Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Desa Ngadisari di Sukapura Probolinggo Perkuat Pangan Sektor Peternakan dan Pertanian

Achmad Arianto • Rabu, 18 Juni 2025 | 17:31 WIB
KUNJUNGAN: Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon saat berkunjung ke Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, beberapa waktu lalu.
KUNJUNGAN: Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon saat berkunjung ke Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, beberapa waktu lalu.

PENGGUNAAN anggaran yang tepat akan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat. Pemerintah Desa (Pemdes) Ngadisari, Kecamatan Sukapura, bertahap merealisasikan program ketahanan pangan dan pembangunan fisik secara seimbang.

Potensi desa menjadi salah satu pertimbangan Pemdes Ngadisari dalam mewujudkan ketahanan pangan. Wilayah geografis desa yang berupa dataran tinggi memiliki potensi yang cukup baik pada sektor peternakan dan pertanian. Karenanya, pemerintah desa terus memaksimalkan potensi yang ada untuk memompa PADes.

Kepala Desa Ngadisari Sunaryono mengatakan, pihaknya telah menganggarkan Rp 135 juta untuk merealisasikan ketahanan pangan.

Ratusan juta anggaran tersebut nantinya akan digunakan oleh desa untuk merealisasikan 2 program ketahanan pangan potensial yang diproyeksikan mampu meyumbang PADes.

“Kami sudah pertimbangan dan menganggarkan dana untuk ketahanan pangan. Peternakan dan pertanian di wilayah desa cukup potensial. Nah potensi ini akan kami maksimalkan,” katanya.

MENGABDI: Kepala Desa Ngadisari Sunaryono saat ditemui di ruang kerjanya.
MENGABDI: Kepala Desa Ngadisari Sunaryono saat ditemui di ruang kerjanya.

Ketahanan pangan pertama yang akan direalisasikan adalah penggemukan sapi. Unit usaha ini direalisasikan secara bertahap.

Pada tahun 2024 lalu pemerintah desa telah melakukan pengadaan sapi sebanyak 10 ekor. Kemudian, sapi tersebut dipelihara oleh warga dengan sistem bagi hasil (gaduan, Red). Penggemukan tersebut dilakukan sampai dengan sekarang.

Sementara pada tahun ini, pemerintah desa telah menganggarkan Rp 65 juta. Anggaran tersebut nantinya akan digunakan untuk membangun sebuah kandang komunal berukuran  5 x 15 meter di Dusun Cemara Lawang.

Kandang tersebut nantinya akan disekat menjadi 5 ruangan. Nantinya kandang akan ditempati oleh sapi yang sebelumnya telah dibeli.

“Sapi untuk penggemukan sudah ada. Sebelumnya, ada pada warga. Sapi tersebut akan kami tarik kemudian ditempatkan dalam satu kandang komunal,” terangnya.

Ketahanan pangan kedua yang akan direalisasikan adalah sektor pertanian. Pemerintah desa telah menganggarkan Rp 70 juta untuk merealisasikan ketahan pangan tersebut.

Anggaran yang dimiliki nanti akan digunakan untuk membeli bibit, pupuk, dan kebutuhan operasional lainnya yang dibutuhkan sektor pertanian.

Dalam pengelolaannya nanti pemerintah desa akan berkolaborasi dengan kelompok tani. Melakukan penanaman pada tanah milik desa hingga panen.

“Tanah di desa cukup subur, jadi sayang sekali jika tidak dimaksimalkan. Untuk pengelolaan ketahanan pangan melalui BUMDes. Sementara anggaran yang ada masuk dalam penyertaan modal,” terangnya.

 

Targetkan Jalan Desa Lebih Nyaman

Infrastruktur turut menjadi sasaran pembangunan Pemerintah Desa Ngadisari. Jalan yang nyaman menjadi harapan semua warga desa.

Pasalnya, jalan di wilayah dataran tinggi sangat penting. Bukan hanya sekadar memberikan kenyamanan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Jalan yang baik juga akan meningkatkan perekonomian dan meningkatkan keamanan warga desa saat melintas.

Kepala Desa Ngadisari Sunaryono mengatakan, pemerintah desa saat ini merencanakan pembangunan 2 ruas jalan. Di antaranya adalah jalan sepanjang 167 meter di RT 4/RW 3, Dusun Cemara Lawang dan jalan sepanjang 140 meter di RT 8/RW 2, Dusun Bonan.

SEGERA DIBANGUN: Ruas jalan Dusun Cemara Lawang telah diukur dan akan segera dibangun.
SEGERA DIBANGUN: Ruas jalan Dusun Cemara Lawang telah diukur dan akan segera dibangun.
KOKOH: Bangunan pendopo punden Desa Ngadisari yang sudah terbangun. Bangunan ini menjadi salah satu sasaran pembangunan fisik pemerintah desa.
KOKOH: Bangunan pendopo punden Desa Ngadisari yang sudah terbangun. Bangunan ini menjadi salah satu sasaran pembangunan fisik pemerintah desa.

Jalan tersebut memiliki 2 fungsi, mulai dari akses menuju puluhan hektare lahan pertanian.

Dengan potensi tanam kentang, kubis, cabai, selada, dan sayuran lainnya. Ruas jalan yang menjadi target pembangunan tersebut juga merupakan akses menuju permukiman warga di pelosok dusun.

