DRINGU, Radar Bromo-Kesedihan mendalam dirasakan Winarti, 56. Untuk kedua kalinya ia kehilangan anak kandungnya karena insiden kecelakaan maut.
“Bayu… Bayu… Jangan tinggalkan Ibu, Nak. Anakku semua kok ninggalin Ibu….”
Kalimat itu keluar dari lisan seorang perempuan paro baya, Winarti, 56.
Sambil bersimpuh di depan ruang jenazah, ia tak kuasa menahan kesedihan mendalam setelah putra bungsunya, Bayu Adi Saputra, meninggal dalam kecelakaan lalu lintas.
Suasana duka menyelimuti kamar jenazah RSUD dr. Mohamad Saleh, Kota Probolinggo, Selasa (15/7).
Tangis histeris pecah saat keluarga Bayu, datang menjemput jenazahnya yang baru saja selesai divisum. Saat itu, jenazah korban masih dibalut seragam olahraga.
Sejumlah guru dan teman sekolahnya juga tampak hadir. Mereka berusaha menenangkan keluarga yang terpukul berat atas kepergian mendadak anggota keluarganya.
Salah satu teman kelas korban, Nikita, 16, mengaku masih tak percaya Bayu telah pergi untuk selamanya.
Ia terakhir kali bertemu dan berbincang dengan korban di sekolah, sebelum pelajaran selesai lebih awal sekitar pukul 13.00.
“Tadi dia masih sempat ngobrol sama saya. Bahkan, sempat minta minum,” kenang Niki dengan mata sembab.
Ia mengetahui kabar kecelakaan korban ketika tengah nongkrong sepulang sekolah di kawasan Alun-Alun Kota Probolinggo.
Seorang pria mendekatinya dan memberi tahu seorang siswa dari SMAN 1 Dringu mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.
“Saya langsung kaget. Terus buru-buru mengecek ke rumah sakit. Tidak lama kemudian informasi itu ramai juga di grup sekolah,” ungkapnya.
Koordinator Kamar Jenazah RSUD dr. Mohamad Saleh Kota Probolinggo Nur Wasis mengatakan, korban mengalami sejumlah luka akibat kecelakaan.
Rahangnya patah, begitu juga dengan bahu, lengan kanan, rusuk kiri, dan paha kiri. Lutut kanan dan siku kanan juga lecet.
“Yang paling fatal adalah benturan di bagian kepala belakang,” ujarnya.
Kepala Dusun Karangdalem, Misnaji, 52, mengatakan, jenazah korban dimakamkan di pemakaman umum Desa/Kecamatan Dringu, Selasa (15/7), sekitar pukul 16.30.
Pemakaman didatangi keluarga, kerabat dan teman-teman sekolah Bayu. Bayu pun diistirahatkan di samping makam kakak kandungnya.
“Bayu anak bungsu dari tiga bersaudara. Semuanya laki-laki. Kakaknya yang nomor dua juga meninggal karena kecelakaan. Masih belum genap seribu harinya,” ujar Misnaji. (gus/rud)
Editor : Muhammad Fahmi