MAYANGAN, Radar Bromo-Setelah hampir setahun kosong, Pelabuhan Delta Artha Bahari Nusantara DABN Probolinggo kembali kedatangan kapal Raw Sugar.
Senin (3/3) lalu, kapal MV Tuojiang yang berbendera Liberia dengan muatan sebanyak 20.950 MT Raw Sugar, merapat ke pelabuhan.
Kargo manis ini segera dibongkar dan didistribusikan ke industri di Pasuruan dan Jombang, Jawa Timur.
Kedatangan kapal ini menandai kembalinya komoditas Raw Sugar sebagai salah satu kargo impor utama yang memasuki Pelabuhan DABN Probolinggo.
Tidak hanya MV Tuojiang, pelabuhan ini juga akan segera menerima kapal-kapal pembawa Raw Sugar lainnya dalam waktu dekat.
“Hal ini menunjukkan adanya lonjakan dalam aktivitas perdagangan internasional di pelabuhan yang dikenal strategis ini,” ujar Direktur Utama Pelabuhan DABN, Hadi Mulyo Utomo.
Pelabuhan DABN Probolinggo selama ini memang dikenal sebagai salah satu pelabuhan internasional yang kerap jadi jujukan kapal-kapal besar.
Tak hanya memiliki fasilitas yang memadai, pelabuhan ini juga menawarkan sejumlah keunggulan yang menjadikannya pilihan utama bagi kapal-kapal asing.
Menurut Hadi, Pelabuhan DABN Probolinggo memiliki beberapa keunggulan. Mulai memberikan prioritas sandar bagi kapal asing, yang memastikan proses bongkar muat berlangsung cepat dan efisien, menghemat waktu bagi semua pihak.
Selain itu, fasilitas dermaga pelabuhan DABN juga cukup memadai. Dengan dermaga yang luas, panjang, serta kedalaman yang optimal, pelabuhan ini mampu mendukung kelancaran operasional kapal asing berukuran besar tanpa kendala berarti.
Pelabuhan DABN juga disebutkan berpengalaman menangani kapal asing. “Pelabuhan DABN Probolinggo memiliki rekam jejak yang solid dalam menangani kapal-kapal internasional, menjamin kelancaran kegiatan bongkar muat dan operasi yang tanpa hambatan,” beber Hadi.
Terakhir, Hadi menyebut keamanan di pelabuhan DABN jadi prioritas utama.
Dengan sertifikasi ISPS Code, memastikan bahwa setiap aktivitas ekspor-impor di pelabuhan ini dilakukan dengan standar keamanan tinggi, sesuai ketentuan yang berlaku. (*)
Editor : Muhammad Fahmi