DI Kota Probolinggo, terdapat musala yang usianya sudah ratusan tahun. Musala ini didirikan oleh Kiai Abdullah Faqih bin Alawi bin Samlawi bin Alawi bin Abdurrohman bin Pangeran Kidul bin Sunan Giri. Kiai yang masyur dengan Bujuk Pakis, itu membangun musala ini pada sekitar tahun 1850-an.
Berdasarkan nasabnya, Bujuk Pakis masih merupakan keturunan langsung dari Raden Ainul Yakin atau Sunan Giri, salah satu Wali Sanga. Ia tinggal di Jrebeng Lor, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo.
Kemudian, oleh Bujuk Singosari dari Pohsangit Leres, diminta mengelola wilayah Kareng. Ia juga diberi lahan dan di sanalah didirikan Musala Kareng.
“Nama musala itu, ya Musala Kareng. Dari dulu orang mengenalnya Musala Kareng atau Pondok Kareng,” ujar K.H. Abdullah Zabut, putra pertama almarhum K.H. Abdullah Mujib, Pengasuh Ponpes Roudlotut Tholibin, Kecamatan Kademangan.
Pria kelahiran 1966 ini menceritakan, Musala Kareng kini berada di area Pesantren Roudlotut Tholibin. Awalnya, sangat sederhana. Hanya berupa bangunan semipermanen berbahan kayu dan lantai gantung bambu.
Musala Kareng menjadi tempat penyebaran atau dakwah agama Islam. Setelah Bujuk Pakis wafat, dakwa keagamaan ini dilanjutkan oleh Kiai Anom, kemudian Kiai Mushohib atau Bujuk Gedangan.
“Dulu lingkungan sekitar Pondok Kareng dikenal sebagai Desa Mices. Menjadi pusat berbagai aktivitas maksiat, seperti perampokan, perjudian, sabung ayam, dan mabuk-mabukan. Kiai Abu Tholib (Bujuk Randuh) diminta oleh Bujuk Singosari, seorang ulama dari Desa Jrebeng Lor, menempatkan anaknya (Bujuk Pakis) di Kareng, supaya dapat membimbing masyarakat,” jelasnya.
Perjuangan dan dakwan Bujuk Pakis, kata Zabut, ternyata berhasil. Musala Kareng yang didirikan berkembang menjadi Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin. Pesantren ini pun menjadi pusat pendidikan agama bagi masyarakat sekitar dan luar Kota Probolinggo.
Masyarakat sekitar juga menjadikan Musala Kareng sebagai tempat ibadah dan menimba ilmu-ilmu agama.
“Masjid Al-Mubarok Kademangan dengan Musala Kareng, jauh lebih dulu Musala Kareng dibangunnya. Musala Kareng ini menjadi pusat kegiatan belajar santri pondok dan aktif sampai sekarang,” ungkapnya.
Musala Kareng, kata Zabut, pernah dua kali direhab. Pertama pada 1968 dan kedua pada 1982. Musala yang dulu hanya kayu dan bambu direhab menjadi musala permanan berdinding tembok dan berlantai tegel.
Baca Juga: Musala Nurul Huda Kanigaran, Jadi Saksi Syiar Islam di Curahgrinting
Pada 1982, bagian depan musala dilebarkan. Menambah lebar sekitar 2 meter. Atap terasnya juga dibeton.
“Dulunya dindingnya dari gedek, sekarang sudah direhab hampir seluruhnya,” katanya.
Soal alumni yang mengaji atau mondok di Musala Kareng yang sudah sukses, Zabut mengaku tidak dapat memastikan. Tetapi, tidak sedikit santri yang pernah berguru kepada Bujuk Pakis dan Bujuk Gedangan di musala ini menjadi tokoh agama atau ulama.
“Seperti, Kiai Abdul Hamid, Jrebeng, Kota Probolinggo dan Kiai Syarifuddin, Ponpes Lumajang,” ujarnya. (arif mashudi/rud)
Editor : Ronald Fernando