PROBOLINGGO, Radar Bromo - Setiap Ramadan, suara tabuhan kentongan dan alat musik tradisional menggema di berbagai sudut kota.
Tradisi patrol yang bertujuan membangunkan warga untuk makan sahur, masih bertahan di tengah gempuran teknologi dan perubahan gaya hidup modern.
Meski kini banyak orang mengandalkan alarm ponsel untuk bangun sahur, kehadiran patrol tetap dinantikan.
Tradisi ini bukan sekadar alat pengingat waktu sahur, tetapi juga simbol kebersamaan, kekompakan, serta tanggung jawab sosial dalam masyarakat.
“Intinya, patrol mengandung nilai tanggung jawab sosial, interaksi sosial, dan solidaritas sosial," ujar Wakil Ketua MUI Kota Probolinggo, K.H. Muhammad Sulthon.
Dari sisi agama, Kiai Sulthon menjelaskan, patrol diperbolehkan selama tidak mengganggu masyarakat. Serta, diniatkan untuk membangunkan orang salat tahajud dan sahur.
“Patrol sejatinya diperbolehkan, asal dilakukan dengan tertib dan tidak mengganggu. Sebaiknya dilakukan sesuai jam sahur dan diiringi lagu-lagu yang baik," pesannya.
Seiring perkembangan zaman, alat musik yang digunakan dalam semakin beragam. Dulu patrol hanya mengandalkan kentongan atau bambu sebagai alat tabuh.
Kini, berbagai kelompok patrol menambahkan drum maupun angklung, bahkan memadukannya dengan hadrah atau lagu-lagu religi khas Ramadan.
Bagi sebagian orang, patrol bukan sekadar membangunkan sahur, tetapi juga menjadi bagian dari syiar Islam.
Sejumlah kelompok, bahkan memasukkan salawat dan ayat-ayat Alquran dalam lantunan patrol mereka.
“Sejak dulu patrol sudah ada di Mekkah, meski bentuknya berbeda dengan yang ada di Indonesia. Bahkan, di berbagai daerah di Indonesia, patrol memiliki istilah dan gaya yang berbeda-beda,” jelasnya.
Di era modern ini, keberadaan patrol membuktikan bahwa tradisi tetap bisa hidup berdampingan dengan kemajuan zaman.
Selama dilakukan dengan niat baik, penuh kreativitas, serta tetap menghormati hak dan kenyamanan orang lain, patrol akan terus menjadi bagian dari warna-warni Ramadan di Indonesia. (gus/rud)
Editor : Ronald Fernando