MESKI diperkirakan sudah berusia lebih dari 100 tahun, Musala Nurul Huda tampak berdiri kokoh hingga sekarang.
Musala yang menjadi salah satu tertua di wilayah Kecamatan Kanigaran tersebut, menjadi tempat syiar Islam.
Khususnya bagi warga yang berada di kawasan setempat, Kelurahan Curahgrinting, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, sejak dahulu.
Musala tersebut dibangun oleh Kiai Abdul Ghofur yang terkenal dengan sebutan Kiai Rancang.
Memang, tidak diketahui pasti tahun berapa musala tersebut berdiri. Namun banyak yang meyakini, kalau usianya lebih dari seabad.
Kini, pengelolanya sudah berpindah tangan hingga ke generasi keempat. Setelah Kiai Abdul Ghofur wafat, musala tersebut kemudian diambil alih kepengelolaannya oleh sang menantu, bernama KH Abu Bakar Sidek.
Lalu, perjuangan menghidupkan musala tersebut, diteruskan oleh anak dan cucunya hingga sekarang.
Salah satu anaknya, adalah Jamhuri yang kini telah berusia 81 tahun. Serta Abdul Mannan yang telah meninggal lima tahun lalu.
Kini generasi keempatnya, bernama Alfan, 24, sebagai anak dari Abdul Mannan yang turun serta menjaga musala itu.
Alfan mengatakan, musala tersebut dibangun oleh sang buyut. Saat itu, masih tak banyak musala atau masjid di sekitar Kelurahan Curahgrinting.
“Dahulu belum banyak musala. Baru setelah buyut punya langgar ini, jadi banyak yang mendirikan musala. Karena dahulu, penyebaran agama Islam belum massif,” katanya.
Menurut Alfan, berdasarkan kisah yang diceritakan para pendahulunya, saat musala itu dibangun, pengikut agama Islam di Kota Probolinggo sendiri belum banyak.
Sebab, mayoritas masyarakatnya memeluk keyakinan Kejawen.
Surau itulah yang kemudian berpengaruh besar dalam syiar agama Islam di zaman itu. Terutama di Kelurahan Curahgrinting dan sekitarnya.
“Saya tidak tahu pasti tahunnya, tapi katanya dahulu kebanyakan pemeluknya masih Kejawen,” jelasnya.
Hingga saat ini, bangunan musala tersebut tak banyak berubah. Selain hanya, warna catnya yang diganti setiap tahun.
Memang, ada beberapa pembugaran seperti keramik dan mengganti kayu-kayu yang sudah lapuk.
Namun, bentuk asli musala, masih terjaga. Bahkan, temboknya juga tak pernah berubah.
Dari dahulu hingga saat ini, kata Alfan, masih tetap banyak santri yang datang untuk mengaji.
Kini, ada sekitar 60 santri yang masih mengaji. Sedangkan 30 santri, juga menginap di musala tersebut.
“Ada juga yang mondok tapi tidak banyak. Yang banyak santri yang mengaji sore,” sampainya.
Salah satu benda ikonik dari musala tersebut, selain bangunannya yang kuno adalah bedug sebagai penanda masuknya salat.
Sayangnya, bedug tersebut usianya tak sama dengan musala. Sebab sudah berganti. Kini bedugnya diperkirakan berusia sekitar 35 tahun.
Konon katanya, bedug yang pertama itu terbuat dari kayu pohon cabai. Meski tak masuk dinalar, namun pernyataan tersebut diyakini turun temurun.
“Katanya sih dahulu dari pohon cabai. Saya waktu dengar juga kaget dan tidak percaya. Tapi semua bilang begitu,” akunya.
Alfan menjelaskan, banyak santri yang pernah ngaji di musala tersebut, kini menjadi tokoh agama.
“Kalau dahulu sekolah formal kan tidak seperti sekarang. Jadi kebanyakan orang ngaji di sini, menjadi kiai dan punya musala sendiri sekarang,” bebernya.
Hingga kini, diusianya yang sudah lebih dari seabad, musala tersebut tetap kokoh dan menawan.
Banyak kegiatan tradisi keagamaan yang rutin diadakan di musala tersebut.
Seperti peringatan Maulid Nabi, Isra Mi’raj, salat tarawih dan salat untuk hari raya besar seperti Idul Fitri dan Idul Adha. (inayah/one)
Editor : Jawanto Arifin