DESA Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, terus berbenah dan berinovasi demi meningkatkan kesejahteraan warganya. Terutama dalam meningkatkan perekonomian warganya. Salah satunya dengan memaksimalkan potensi desa dalam bidang pertanian kopi.
Dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 1.030 kepala keluarga, mayoritas warga Desa Sapikerep berprofesi sebagai petani. Potensi ini terus dikembangkan dalam program unggulan bertajuk Desa Tematik Kopi.
Desa Sapikerep terdiri atas tiga dusun. Meliputi Dusun 1, Dusun 2, dan Dusun 3. Program tematik ini difokuskan di Dusun 1 dan Dusun 3 yang memiliki lahan kebun kopi cukup luas. Total mencapai sekitar 50 hektare. Jenis kopi yang dibudidayakan berupa kopi arabika. Varietas unggulan yang dikenal memiliki cita rasa khas dan bernilai jual tinggi.
Kepala Desa Sapikerep Suwandi mengatakan, masa panen kopi di wilayah ini bervariasi. Tergantung ketinggian dan kondisi geografis kebun. “Biasanya 4 bulan sudah bisa dipanen, tapi ada juga yang sampai 5 bulan. Dipengaruhi letak ketinggian kebun kopi,” ujarnya.
Meski program desa tematik ini tergolong baru, namun warga Desa Sapikerep sejatinya sudah lama akrab dengan dunia kopi. Kini, melalui pendekatan yang lebih terarah dan terorganisasi, potensi tersebut diangkat menjadi kekuatan ekonomi desa.
Pertanian kopi di Desa Sapikerep, juga telah dilengkapi berbagai fasilitas dan peralatan pengolahan modern. Seperti mesin penggilingan, mesin pengupas kulit kopi, dan alat roasting. Fasilitas ini dikelola kelompok tani yang tersebar di dua dusun tersebut, sehingga proses produksi kopi dapat berjalan lebih efisien dan produknya berkualitas lebih baik.
Hasil panen kopi tidak hanya dipasarkan secara umum di pasar-pasar tradisional. Tetapi, juga masuk sektor pariwisata dan perhotelan. Sejumlah hotel dan restoran di kawasan wisata Gunung Bromo mulai memasarkan kopi khas Desa Sapikerep.
“Kami berharap, dengan adanya program desa tematik ini, masyarakat bisa meningkatkan taraf ekonomi secara mandiri dan terbiasa membudidayakan kopi secara berkelanjutan. Ke depan, kami juga ingin agar desa bisa mendapatkan Pendapatan Asli Desa (PADes) dari sektor ini,” ujar Suwandi.
Melalui program ini, Desa Sapikerep tidak hanya fokus terhadap pertanian. Namun, juga mengintegrasikannya dengan sektor ekonomi kreatif dan pariwisata sebagai bagian dari upaya mewujudkan desa mandiri dan berdaya saing.
Bangun Jembatan dan Lestarikan Budaya
Pemerintah Desa Sapikerep terus berupaya membangun infrastruktur guna menunjang mobilitas warga dan mendorong pertumbuhan ekonomi warga. Salah satu program prioritas yang tengah digarap adalah pembangunan jembatan antardusun.
Pada tahap pertama ada pembangunan jembatan di Dusun 1. Pada tahap kedua, giliran jembatan di Dusun 3. “Jembatan ini sangat penting untuk kelancaran akses masyarakat. Terutama bagi mereka yang berkegiatan ekonomi dan sosial di desa,” ujar Kepala Desa Sapikerep Suwandi.
Jembatan di Dusun 1, panjangnya 6 meter dan kini masih terus digarap. Sebelumnya, jembatan ini rusak tergerus air hujan. Kini, diperkuat dengan fondasi baru yang lebih kokoh dan dilebarkan. “Kami benahi fondasinya dan kami lebarkan sedikit agar lebih aman,” jelas Suwandi.
