DRINGU, Radar Bromo- Cuaca yang tak menentu, cukup mempengaruhi sektor pertanian. Terutama bagi petani bawang merah di Kabupaten Probolinggo.
Biasanya petani bawang memiliki formula khusus untuk menghadapi musim hujan atau kemarau. Namun, dalam kondisi cuaca yang tidak menentu, mereka dilema.
Banyak petani yang mengurungkan niatnya menanam bawang merah ketika cuaca tak bersahabat. Risikonya besar. Mereka takut gagal panen, padahal sudah mengeluarkan biaya besar.
Seeprti petani bawang asal Desa Sekarkare, Kecamatan Dringu, Solihin, 40. Ia mengatakan, beberapa waktu lalu sawahnya kebanjiran. Padahal, sedang ditanami bawang merah yang kala itu baru berusia 30 hari. Beruntung masih bisa diperbaiki.
“Waktu Idul Adha, punya saya malah kebanjiran. Untung belum waktunya dipanen,” katanya.
Setelah kebanjiran, bawang merah miliknya layu. Biasanya diperbaiki dengan mengeringkan tanah dan diberi pupuk. Jika sudah terlanjur layu, kata Solihin, durasi panennya akan lebih lama. Jika biasanya hanya butuh 60 hari, akan sedikit lebih lama.
“Kemungkinan masih bisa diperbaiki, tapi waktu panenya molor,” ujarnya.
Menurutnya, banyak petani bawang lain yang kini enggan ambil risiko. Mereka memutuskan untuk menanam tanaman lain yang lebih minim risiko.
“Banyak yang beralih ke jagung sekarang. Petani takut karena biayanya mahal,” katanya. (ran/rud)
Stok Minim, Harga Melambung
BANYAKNYA petani bawang yang beralih ke pertanian lain berdampak terhadap stok bawang merah di pasaran. Stoknya makin minim. Jumat (13/6), di Pasar Bawang Dringu, hanya ada 20 ton.
Minimnya stok bawang ini membuat harganya melambung. Koordinator Pasar Bawang Dringu Sugiyono mengatakan, harga bawang merah mulai naik. Bulan lalu, Rabu (7/5), harga termahal bawang merah super Rp 35.000 per kilogram. Kini, naik sekitar Rp 12.000 per kilogram.
Bawang merah kecil yang awalnya hanya Rp 15.000-Rp 17.000 per kilogram, kini naik menjadi Rp 20.000-Rp 22.000 per kilogram.
Bawang tanggung kecil yang sebelumnya Rp 20.000-Rp 22.000 naik menjadi Rp 25.000-Rp 27.000 per kilogram. Bawang merah tanggung kini menjadi Rp 32.000-Rp 34.000 per kilogram dari sebelumnya Rp 24.000-Rp 26.000 per kilogram.
Harga bawang merah tanggung besar jauh lebih mahal. Sebelumnya, Rp 28.000-Rp 30.000 per kilogram, kini menjadi Rp 38.000-Rp 40.000 per kilogram. Bawang besar menjadi Rp 42.000-Rp 44.000 per kilogram dari sebelumnya Rp 31.000-Rp 33.000 per kilogram.
Harga bawang super awalna hanya Rp 35.000 per kilogram, kini dihargai Rp 47.000 per kilogram. “Sekarang sudah mulai naik harga bawang merah di Pasar Dringu,” katanya.
Kenaikan harga bawang merah ini juga sejalan dengan berkurangnya stok bawang merah. Meski harganya sedang naik, namun tak semua petani tergiur untuk menamnya.
Salah seorang petani bawang merah asal Desa Sekarkare, Kecamatan Dringu, Solihin, 40, mengatakan, jika harga bawang naik seperti ini sebetulnya menguntungkan petani. Namun, tidak semua petani mau menanamnya.
“Kalau harganya seperti ini terus, ya menguntungkan. Tapi, dengan risiko tinggi ini, petani masih ragu. Terlebih takutnya setelah panen malah turun harganya,” ujarnya. (ran/rud)
Editor : Ronald Fernando