MAYANGAN, Radar Bromo-Rencana Pemkot Probolinggo memindahkan car free day (CFD) atau Pasar Minggu ke Jalan Suroyo, menuai protes. Mulai dari PKL hingga Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).
PKL menilai pemkot tidak konsisten. Sementara FKUB meminta kebijakan itu dikaji ulang.
Sebab, di Jalan Suroyo ada tiga tempat ibadah (gereja) yang jemaahnya beribadah saat Minggu pagi. Bersamaan dengan CFD.
Ketua Asosisasi PKL Kota Probolinggo (APK5) Muhammad Marsyam mengatakan, pemkot tidak konsisten dan tidak komitmen dengan kebijakan yang disampaikan terkait Pasar Minggu.
Saat revitaliasi alun-alun Kota Probolinggo mulai disosialisasikan, pemkot berencana memindah Pasar Minggu ke Stadion Bayuangga.
”Saya waktu itu memberikan alternatif di jalan depan TWSL karena lebih leluasa dan tidak mengganggu arus lalu lintas,” katanya.
Kemudian dikatakan Marsyam, pekan lalu ada pertemuan antara PKL dengan DKUP membahas tentang Pasar Minggu.
Dari pertemuan itu, diputuskan Pasar Minggu akan dipindah ke sepanjang Jalan dr. Soetomo.
Namun ternyata, informasi terbaru menyebutkan bahwa Pasar Minggu akan dipindah ke Jalan Suroyo.
”Pemkot tidak komitmen dan tidak konsisten. Harusnya, sebelum kebijakan itu pasti dan final, jangan menyampaikan informasi apa pun dulu. Awalnya di stadion, kemudian pindah ke Jalan dr. Soetomo. Eh, berubah lagi pindah ke Jalan Suroyo,” terangnya.
Sementara itu, FKUB Kota Probolinggo meminta agar pemkot mengkaji ulang rencana memindah Pasar Minggu ke Jalan Suroyo.
Ketua FKUB Kota Probolinggo Ahmad Hudri memahami, rencana itu merupakan bagian dari penataan Alun-Alun Kota Probolinggo.
Namun, harus digarisbawahi bahwa di Jalan Suroyo ada kegiatan ibadah tiga gereja. Antara lain, Gereja Katolik, Gereja Toraja Kristen (GTK), dan Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB).
Karena itu, menurutnya, penting untuk mengomunikasikan secara detail rencana itu agar tidak menimbulkan konflik kepentingan.
Sebab, Pasar Minggu digelar pada Minggu pagi. Sementara aktivitas jemaah tiga gereja itu kebanyakan juga dilakukan Minggu pagi.
”Penting ada langkah teknis maupun nonteknis agar kegiatan keagamaan dan aktivitas pasar dapat berjalan harmonis tanpa saling mengganggu,” ungkapnya. (mas/hn)
Editor : Muhammad Fahmi