“Jalan setiap tahun kami bangun bergantian sesuai dengan volume pengguna dan fungsi jalan. Jalan akan dibangun berkonstruksi rabat beton,” ucapnya.

Saat ini kondisi jalan masih berupa tanah. Oleh karena itulah, kerap dikeluhkan oleh warga.

Sebab, pada saat musim hujan ruas jalan begitu licin. Kondisi demikian membuat khawatir warga.

Terlebih lagi saat warga mengangkut hasil panen. Muatan kendaraan yang begitu berat dan kondisi jalan yang tidak nyaman begitu berbahaya. Jika pengemudi tidak berhati-hati, maka kendaraan yang digunakan dapat selip kemudian oleng.

“Saat ini, kondisi jalan masih berupa tanah. Perlu konstruksi yang kuat agar jalan yang sudah dibangun dapat bertahan lama,” katanya.

Selain infrastruktur, pemerintah desa juga berencana melakukan pembangunan lainnya. Seperti membangun pendopo punden di RT 4/RW 1, Dusun Wanasari dan RT 8/RW 2, Dusun Ngadisari.

Kemudian membangun fondasi candi di RT 2/RW 3, Dusun Cemara Lawang. Serta membangun fondasi TPT dan fondasi pagar makam di RT 1/RW 3, Dusun Cemara Lawang.

Sunaryono menjelaskan, pembangunan tersebut cukup penting karena memang dibutuhkan oleh warga desa. Anggaran yang dimiliki oleh pemerintah desa cukup terbatas, sehingga penyelesaian pembangunan dilakukan juga melibatkan masyarakat secara swadaya. Nantinya bangunan akan digunakan bersama-sama.

“Pembangunan pendapa punden, fondasi candi dan pagar makam tidak sepenuhnya dilakukan oleh desa. Warga secara bergotong royong melakukan pembangunan secara swadaya untuk kepentingan bersama,” tuturnya.

 

Ikut Imbau Wisatawan Bromo Tak Gunakan Motor Matik

Sebagai desa penyangga kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Desa Ngadisari turut memiliki tanggung jawab untuk melakukan pengawasan pengunjung ke Gunung Bromo.

Banyaknya insiden kecelakaan motor matik yang mengalami rem blong saat pulang berwisata.

BERBAHAYA: Sebuah papan imbauan terpasang di ruas jalan menuju Gunung Bromo di Desa Ngadisari. Larangan penggunaan motor matik turut menjadi atensi Pemerintah Desa
BERBAHAYA: Sebuah papan imbauan terpasang di ruas jalan menuju Gunung Bromo di Desa Ngadisari. Larangan penggunaan motor matik turut menjadi atensi Pemerintah Desa

Membuat Pemerintah Desa Ngadisari tergerak untuk melakukan pengawasan penggunaan motor matik.

Motor matik tidak cocok digunakan di jalur menuju Gunung Bromo. Pasalnya, medan yang ekstrem membutuhkan kendaraan dengan sistem pengereman dan pengendalian yang lebih stabil seperti yang ada pada motor manual.

Pemerintah desa tergerak untuk melakukan pengawasan sekaligus imbauan tidak menggunakan kendaraan motor matik dari dan menuju ke kawasan Gunung Bromo.

Sebab, berpotensi terjadi insiden kecelakaan lalu lintas pengguna motor matik. Bahkan sampai menyebabkan korban meninggal dunia.

“Banyak insiden motor matik remnya blong. Kecelakaan ini tidak hanya sekali atau dua kali. Parahnya lagi, korban sampai meninggal dunia. Untuk menekan insiden ini, kami lakukan pengawasan dan imbauan,” kata Kepala Desa Ngadisari Sunaryono.

Pengawasan tersebut dilakukan oleh pemerintah desa dengan menyiagakan perangkat desa di jalur pintu masuk di area Pendopo Agung, Desa Ngadisari. Nantinya pengunjung yang menggunakan motor matik akan diberhentikan oleh petugas.

Selanjutnya menyarankan pengunjung untuk menggunakan kendaraan yang lebih aman. Bisa dengan ojek motor, jip, atau Elf. Kendaraan ini bisa digunakan oleh pengunjung sebagai pengganti motor matik.

“Ada kendaraan yang bisa digunakan oleh pengunjung. Motor matik sementara diparkir di Pendopo Agung,” tuturnya.

Upaya yang dilakukan merupakan salah satu langkah preventif yang dilakukan oleh pemerintah desa untuk mengurangi risiko kecelakaan lalu lintas. Khususnya di jalur ekstrem Gunung Bromo yang memiliki tanjakan dan turunan curam.

Sunaryono menegaskan, bahwa kebijakan yang dilakukan bukan membatasi kunjungan wisata.

Tetapi bertujuan menjaga keselamatan pengendara dan menciptakan suasana wisata yang nyaman dan terkendali. Oleh karena itulah, edukasi kepada pengunjung terus dilakukan. Baik melalui spanduk sosialisasi maupun penyampaian langsung oleh petugas di lapangan.

“Ke depannya kami berharap ada regulasi yang jelas tentang larangan penggunaan motor matik. Sebab, jika hanya imbauan, tentu pelanggaran masih ada. Dan potensi kecelakaan lalu lintas akibat rem blong akan tetap jadi ancaman,” pungkasnya. (ar/fun/*)

 

Rencana Pembangunan Tahun 2025

Editor : Abdul Wahid
#kecamatan sukapura #transparansi desa #desa ngadisari