SECARA bertahap, Pemerintah Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, terus berusaha mengembangkan potensi desa. Realisasinya bersamaan dengan program ketahanan pangan dan pembangunan infrastruktur desa.
Desa Ngadirejo merupakan wilayah desa penyangga Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Memiliki suhu dingin ketika malam dan pagi. Kondisi ini membuat wilayah desa cocok untuk berbagai tanaman. Baik sayuran maupun umbi-umbian.
Hasil bumi yang melimpah tersebut, tidak hanya dikonsumsi begitu saja. Ada yang diolah menjadi makanan atau kue, sehingga menjadi salah satu kekayaan kuliner desa.
Kepala Desa Ngadirejo Anang Budiono mengatakan, desa memiliki dua kue khas yang resepnya diperoleh secara turun temurun. Berupa kue semprit dan kue rambutan. Kue ini hanya dibuat ketika ada acara-acara tertentu. Disuguhkan kepada tamu sebagai wujud penghormatan. “Resepnya sudah turun temurun,” katanya.
Bahan bakunya berbeda. Kue semprit terbuat dari umbi-umbian khas desa. Masyarakat menyebutnya ganyong. Umbi ini hanya bisa tumbuh di suhu dingin. Ganyong ditumbuk menjadi tepung dan diproses menjadi kue semprit.
Sementara, kue rambutan terbuat dari tepung beras. Uniknya, kue ini dicetak menggunakan batok kelapa. Orisinalitas pembuatannya dipertahankan hingga saat ini.
Anang mengatakan, keunikan ini menjadi daya tarik bagi warga luar Desa Ngadirejo. Hal ini kemudian membuat pemerintah desa mencoba menggerakkan UMKM pembuatan kue tersebut. Kue ini dibuat oleh kader PKK dan warga yang terampil. Jika sebelumnya hanya untuk suguhan acara, kini bisa dipesan kapan saja.
“Dulu pernah dua kue khas itu kami ikut gelaran UMKM. Rupanya antusiasme warga tinggi. Banyak yang penasaran lalu mencoba. Setelah dimakan, tertarik untuk membeli,” jelasnya.
Meski menjadi potensi kuliner desa, pemerintah desa melalui kader PKK tidak lantas memproduksi masal. Sebab, resep dan cara pembuatannya masih tradisional, tidak ada campuran pengawet makanan. Karena itu, konsumen yang tertarik akan dibuatkan dengan sistem pesanan.
“Saat ini produksi masih terbatas ketika ada pesanan saja. Tetapi, setiap ada event kulineran atau ada kegiatan yang dihadiri banyak tamu, kue semprit dan rambutan selalu ada,” ujar Anang, memastikan.
Gelontor Rp 149 Juta untuk Penggemukan Sapi
Pemerintah Desa Ngadirejo juga akan merealisasikan program ketahanan pangan. Pemerintah desa benar-benar mempertimbangkan ketahanan pangan yang akan dijalankan. Kali ini dipilih penggemukan sapi.
Kepala Desa Ngadirejo Anang Budiono mengatakan, ketahanan pangan berbasis potensi desa akan lebih maksimal. Pertimbangan inilah yang kemudian dilakukan pemerintah desa. Penggemukan sapi dipilih karena pakan ternak di wilayah desa mudah didapatkan. Baik pakan berupa rerumputan atau dedaunan yang tumbuh liar. Warga juga banyak yang terbiasa memeliharanya. “BUMDes akan merangkul masyarakat dalam pengelolaannya,” katanya.
Program ketahanan pangan akan direalisasikan dengan suntikan anggaran Rp 149 juta. Targetnya dalam waktu setahun, bobot sapi sudah terpenuhi lalu sapi dijual. Sehingga, perputaran modal bisa dilakukan secara cepat. Selain menjaga ketahanan pangan, program ini diharapkan dapat memompa pendapatan asli desa (PADes).
“Anggaran yang sudah tersedia akan difokuskan untuk pengadaan sapi. Pengelolaannya dilakukan dengan sistem gaduh (bagi hasil) kepada kelompok tani,” ujarnya. (ar/rud/*)
Perhatikan Kesehatan, Siapkan Gedung Posyandu
Wilayah administrasi Desa Ngadirejo cukup luas. Berada di daerah dataran tinggi dan mayoritas wilayahnya berupa perkebunan dan tebing. Membuat jarak antardusun cukup jauh. Kondisi ini menjadi kendala dalam melakukan aktivitas. Termasuk dalam kegiatan Posyandu.
Sejauh ini, pemerintah desa belum memiliki tempat khusus kegiatan Posyandu. Selama ini pelaksanaannya menggunakan rumah warga atau balai desa. Karena itu, pemerintah desa berusaha membangun Gedung Posyandu.
“Desa belum memiliki Gedung Posyandu. Tahun ini akan kami bangun untuk mempermudah pelaksanaan Posyandu,” ujar Kepala Desa Ngadirejo Anang Budiono.
Gedung Posyandu akan dibangun di RT 5/RW 2, Dusun Krajan. Lokasinya dekat kantor desa. “Pelaksanaan pembangunan rencananya akan dilakukan saat sudah masuk musim kemarau. Jadi, bangunan mudah kering dan kokoh,” katanya.
Pemerintah desa rutin menggelar kegiatan Posyandu di setiap dusun. Di antaranya, di Dusun Krajan, Cemara Tiga, dan Dusun Mrati. Dengan jumlah sasaran 57 balita, 45 warga lanjut usia, dan 45 remaja.
Tumbuh kembang balita menjadi perhatian serius Pemerintah Desa Ngadirejo. Tak heran jika jumlah balita lebih banyak dibandingkan dengan lansia. Pasalnya, kesehatan balita lebih rentan, sehingga memerlukan adanya peran serta dari pemerintah desa.
Asupan gizinya juga diperhatikan. Setiap pelaksanaan Posyandu, bidan dan kader Posyandu menyiapkan makanan tambahan dengan menu bervariasi. Serta, dipastikan memenuhi kebutuhan gizi harian balita.
“Dengan adanya Gedung Posyandu, kami berharap kegiatan Posyandu bisa dilaksanakan terpusat di gedung tersebut. Tentunya juga berharap agar layanan Posyandu lebih maksimal,” ujarnya. (ar/rud/*)
Editor : Ronald Fernando