Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ubur-ubur Serbu Laut Mayangan Probolinggo, Pengunjung Mengaku Tak Takut Berenang

Inneke Agustin • Minggu, 18 Mei 2025 | 16:25 WIB
BANYAK: Ubur-ubur yang menyerbu perairan Mayangan, Kota Probolinggo, Sabtu (17/5).
BANYAK: Ubur-ubur yang menyerbu perairan Mayangan, Kota Probolinggo, Sabtu (17/5).

PROBOLINGGO, Radar Bromo - Hampir sepekan ini perairan Mayangan, Kota Probolinggo, kedatangan ubur-ubur.

Hewan lunak tersebut tampak berenang mulai dari Pelabuhan Tanjung Tembaga hingga Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Mayangan, termasuk area wisata Kumkum.

Meski perairan diserbu ubur-ubur, pengunjung tak khawatir. Salah satunya adalah Abdullah Salim yang Sabtu (17/5) sore ditemui di wisata Kumkum Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Mayangan.

Meski kawasan perairan dihuni oleh ribuan ubur-ubur, ia tetap asyik berendam di pelabuhan.

“Tidak takut, tapi hanya geli saja ketika ditabrak ubur-ubur. Ya caranya dengan berenang agak jauh dari gerombolan mereka. Kan mereka berenangnya bergerombol ya,” ujar pria asal Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo ini.

Meski tertabrak, pria yang akrab dipanggil Salim mengaku tak merasa gatal. “Mungkin karena jenisnya berbeda ya. Ini yang putih polos,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan seorang pemancing asal Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo, Agus Ramadayanto.

Ia mengaku kedatangan ribuan ubur-ubur ini tak menyurutkan hobinya untuk memancing. Menurutnya, keberadaan ubur-ubur tak mempengaruhi hasil tangkapan.

“Saya rasa serangan ubur-ubur sudah sejak dulu ada. Tahun lalu juga ada dan hasil pancingan saya tidak terpengaruh. Antara ada atau tak ada ubur-ubur kalau lagi hoki ya dapat banyak. Tapi kalau belum rezeki ya tidak dapat,” katanya sambil tertawa.

Sementara itu, Bendahara SCB, Eddy Prasetyo mengatakan bahwa serbuan ubur-ubur ini telah berlangsung selama seminggu dan biasanya bertahan sebulan. Hanya saja tahun lalu ubur-ubur baru tampak pada bulan Juni, sementara tahun ini pada bulan Mei.

“Mungkin terpengaruh cuaca juga ya. Sebab kalau pagi itu biasanya banyak sekali, mungkin karena cuacanya dingin. Nanti kalau siang dan panas, itu ubur-uburnya pindah agak ke tengah. Sore hari kembali lagi ke pinggir,” terangnya.

Menurut Eddy, mayoritas ubur-ubur berwarna putih. “Ini jenis yang tidak gatal, tapi jangan diganggu juga. Biasanya kan ditepok-tepok, nah itu justru berbahaya. Kalau yang bikin gatal dan panas itu yang warna coklat dan ada seperti benangnya. Itu menyengat,” ujarnya.

Meski demikian hal ini tak membuat pengunjung di wisata Kumkum menurun. Jumlah wisatawan masih landai, rata-rata 600 orang per hari. “Jumlah itu meningkat pada hari weekend, bisa menyentuh 1000 orang. Masih sama seperti biasanya,” tutupnya. (gus/fun)

Editor : Abdul Wahid
#Mayangan #ubur-ubur #pantai