PEMERINTAH Desa Jetak, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, terus berusaha mengembangkan potensi desanya. Termasuk merealisasikan ketahanan pangan berbasis potensi pertanian.
Desa Jetak yang berada di dataran tinggi memberikan keuntungan tersendiri. Sektor pertanian, baik sayur mayur dan buah tumbuh subur. Salah satunya buah terong belanda yang menjadi buah khas desa setempat.
Dengan tinggi pohon rata-rata 2 meter, terong belanda sekilas berbentuk seperti sawo. Namun, ketika matang berwarna merah. Dengan rasa dominan asam, manis, dan segar. Bagi warga sekitar, buah ini sering dijumpai karena hampir setiap kebun milik warga ditanami. Sayang, mayoritas warga langsung mengonsumsi buah saat matang.
Pemerintah Desa Jetak menangkap adanya buah ini sebagai peluang bisnis. Melalui kader PKK, buah ini kemudian diolah menjadi selai dan sirup berbahan dasar buah terong belanda. “Terong belanda kaya vitamin. Kami olah agar lebih memiliki nilai ekonomi,” ujar Kepala Desa Jetak Ngantoro.
Secara umum, produk selai dan sirup berbahan dasar buah terong belanda ini sama dengan selai dan sirup pada umumnya. Dimulai dengan menyaring sari pati buah. Kemudian diproses dengan menambah bahan-bahan tertentu, sehingga rasanya lebih enak. Dengan produk ini, pecinta terong belanda memiliki makanan alternatif yang layak untuk dicoba.
Olahan ini mulai diproduksi sejak dua tahun lalu. Namun, hanya dilakukan ketika ada kegiatan tertentu. Atau, ketika ada pesanan. Mengantisipasi produk tidak habis di pasaran. Sebab, produknya masih alami tanpa ada pengawet. “Kami hanya menyetok sedikit, khawatir tidak habis,” bebernya.
Produk UMKM lainnya yang diproduksi kader PKK Desa Jetak adalah keripik elong. Bahannya juga berasal dari hasil kebun desa setempat. Berupa daun muda labu siam. Pembuatannya tergolong mudah.
Pertama, memilih daun yang akan diproses dan kemudian dicuci bersih. Lalu, mencampurkan daun dengan tepung yang sudah diberi bumbu. Setelah itu, digoreng. Makanan ini cocok dikonsumsi ketika berkumpul dengan keluarga atau saat nongkrong bersama teman.
“Produk olahan selai, sirup, dan keripik elong, masih kami pasarkan secara terbatas. Ke depan kami berencana memproduksi lebih banyak,” ujar Ngantoro.
Maksimalkan Program Ketahanan Pangan
Ketahanan Pangan berbasis potensi desa juga dilakukan oleh Pemerintah Desa Jetak. Tanah desa yang subur untuk ditanami sayuran, membuat pemerintah desa berencana mewujudkan ketahanan pangan nabati. Ketahanan pangan ini direalisasikan dengan melakukan penanaman sayuran potensi desa.
Kepala Desa Jetak Ngantoro mengatakan, wilayah desa sangat cocok ditanami bawang prei dan kentang. Hampir 90 persen tanah kebun di desa ini ditanami dua jenis sayuran tersebut. Selain cocok dengan lingkungan sekitar, sayuran tersebut juga mudah untuk dipasarkan. “Kami sudah rencanakan ketahanan pangan pada nabati,” ujarnya.
Untuk merealisasikan rencana ketahanan pangan tersebut, pemerintah desa telah menganggarkan Rp 127 juta. Anggaran ini berada dalam penyertaan modal Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Suntikan modal ini akan digunakan untuk pengadaan bibit bawang prei dan kentang.
Anggaran juga akan digunakan untuk membeli pupuk yang dibutuhkan tanaman. Serta, pengadaan alat semprot yang digunakan pengelola selama pembesaran. Melalui program ini, diharapkan dapat memompa pendapatan asli desa (PADes). “Agar hasilnya baik dan sesuai harapan, bibit yang akan kami beli jenis unggulan. Jadi nilai jualnya juga lebih tinggi,” bebernya.
Selama proses penanaman, Ngantoro memastikan akan terus melakukan pembiaaan dan memantaunya. Tujuannya, untuk memastikan petani melakukan sesuai rencana. Memasuki masa panen, semuanya akan dievaluasi.
Jika menguntungkan dan bisa memompa PADes, program ini akan dilanjutkan. Jika tidak, akan dialihkan ke program ketahanan pangan lain yang lebih prospek. “Yang terpenting saat ini bagaimana caranya ketahanan pangan ini terealisasi dengan baik sesuai rencana,” ujarnya.
Bangun Jalan Agar Lebih Aman Dilintasi
Tak dapat dipungkiri, jalan menjadi kebutuhan infrastruktur utama bagi warga. Termasuk yang tinggal di dataran tinggi. Dengan kondisi jalan yang naik, turun, bahkan sebagian jalan berkelok, jalan yang nyaman dilintasi menjadi sarana wajib.
Karena itu, Pemerintah Desa Jetak berkomitmen mewujudkan jalan desa yang aman dan nyaman. Secara bertahap, setiap tahun sejumlah jalan dibangun. Menyesuaikan ketersediaan anggaran. Sejauh ini masih ada belasan ruas jalan, baik jalan penghubung antardesa dan dusun yang belum diperbaiki. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah desa.
“Anggaran terbatas. Masih ada jalan yang belum dibangun. Karena itu, kami bangun secara bergantian. Sesuai banyaknya pengguna jalan dan fungsinya,” ujar Kepala Desa Jetak Ngantoro.
Tahun ini ada sejumlah jalan yang akan dibangun. Di antaranya, merabat beton jalan sepanjang 100 meter di Dusun Krajan 2, Blok Kejalen dan sepanjang 200 meter di RT 1/RW 1, Dusun Krajan 1.
Pemerintah desa juga akan melebarkan jalan di Dusun Krajan 1, Blok Jangkar. Jalan sepanjang 800 meter ini akan digarap melalui program padat karya. Jalan setapak dengan lebar sekitar 70 sentimeter itu, akan dilebarkan menjadi 1,5 meter. Sehingga bisa dilintasi kendaraan bermotor. “Sudah kami ukur, tinggal pelaksanaannya saja,” terangnya.
Pemerintah desa juga akan membangun infrastruktur pelengkap berupa Tembok Penahan Tanah (TPT). Panjangnya 30 meter dan tinggi 4 meter di RT 6/RW 2, Dusun Krajan. Selain sebagai penguat bahu jalan, TPT juga berfungsi mencegah terjadinya bencana longsor.
Proyek lainnya yang juga akan dilaksanakan adalah membangun 3 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). “Pembangunan TPT dan RTLH juga sudah kami rencanakan. Dua bangunan ini memiliki fungsi masing-masing yang tentunya dibutuhkan oleh warga,” ujarnya. (ar/rud/*)
Editor : Ronald Fernando