DI Kota Probolinggo, terdapat satu kampung yang langganan banjir. Terutama ketika musim hujan. Kampung ini dihuni oleh 250 kepala keluarga (KK). Selain dekat pantai yang berpotensi dilanda rob, letak geografisnya lebih rendah dari daerah sekitar. Ketika hujan, air mengalir deras ke kampung ini. Namanya Kampung Dok di Kelurahan/Kecamatan Mayangan.
Kampung Dok berdekatan dengan pesisir. Ketika air laut pasang kampung ini sering dilanda rob. Awalnya, warga menganggap biasa. Terlebih ketika air laut pasang saat purnama. Sebab, kala itu air hanya melewati bagian latar atau lahan-lahan kosong di sekitar rumah-rumah warga.
Namun, lambat laut air yang masuk daratan semakin mengancam keamanan. Kenyamanan warga mulai terganggu. Terlebih ketika air laut pasang bersamaan dengan hujan deras. Kampung yang berada di ujung utara Kota Probolinggo, ini seakan menjadi “pembuangan” air dari daerah selatan.
Di kampung ini terdapat dua RT. RT 01 dan RT 02. Semuanya tergabung dalam RW 6. Salah seorang warga Kampung Dok Ahmad Taufiq, 38, mengungkapkan, banjir di pemukimannya semakin parah sejak berdirinya pabrik di dekat kampung pada sekitar 2008.
Pasokan air dari daerah selatan seakan tak bisa lari ke laut. Karena, dinding pagar perusahaan dan drainase yang kurang memadai.
“Dulu saat hujan deras air hanya melintas di depan rumah. Namun, sekarang air tak bisa mengalir langsung ke pesisir karena terhalang pagar pembatas dari pabrik meski sudah ada drainasenya,” ungkapnya.
Kondisi ini diperparah dengan makin padatnya pembangunan rumah penduduk. Jalanan yang dulunya berupa tanah, kini telah dipaving demi mengurangi risiko licin saat hujan. Namun, hal ini justru menurunkan daya serap air. Makin minimnya tanah resapan memperparah kondisi bencana.
Tak hanya itu, ketinggian Jalan Ikan Belanak di ujung selatan membuat letak geografis Kampung Dok, semakin rendah. Sebagaimana sifat alamiah cairan, air hujan otomatis mengalir ke Kampung Dok.
“Meski sudah diberi gundukan semen di depan gang, air tetap masuk saat hujan deras,” katanya.
Di sisi lain, sistem drainase di kampung seluas 2,5 hektare ini juga jauh dari optimal. Hanya terdapat satu saluran pembuangan yang kini semakin dangkal. Warga berupaya melakukan normalisasi, namun hasilnya kurang maksimal.
“Di atas drainase banyak berdiri bangunan juga. Sementara, di area pembuangan dekat perusahaan juga mengalami sedimentasi,” jelas Taufiq.
Banjir yang melanda Kampung Dok, selalu berdampak besar bagi warga. Kata Taufiq, ketinggian air ketika banjir sangat bergantung pada curah hujan dan kondisi air laut. “Jika air laut sedang pasang, banjir bisa lebih tinggi dan lama surutnya. Biasanya, RT 01 paling parah karena lokasinya paling utara,” katanya.
Ketika memasuki musim hujan warga harus siap-siap berjibaku dengan air yang masuk rumah dan merusak barang-barang mereka. Ada satu kejadian yang tak mudah dilupakan oleh warga. Kata Taufiq, pada 2012 lalu, ketinggian air mencapai sekitar satu meter.
Kala itu, warga harus mengeluarkan perabotan yang terendam. Seperti dipan, kursi, bahkan motor. Kerugian sangat besar. Memperbaiki motor saja bisa habis Rp 500 ribu sekali servis.
“Itu belum termasuk barang elektronik dan perabot rumah tangga lainnya,” ujarnya.
Namun, setelah kejadian itu banjir semakin landai. Tak sampai semeter. Namun, tetap mengancam. Tahun ini sudah dua kali terjadi banjir. Pertama pada Jumat (17/1) dan kedua Jumat (28/2). Kala itu, air masuk rumah. Ketinggiannya mencapai sekitar 45 sentimter.
Selain kerugian materi, banjir juga menghambat aktivitas ekonomi dan sosial warga. Banyak yang tidak bisa berjualan, anak-anak kesulitan bersekolah, dan pekerja terpaksa absen.
“Ada warga yang bekerja sebagai tukang pijat, kalau banjir jadi tidak bisa mencari nafkah. Saya sendiri terpaksa izin kerja karena kepikiran kondisi rumah ketika banjir melanda,” tambahnya.
Ketua RW 06 Kelurahan/Kecamatan Mayangan Karno Bas Sadana memiliki pandangan lain mengenai penyebab utama banjir di Kampung Dok. Menurutnya, bukan karena adanya pagar pabrik yang menghambat aliran air, tetapi berkurangnya lahan resapan.
“Dulu banyak sawah dan tambak, sekarang lebih banyak rumah, sehingga daya serap tanah berkurang. Ditambah lagi drainase di sisi utara semakin dangkal, membuat aliran air lambat. Warga ingin melakukan kerja bakti, tapi khawatir menyentuh area pohon mangrove yang mungkin dilindungi,” ujarnya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Probolinggo Sugito Prasetyo, membenarkan bahwa Kampung Dok termasuk wilayah yang paling sering mengalami banjir dan genangan di Kecamatan Mayangan.
“Ini karena lokasinya dekat laut dan lebih rendah dibanding jalan protokol di depannya. Setiap kali banjir terjadi, BPBD melakukan pemantauan, asesmen, serta memberikan bantuan makanan bagi warga terdampak,” katanya. (mg/rud)
Editor : Ronald Fernando