024,” ungkapnya.
Namun, proses pengambilalihan tidak berjalan mudah. Endang menegaskan bahwa salah satu syarat utama dalam proses pembelian adalah kejelasan status perizinan rumah sakit. Pasalnya, izin operasional RSDH akan habis pada Februari 2026.
“Saat kami mengambil alih, kondisi fisik dan sumber daya manusia belum memenuhi standar, bahkan kerja sama dengan BPJS juga sudah terputus. Maka kami harus berjuang agar izin rumah sakit ini bisa diperpanjang,” ujarnya.
Menurut Endang, proses akuisisi ini jauh lebih kompleks dibandingkan pembelian properti biasa. Sebab, melibatkan struktur perusahaan, modal, dan legalitas yang rumit.
Ia sempat mendapat saran dari keluarganya untuk mundur, namun ia tetap yakin dan melanjutkan proses akuisisi.
“Saya tidak pakai logika, tapi hati. Meskipun banyak tantangan, saya yakin Allah akan memberi jalan,” katanya.
Tantangan juga datang dari sisi fasilitas dan infrastruktur. Untuk memenuhi standar pelayanan kesehatan dan membuka kembali kerja sama dengan BPJS, seluruh peralatan rumah sakit diganti dengan yang baru, termasuk tempat tidur pasien.
“Jajaran direksi kami ganti seluruhnya. Kepemilikan saham juga 100 persen sudah kami kuasai,” tegas Endang.
Terkait tenaga kerja, pihak manajemen baru semula berencana mengganti seluruh SDM lama.
Namun, akhirnya mereka tetap memberikan kesempatan dengan mempertahankan sekitar 15 persen tenaga kerja lama yang masih dievaluasi kinerjanya.
“Kalau mereka bisa menyesuaikan dengan standar kerja kami, akan kami pertahankan. Jika tidak, dengan berat hati kami tidak bisa lanjutkan,” katanya.
“Kami butuh SDM yang bisa mendukung visi menjadi rumah sakit berkualitas prima dan pilihan seluruh lapisan masyarakat,” imbuhnya.
RSDH kini juga menghadirkan layanan spesialis baru seperti bedah saraf, THT, dan spesialis kulit yang sebelumnya belum tersedia.
Renovasi gedung dilakukan bertahap tanpa menghentikan layanan. Lantai 1 dan 2 berhasil diselesaikan dalam waktu dua bulan sejak 22 Mei hingga 22 Juli 2025.
“Lantai 3 masih dalam pengerjaan, ditargetkan selesai akhir tahun ini. Setelah itu kami akan mulai pembangunan sisi yang menghadap Jalan Panjaitan agar menjadi akses utama rumah sakit. Nantinya, RS ini bisa diakses dari Jalan Panjaitan, Mawar, dan Soekarno-Hatta,” terang Endang.
Perubahan fungsi ruang juga dilakukan. Lantai 1 yang dulu digunakan untuk rawat inap kini menjadi layanan rawat jalan.
Lantai 2 dijadikan ruang rawat inap. Sementara lantai 3 yang sebelumnya gudang akan dijadikan ruang VVIP dan ICU.
“Bahkan apotek di sisi Panjaitan juga akan kami kembangkan menjadi gedung lima lantai yang bisa menambah kapasitas rawat inap serta fasilitas lain seperti aula serbaguna,” tambahnya.
Dengan berbagai pembenahan tersebut, kerja sama dengan BPJS kini sudah kembali berjalan, meski status rumah sakit masih berada di kelas D.
“Target kami ke depan adalah naik ke kelas C. Kami berkomitmen untuk menjadikan rumah sakit ini berkualitas dan mampu memberikan pelayanan maksimal bagi masyarakat,” pungkas Endang. (gus/rud)
Editor : Ronald Fernando