Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Aset TNBTS Banyak Rusak dan Hilang, Ini Penyebab Kemacetan dan Protes di Pos Tiket TNBTS

Inayah Maharani • Rabu, 7 Mei 2025 | 03:12 WIB
PROTES: Sejumlah pelaku usaha ketika melayangkan protes ke BB TNBT di Pos TNBTS di Cemorolawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Minggu (4/5).
PROTES: Sejumlah pelaku usaha ketika melayangkan protes ke BB TNBT di Pos TNBTS di Cemorolawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Minggu (4/5).

SUKAPURA, Radar Bromo- Aksi protes sejumlah pelaku usaha di Pos Tiket Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di Cemorolawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Minggu (4/5), menjadi perhatian serius. Balai Besar TNBS menyebut kondisi ini dipicu banyaknya pelaku wisata yang tak melakukan booking online.

Pernyataan itu disampaikan Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha. Dalam siaran persnya, ia menyebutkan  hari itu kemacetan disebabkan banyaknya pelaku usaha sopir jip yang tak melakukan booking online terlebih dahulu, sebelum masuk ke pos tiket.

Total ada 92 jip dari total rombongan 144 jip tidak melakukan booking. Akibatnya, mereka harus melakukan booking di tempat atau di pos tiket. Itulah yang mengakibatkan kemacetan.

“Saat itu, pada pukul 16.30, terdapat 144 jip dari beberapa kelompok tur. Namun, 92 jip belum melakukan booking online,” katanya.

Rudijanta mengatakan, bahwa hari itu pelayanan berjalan sesuai SOP. Pelayanan dibuka dari pukul 01.00, menurutnya kondusif dan relatif lancar hingga pukul 03.00. Ia membandingkan, jumlah pengunjung yang saat itu berjumlah 4.026 orang masih jauh lebih sedikit dibanding Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah, yang tembus 5.725 orang.

“Jika dibandingkan hari raya itu, jumlahnya kan lebih banyak ketika hari raya. Tapi dengan jumlah segitu, aman saja dan kondusif,” jelasnya.

Setelah terjadinya kemacetan, menurutnya, barulah tour leader, pengemudi jip, dan perwakilan agen mulai menyampaikan keluhan yang menurutnya tidak pantas. Seperti mengerumuni, mendorong, dan melontarkan kata kasar kepada petugas. Bahkan, ada oknum yang memperkeruh situasi.

Rudijanta mengatakan, massa aksi merusak beberapa aset milik TNBTS. Seperti laptop yang hancur, meja kerja patah, kunci, dan STNK mobil milik TNBTS yang diambil serta beberapa barang lain yang hancur.

Di sisi lain, Choirul Umam, 33, salah satu sopir jip wisatawan Bromo mengatakan, aksi protes yang dilakukan secara spontan oleh sejumlah pelaku usaha itu adalah puncak keresahan dari pelaku usaha selama ini.

“Itu kan dilakukan secara spontan. Karena sudah capek mungkin teman-teman akhirnya protes,” katanya.

Ia mengaku tak tutup mata dengan banyaknya sopir jip yang menurut TNBTS tidak patuh dan menjadi penyebab kemacetan. Namun, pihaknya tetap menginginkan adanya perubahan sistem yang lebih baik untuk masuk Bromo.

Atas segala yang terjadi, kata Umam, pihaknya masih sangat berharap TNBTS menemukan solusi atas permasalahan ini.

“Sistem itu kalau dilakukan di hari-hari sepi, ya tidak masalah. Kalau diberlakukan di longweekend, jelas akan tetap macet. Kami berharap TNBTS punya solusi atas masalah ini,” harapnya. (ran/rud)

Editor : Ronald Fernando
#bromo #tiket online #tnbts