KANIGARAN, Radar Bromo- Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah, telah menginjak hari ketujuh. Masyarakat Kota Probolinggo merayakannya dengan tradisi hari raya ketupat ataupun lontong. Tak ayal, penjualan ketupat dan lontong makin laris.
Salah seorang penjual ketupat dan lontong, Nur Laili, 37, mengatakan, permintaan ketupat dan lontong terus meningkat sejak hari H Lebaran hingga H+7 Lebaran. Setiap hari mampu menjual total 300 ketupat dan lontong.
Berbeda dengan hari-hari biasa, Laili hanya mampu menjual 30 ketupat dan lontong.
“Naik 10 kali lipat ketika momen Lebaran seperti ini. Sehari-hari masih ada yang beli untuk keperluan lamaran atau lainnya. Kalau ada momen Lebaran, pesanan naik. Setiap orang bisa membeli minimal 20 ketupat dengan harga Rp 4 ribu per ketupat,” ujar perempuan asal Kecamatan Kedopok ini.
Hal senada disampaikan Mai, 70, warga Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, yang berjualan selongsong ketupat di Pasar Gotong Royong, Kota Probolinggo.
“Kalau di luar momen Lebaran, jarang orang yang beli. Jadi, kadang tidak membuat. Saya produksinya hanya saat ada pesanan saja,” katanya.
Pada momen Lebaran seperti saat ini, Mai mampu menjual hingga 50 selonsong ketupat per hari. Per 10 selongsong dihargai Rp 7.000.
Pegiat sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo Edi Martono mengatakan, Lebaran Ketupat sangat erat kaitannya dengan Sunan Kalijaga. Masyarakat Jawa percaya Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan ketupat.
“Tradisi ini kemudian dijadikan saran untuk mengenalkan ajaran Islam. Yakni, mengenai rasa bersyukur, bersedekah, dan bersilaturahmi,” ujarnya. (gus/rud)
Editor : Ronald Fernando