Selain infrastruktur, Pemerintah Sapikerep juga berkomitmen menjaga dan melestarikan warisan budaya yang telah mengakar di tengah masyarakat. Di tengah geliat pembangunan, nilai-nilai budaya tetap dijunjung tinggi. Seperti keterlibatan warga dalam perayaan adat dan keagamaan yang rutin digelar.
Warga turut berpartisipasi dalam perayaan Kasada, Galungan, Kuningan, hingga Upacara Karo yang menjadi bagian dari tradisi turun-temurun masyarakat Tengger. Tahun ini, Upacara Karo akan digelar pada Agustus.
Kegiatan sakral tersebut akan berlangsung tujuh hari. Dimulai dengan kegiatan anjangsana, di mana warga membuka rumah untuk menyambut keluarga dan sanak saudara dari berbagai penjuru. “Mirip seperti suasana Lebaran, warga saling berkunjung ke rumah kerabat. Suasana sangat hangat dan penuh kekeluargaan,” jelas Suwandi.
Puncak acara Karo, yang dikenal dengan sebutan Nyadran, dilakukan dengan mengunjungi tiga Punden Danyang. Yakni, tempat keramat yang diyakini sebagai pelindung desa. Usai ziarah, masyarakat berkumpul di balai desa dengan membawa tumpeng berisi aneka makanan. Seperti nasi, lauk pauk, jajanan tradisional, dan pisang.
Di balai desa, tumpeng-tumpeng itu kemudian didoakan atau dimantrai, sebagai wujud syukur atas rezeki dan perlindungan yang diberikan Sang Pencipta. Setelah itu, makanan dibagikan secara merata kepada seluruh hadirin. Perayaan akan diwarnai penampilan seni budaya lokal, seperti Tayub dan Ojung.
Genjot Layanan Kesehatan dan Pendidikan
Komitmen dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat juga terus diciptakan Pemerintah Desa Sapikerep. Tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur dan ekonomi, pemerintah desa juga serius mengembangkan layanan kesehatan dan pendidikan sebagai pilar utama pembangunan manusia.
Di bidang kesehatan, Pemerintah Desa Sapikerep rutin menggelar Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) setiap bulan di seluruh dusun. Posyandu ILP ini menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan dasar bagi warga dari berbagai kelompok usia. Mulai dari remaja, ibu hamil, balita, hingga warga lanjut usia (lansia).
Kepala Desa Sapikerep Suwandi mengatakan, layanan Posyandu tidak sekadar penimbangan dan imunisasi. Namun, juga menyentuh aspek edukatif dan preventif.
“Untuk remaja, kami rutin memberikan sosialisasi dan edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan persiapan perkawinan. Sedangkan, untuk ibu hamil dan balita, layanan yang diberikan berupa imunisasi, pemeriksaan kehamilan, serta edukasi gizi dan tumbuh kembang,” jelasnya.
Warga lansia mendapatkan pemeriksaan kesehatan rutin, seperti gula darah, kolesterol, dan asam urat. Jika ditemukan kondisi yang memerlukan penanganan lebih lanjut, warga akan dirujuk ke Puskesmas Sukapura atau rumah sakit terdekat.
“Posyandu ILP ini sangat penting sebagai garda terdepan layanan kesehatan di desa. Kami ingin memastikan semua warga mendapatkan hak pelayanan kesehatan yang memadai,” katanya.
Tak hanya sektor kesehatan, Pemerintah Desa Sapikerep juga turut berperan dalam peningkatan akses pendidikan. Salah satu capaian penting yang baru saja terealisasi adalah berdirinya SMK Negeri Sukapura di Desa Sapikerep.
Sekolah ini diresmikan langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa didampingi Bupati Probolinggo Mohammad Haris, Sabtu (3/5). Kehadiran SMK ini, menjawab kebutuhan masyarakat akan pendidikan vokasional yang relevan dengan potensi lokal. Terutama di sektor tata boga dan perhotelan.
“Masyarakat sangat bersyukur dengan berdirinya SMK Negeri ini. Sekarang anak-anak kami tidak perlu sekolah jauh ke kota untuk mendapatkan pendidikan berkualitas,” ujar Suwandi. (gus/rud/*)
Editor : Ronald Fernando