SUASANA berbeda tampak di halaman Pojok Literasi, Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, Rabu (26/3) sore.
Puluhan anak kecil berbaris dengan antusias, menanti giliran menerima uang dalam tradisi Bi Bi Bi. Tradisi ini digelar setiap malam ke-27 Ramadan atau malem petolekoran.
Pegiat Sejarah Pojok Literasi Kota Probolinggo Edi Martono menjelaskan, Bi Bi Bi atau disebut juga Weh-Weh adalah tradisi berbagi yang tidak hanya dilakukan di Kota Probolinggo. Tetapi, juga di beberapa daerah lain seperti Jember.
Istilah Bi Bi Bi atau Weh-Weh bermakna memberi. Mencerminkan esensi dari tradisi ini berbagi kebahagiaan dengan sesama.
"Di Kota Probolinggo, tradisi ini biasa dilakukan pada malam ke-27 Ramadan atau malem petolekoran," jelas Edi.
Awalnya, tradisi ini diwujudkan dalam bentuk pemberian makanan, seperti ketan dan nasi serundeng yang memiliki makna filosofis tersendiri.
Ketan, sebagai makanan yang lengket, melambangkan eratnya hubungan persaudaraan, sementara nasi putih mencerminkan kesucian dan serundeng melambangkan kebersamaan.
Di masa pemerintahan Djojolelono, simbol perekatan masyarakat menjadi perhatian. Dari situlah muncul tradisi membagikan ketan kinca sebagai lambang kebersamaan.
“Seiring waktu, tradisi ini berkembang dengan mengganti ketan kinca menjadi nasi serundeng. Saat masa kolonial, orang Belanda yang tinggal di daerah ini pun mengadopsinya dalam bentuk pemberian sedekah," ungkapnya.
Kini, bentuk pemberian dalam tradisi Bi Bi Bi semakin beragam. Jika dahulu masyarakat berbagi ketan atau nasi serundeng, saat ini tradisi tersebut juga dilakukan dengan membagikan makanan ringan, nasi kotak, atau uang.
"Tradisi ini masih terus dilaksanakan di berbagai wilayah di Kota Probolinggo, seperti di Sumbertaman, Triwung, dan Desa Pohsangit," tambah Edi.
Bagi anak-anak, momen Bi Bi Bi adalah saat yang paling dinanti. Gusti, 12, salah satu penerima uang dalam tradisi ini mengungkapkan kegembiraannya.
"Hasil dari uang Bi Bi Bi ini mau saya belikan jajanan," katanya polos.
Tradisi Bi Bi Bi menjadi simbol kedermawanan yang terus dilestarikan masyarakat Kota Probolinggo.
Lebih dari sekadar berbagi, tradisi ini mengajarkan nilai kebersamaan dan kepedulian. Menjadikannya bagian tak terpisahkan dari budaya lokal setiap Ramadan. (gus/rud)
Editor : Ronald Fernando