Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Bawa Obor Keliling Desa, Warga Suku Tengger Gelar Ritual Pujan Kesanga

Inayah Maharani • Senin, 24 Maret 2025 | 03:20 WIB
RITUAL: Sejumlah masyarakat Ngadas, Kecamatan Sukapura, melakukan ritual Pujan Kesanga dengan berkeliling desa membawa obor.
RITUAL: Sejumlah masyarakat Ngadas, Kecamatan Sukapura, melakukan ritual Pujan Kesanga dengan berkeliling desa membawa obor.

SUKAPURA, Radar Bromo- Sebagai masyarakat adat, Suku Tengger memiliki sejumlah ritual adat penting yang wajib dilakukan dalam setahun.

Sabtu (22/3) malam, warga Suku Tengger dari sejumlah desa di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, menggelar acara adat, Pujan Kesanga.

Ritual yang identik dengan pawai obor ini wajib dilaksanakan setahun sekali.

Namun, tidak ada tanggal pasti dalam setiap tahunnya. Disesuaikan dengan perhitungan kalender Tengger.

Inti dari ritual ini adalah doa permohonan atas keamanan dan keselamatan dari bencana dan mara bahaya.

Serta, meminta izin restu kepada leluhur atas segala rutinitas yang dilakukan oleh masyarakat Suku Tengger.

Pawai obor diikuti ribuan warga. Mereka berasal dari sejumlah desa di Kecamatan Sukapura.

Di antaranya, Desa Ngadas, Ngadisari, Wonotoro, Jetak, dan Sapikerep. Mereka melaksanakan ritual di desa masing-masing.

Salah seorang Perangkat Desa Ngadisari Matacis mengatakan, kegiatan ini dilakukan masyarakat Tengger.

Meski mayoritas masyarakat di daerahnya beragama Hindu, namun ritual ini juga boleh diikuti oleh semua masyarakat Suku Tengger. Apapun agamanya.

“Ini kegiatan rutin sebagai ritual adat yang dilakukan setiap tahunnya. Semua masyarakat keluar rumah untuk mengikuti acara ini,” katanya.

Tak hanya Desa Ngadisari, ritual adat di Desa Ngadas juga berlangsung secara meriah. Awalnya, kegiatan ini dilakukan dengan menyajikan sesajen yang ditujukan kepada luluhur moncopat moncolimo.

Mereka berkeyakinan bahwa yang menjaga bumi Tengger adalah moncopat moncolimo. Karena itu, sesajen dihaturkan kepada roh leluhur. Agar mereka tetap menjaga keselarasan antara alam dan manusia.

Setelah doa bersama, masyarakat Tengger menyembelih ayam dan merobek-robet bagian ayam itu, sebab ritual untuk membuang sifat-sifat buruk.

Di Bali, tradisi ini mirip dengan tradisi membakar ogoh-ogoh. Baru setelahnya, ayam itu akan dikubur di perempatan jalan dengan tujuan menghilangkan roh jahat di perempatan jalan tersebut.

Setelahnya mereka akan membawa obor untuk keliling desa. Mereka juga membawa cangkul dan penebah sebagai simbol membersihkan desa dari mara bahaya.

“Cangkul artinya sebagai simbol mengubur hal buruk, serta penabah sebagai simbul mengusir roh jahat,” ujar Kepala Desa Ngadas, Kastaman.

Meski sedang hujan, namun masyarakat Suku Tengger tetap bersemangat untuk menjalankan ritual tersebut.

“Kami berkeyakinan ritual ini penting untuk membersihkan hal-hal buruk dan marabahaya,” katanya. (mg/rud)

Editor : Ronald Fernando
#pujan kesanga #tengger #sukapura