Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pasar Gotong Royong di Bawah Ancaman Pasar Online, Makin Sepi, Omzet Pedagang Turun

Inneke Agustin • Minggu, 23 Maret 2025 | 16:55 WIB
LENGANG: Sejumlah warga berkunjung ke Pasar Gotong Royong, Kota Probolinggo, yang terlihat lengang.
LENGANG: Sejumlah warga berkunjung ke Pasar Gotong Royong, Kota Probolinggo, yang terlihat lengang.

SETIAP menjelang Hari Raya Idul Fitri, Pasar Gotong Royong Kota Probolinggo, dipastikan ramai. Para pedagang siap “panen” karena banyak konsumen yang berburu kebutuhan Lebaran. Terutama pakaian. Tahun ini berbeda. Di tengah maraknya online shop, pendapatan pedagang turun drastis.

Memasuki Ramadan 1446 Hijriah, suasana Pasar Gotong, berbeda dengan hari-hari sebelum bulan puasa. Lebih ramai. Banyak warga berburu pakaian untuk kebutuhan Lebaran.

Namun, banyaknya pengunjung ini dinilai masih minim. Terlebih dibadingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Sejumlah pedagang mengeluh omzetnya menurun drastis.

Salah seorang pedagang pakaian Udin Prasetyo, 33, mengatakan, biasanya menjelang Lebaran pendapatan dari berjualan meningkat lipat dua dibanding sebelum Ramadan. Namun, semakin tahun berbeda.

Tahun ini, kata Udin, pendapat dari berjualan di Pasar Gotong Royong, semakin seret. Ketika, hari-hari sebelum Ramadan sehari bisa memperloh omzet Rp 500 ribu. Bila weekend bisa mencapai Rp 1 juta.

Memasuki Ramadan, omzetnya meningkat. Sehari bisa mendapatkan Rp 2 juta sampai Rp 3 juta. Ketika akhir pekan bisa sampai Rp 6 juta. “Namun, angka tersebut tetap lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.

Menurunnya pendapatan ini mulai dirasakan sejak tiga tahun lalu, 2021. Usai dilanda Pandemi Covid-19, masih mendingan. Memasuki 2021 makin mengkhawatir. Terutama setelah banyak muncul toko online.

Udin mengatakan, banyak online shop sangat berpengaruh terhadap omzet pedagang traadisional. Bahkan, disebut sebagai penyebab utama. Katanya, tak sedikit konsumennya yang lebih memilih berbelanja secara online, karena lebih murah dan praktis.

“Padahal, ada risikonya juga. Misalnya, bahan tidak sesuai ekspektasi. Tapi, tetap saja orang-orang lebih memilih beli online,” katanya.

Selain persaingan dengan toko online, kondisi ekonomi global yang tidak stabil juga membuat daya beli masyarakat menurun. Mereka lebih selektif dalam berbelanja, terutama untuk barang nonpangan.

Faktor cuaca ekstrem yang sering hujan ketika sore dan malam juga memperparah keadaan. Makin banyak warga yang enggan berkunjung. “Kadang siang atau sore hujan deras, orang jadi malas keluar rumah buat belanja," katanya.

Nasib serupa dialami pedagang pakaian lainnya, Andrin Martin, 37. Tahun lalu, ketika akhir pekan Ramadan omzetnya bisa mencapai Rp 10 juta. Tahun ini, untuk memperoleh Rp 5 juta saja sulit.

“Hari biasa (sebelum Ramadan) malah lebih parah. Cuma Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu. Itu pun belum dipotong biaya operasional, gaji karyawan, listrik, dan retribusi. Bisa-bisa malah rugi,” keluhnya.

Seorang pedagang sandal dan sepatu, Anas, juga mengalami kondisi serupa. Selama Ramadan, ia hanya memperoleh omzet antara Rp 1-2 juta per hari. Terutama saat akhir pekan. “Saya memilih tidak ikut jualan online, karena butuh admin dan malah bikin tambah pekerjaan. Mending fokus jualan langsung saja,” ujarnya.

Anas mengaku memiliki cara tersendiri untuk menjaga hubungan baik dengan para pembeli. Ia menerima pengembalian barang yang dibeli di tokonya bila tidak sesuai atau ukurannya tak cocok.

“Bila tidak cocok, bisa dikembalikan. Maksimal keesokan harinya asal labelnya tidak copot. Tinggal menunjukkan nota pembeliannya,” jelasnya.

Salah satu pedagang baju di Blok C Pasar Gotong Royong, Umi Kulsum, 44, mengatakan, pendapatannya kini menurun drastis dibandingkan tahun sebelumnya. Ia menduka karena kondisi ekonomi masyarakat dan maraknya toko online.

Memasuki 10 hari menjelang Lebaran, Umi mengatakan, pendapatannya per hari masih berkisar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Itu pun ketika weekend. Ketika weekday tak sampai Rp 1 juta.

“Kalau tahun lalu masih sekitar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta kalau weekend. Apalagi menjelang Lebaran seperti saat ini. Kalau hari biasa berkisar Rp 1 jutaan,” ujar warga Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, Sabtu (22/3).

Sepeinya pasar ini akan makin parah ketika di luar Ramadan. Pendapatan pedagang akan kembali tak menentu. “Kadang sehari belum tentu laku. Bahkan, tiga hari juga pernah tidak laku sama sekali. Tidak ada pemasukan. Sementara biaya operasional tetap,” ungkapnya.

Ia berharap Pemkot Probolinggo dapat melihat lebih dekat lagi permasalahan Pasar Gotong Royong. Serta, mencarikan solusinya. Tidak hanya melihat ketika menjelang Lebaran.

“Kalau mau Lebaran ya kondisinya masih mending, ada yang beli. Kalau tidak Lebaran, coba dicek kembali, sepi sekali. Bahkan, di pasar ini seolah bisa digunakan untuk main bola. Saking sepinya,” katanya.

Meski dengan kondisi pasar yang demikian, Umi mengaku masih bertahan. Pegangannya, ‘yang awal jangan sampai dilupakan.’ Ditambah belum ada opsi pekerjaan lain.

“Kami para pedagang ini berharap adanya fasilitas dari pemerintah. Mungkin ada pelatihan atau fasilitas bagi kami agar pasar ini kembali hidup dan menjadi maskot Kota Probolinggo kembali. Bisa bila ada event diletakkan di sini saja, agar menarik minat konsumen juga,” harapnya.

Pedagang baju lainnya, Sofi Laili Chomariah, juga bernasib sama. Karena itu, ia memilih mengurus tokonya sendiri tanpa bantuan karyawan.

“Kalau mempekerjakan karyawan otomatis pendapatan harus terpotong biaya gaji karyawan. Sementara, pembeli setiap harinya tak banyak. MAsih bisa saya handle sendiri,” ujar warga Kelurahan Wiroborang, Kecamatan Mayangan.

Walau begitu, Sofi mengaku masih ingin bertahan di Pasar Gotong Royong. Alasannya, toko inilah satu-satuya sumber perekonomian keluarganya.

“Selain jaga toko, saya juga buat kue. Ketika ada kekurangan di toko, saya ambil uang lain. Nanti kalau ada kekurangan di sana, saya ambil di toko untuk sementara waktu agar saling berputar keuangannya,” katanya. (gus/rud)

Editor : Ronald Fernando
#sepi #pasar gotong royong probolinggo