KADEMANGAN, Radar Bromo –Main korek berujung kebakaran, kembali terjadi. Gara-gara main korek, sebuah warung di Kelurahan Triwung Kidul, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo terbakar.
Warung milik pasutri Supadmi dan Buraten itu pun ludes dilalap api, Sabtu (15/3), sekitar pukul 11.30.
Sehari-harinya, warung itu juga dijadikan rumah. Ditempati pasutri bersama dua cucu laki-lakinya. Masing-masing Fa, 8 dan Ib, 12.
Sebelum kebakaran, Buraten sedang tidur dengan cucu pertamanya, Ib. Sementara istrinya, Supadmi sedang menyiapkan dagangan di warung.
Mereka tak sadar, saat itu Fa sedang bermain korek api sendirian di ruang depan warung. Dekat dengan botol-botol bensin eceran yang juga dijual di warung itu.
Lalu tiba-tiba, korek api yang dimainkan Fa menyambar jejeran botol bensin yang akan dijual. Api pun langsung berkobar, disertai teriakan Fa yang ketakutan. Membuat Buraten terbangun dari tidurnya.
Sadar terjadi kebakaran, Buraten berniat memindahkan beberapa botol bensin yang tidak ikut terbakar. Maksudnya, agar api tak semakin besar menyala.
Sayangnya, api saat itu juga terlalu besar. Dia bahkan sempat tersambar api dan menderita sedikit luka bakar di tangan dan telinganya.
Warga yang melihat kobaran api itu, langsung berdatangan. Dengan cepat mereka bergotong royong mengambil air dan berusaha memadamkan api di warung.
Namun, upaya itu tak berhasil. Sang jago merah terlalu besar dan dengan cepat menghabisi warung yang bangunannya terbuat dari tripleks itu. Seisi warung pun ludes terbakar.
Bahkan, api kemudian menyambar dua bangunan di kanan dan kiri warung itu yang semuanya berupa bengkel.
Beruntung, dua bengkel itu tak ikut ludes terbakar. Namun, beberapa bangunannya gosong terkena api.
Rahmani, pemilik salah satu bengkel yang juga sepupu korban mengaku saat itu sedang menonton TV. Tak lama kemudian ia mendengar sepupunya berteriak meminta tolong karena ada kebakaran.
“Saya lagi nonton TV, terus dengar Mbak berteriak. Pas saya lihat api sudah membesar. Saya langsung menyelamatkan elpiji jualan saya karena takut meledak,” katanya.
Api sempat membakar atap bengkelnya. Namun, api hanya menghanguskan atap yang terbuat dari galvalum itu.
Rahmani pun bersyukur. Sebab, sekitar 20 hari lalu dia merenovasi atap bengkelnya dengan galvalum.
“Belum sebulan saya renovasi. Sebelumnya dari kayu, saya ganti galvalum. Kalau tidak, mungkin sekarang ini pasti ludes juga,” katanya.
Di teras bengkel Rahmani itu juga berdiri sebuah usaha warung lalapan gerobakan. Rahmani memang menyewakan halaman bengkelnya untuk usaha warung makan.
Akibat kebakaran tersebut, gerobak beserta kursi dan mejanya ikut terbakar. Sedangkan sang pemilik warung yaitu Ali, sedang mudik ke Maduran. Sehingga warung tersebut tutup.
“Orangnya sudah mudik ke Madura. Barang-barang dagangannya ditinggal di sini,” katanya.
Belum diketahui pasti berapa kerugian yang dialami korban. Namun, ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Sebab, di dalam warung yang sekaligus rumah itu ada banyak barang dagangan.
Rahmani sendiri menganggap ini adalah musibah dan tidak ada yang bisa disalahkan. Ia pun tak mau menuntut rugi pada keluarga korban yang lebih banyak kerugiannya.
Selain bengkel Rahmani, bengkel di sebelah kanan warung Supadmi juga terbakar. Bengkel itu milik Hendra, 45, kakak ipar Rahmani.
Hendra yang saat itu melihat kobaran api dari sebelah bengkelnya, langsung menyelamatkan sejumlah barang yang mudah terbakar. Seperti sprayer gun.
Namun, dia malah sempat terbakar api. Sehingga, tangannya melepuh. Beruntung tak ada barang yang terbakar. Hanya atap bangunan bengkelnya ikut gosong.
Sementara itu, Damkar Kota Probolinggo baru menerima informasi kebakaran sekitar pukul 11.45. Dua menit kemudian, petugas lantas meluncur dan sampai di lokasi pukul 12.04.
“Api berhasil dipadamkan sekitar satu jam kemudian, yaitu pukul satu siang. Dan situasi dinyatakan kondusif pukul 13.13,” lanjutnya. (mg/hn)
Editor : Muhammad Fahmi