Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Soal Laporan Pasangan LGBT Positif HIV, KPAD Kota Probolinggo Belum Dapat Laporan, Temukan LSL

Arif Mashudi • Kamis, 26 Juni 2025 | 11:00 WIB
Ilustrasi HIV
Ilustrasi HIV

KANIGARAN, Radar Bromo - Kasus munculnya puluhan pasangan terindikasi Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Kota Probolinggo, menjadi perhatian banyak pihak. Terlebih disebut-sebut mereka telah terjangkit HIV.

Namun, Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kota Probolinggo menyebut, berdasarkan data dan survei di lapangan, tidak menemukan adanya pasangan LGBT. Adanya lelaki yang suka seks dengan lelaki (LSL).

Hal itu disampaikan Ketua KPAD Kota Probolinggo Sukardi Mitho. Sukardi mengatakan, di Kota Probolinggo ada kasus fenomena LSL. Jumlahnya hampir 20 orang. Bukan 20 pasangan yang sudah menikah.

“Hasil data kami di lapangan, tidak ada pasangan (sampai menikah). Hanya ada kasus fenomena lelaki suka lelaki atau LSL. Tidak sampai terjadi pasangan menikah,” katanya, Rabu (25/6).

Sukardi mengaku juga tidak bisa memastikan LGBT yang disebut Anggota DPRD Kota Probolinggo Eko Purwanto sama dengan temuan teman KPAD.

Sebab, temuan KPAD berupa kelompok LSL. Mereka bukan waria. LSL ini memiliki istri dan anak. Hanya saja, memiliki masalah seks menyimpang, suka terhadap lelaki.

Namun, menurut Sukardi, dalam kehidupannya mereka sangat tertutup. Tidak mudah bagi orang luar untuk mengetahui, jika orang tersebut LSL atau memiliki kelainan seks menyimpang.

Sebab, sebagian LSL ini miliki istri dan anak. Ada juga yang masih remaja, berusia sekitar 20 tahun.

Mereka berasal dari berbagai kalangan. Tidak hanya kalangan kelas bawah, tapi juga kalangan kelas menengah. LSL ini merupakan penyakit atau kelaian seks menyimpang, bukan gaya hidup.

“Hasil survei tim KPAD di lapangan, kasus fenomena tersebut tidak sebanyak 20 pasang atau 40 orang di Kota Probolinggo. Kasus LSL di Kota Probolinggo, kami pastikan tidak sebanyak itu,” jelasnya.

Fenomena LSL, kata Sukardi, memang harus disikapi dengan serius. Sebab, risikonya besar. Mulai dari risiko sosial, dikucilkan, hingga terjangkit HIV. Karena itu, tidak mudah bagi mereka membuka diri kepada orang luar. Mereka semua miliki komunitas.

“Dari hampir 20 orang LSL itu, tidak semuanya positif HIV. Sebab, tidak semuanya bersedia untuk tes HIV. Tapi, beberapa orang LSL itu memang positif HIV,” terangnya.

Sebelumnya, Anggota DPRD Kota Probolinggo Eko Purwanto menyebutkan, di Kota Probolinggo terdeteksi ada 20 pasangan sejenis. Puluhan pasangan ini masih kalangan remaja. Bahkan, masih ada yang sekolah di tingkat SMP. Yang lebih mengagetkan, semuanya disebut terjangkit HIV. (mas/rud)

Editor : Ronald Fernando
#hiv #lgbt #lsl #probolinggo