Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pedagang Ketiban Berkah, Penjualan Bunga Tabur Melonjak Jelang Bulan Ramadan

Inneke Agustin • Sabtu, 1 Maret 2025 | 04:02 WIB
MELONJAK: Salah seorang penjual bunga yang beroperasi di kawasan Pasar Baru Kota Probolinggo, Jumat (28/2).
MELONJAK: Salah seorang penjual bunga yang beroperasi di kawasan Pasar Baru Kota Probolinggo, Jumat (28/2).

PROBOLINGGO, Radar Bromo - Permintaan bunga tabur untuk ziarah makam mengalami lonjakan signifikan, mendekati Ramadan. Dampaknya, harga bunga tabur ikut menanjak.

Menurut Ratna, 39, seorang pedagang bunga di Jalan Pahlawan, Kota Probolinggo, peningkatan penjualan mulai terasa sejak Selasa (25/2).

Bahkan, jumlah pembeli naik hingga dua kali lipat dibandingkan hari biasa.

“Pembeli biasanya memborong bunga tabur yang telah dikemas per bungkus seharga Rp 5 ribuan,” kata perempuan yang berdomisili di Kecamatan Kanigaran ini.

Dalam satu bungkus bunga tabur, terdapat campuran berbagai jenis bunga, seperti sedap malam, bunga pacar, kenanga, mawar, dan irisan pandan.

Namun, di tengah meningkatnya permintaan, harga bunga dari pemasok juga mengalami kenaikan tajam.

Buamin, 62, seorang penjual bunga lainnya mengungkapkan, bahwa hampir semua jenis bunga mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan.

Sedap malam dari Rp 200 ribu per sak menjadi Rp 900 ribu per sak. Begitu juga dengan bunga kenanga dari Rp 20 ribu per setengah kilogram menjadi Rp 50 ribu.

Mawar dari Rp 25 ribu per kilogram menjadi Rp 100 ribu dan bunga pacar dari Rp 7 ribu per bungkus menjadi Rp 30 ribu.

Kenaikan harga ini membuat para pedagang bunga harus menyesuaikan harga jualnya, agar tetap mendapatkan keuntungan. Namun, kenaikan harga juga berdampak pada jumlah pembeli.

"Dahulu, saya bisa menjual hingga 400 bungkus dengan harga Rp 3 ribu per bungkus per harinya. Sekarang, hanya laku sekitar 200 bungkus dengan harga Rp 5 ribu per harinya. Harganya lebih mahal, tapi keuntungan tetap terbatas karena harga kulakan naik," ujar Buamin, warga Kecamatan Mayangan.

Meski harga melonjak, kondisi ini justru dimanfaatkan oleh pedagang bunga musiman yang berjualan hanya dalam periode tertentu.

Salah satunya adalah Musatunah, 54, warga Kecamatan Kanigaran, yang membuka lapak bunga tabur selama tiga hari menjelang Ramadhan.

"Saya tidak setiap hari berjualan bunga. Hanya memanfaatkan momen menjelang awal Ramadan, karena permintaan pasti meningkat. Besok mungkin sudah mulai landai lagi," katanya.

Kenaikan harga tidak menyurutkan niat masyarakat untuk ziarah ke makam keluarga.

Karena sebuah menjadi tradisi yang berlangsung turun-temurun menjelang bulan suci.

Salah satu pembeli, Dian, 39, warga Kota Probolinggo, membeli lima bungkus bunga tabur untuk keperluan ziarah.

"Ini sudah jadi tradisi tahunan. Meskipun harga bunga lebih mahal dibanding biasanya karena memang momennya, tapi tetap saya beli," ujar Dian. (gus/one)

Editor : Jawanto Arifin
#penjual bunga #bunga #ziarah makam #bulan ramadan #Bunga Tabur