TONGAS, Radar Bromo- Seorang nelayan asal Desa Bayeman, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, Muzzani, 53, harus berpisah dengan keluarganya. Sabtu (22/2), sekitar pukul 03.00, ia ditemukan meninggal dunia ketika melaut.
Awalnya, kematian korban diketahui setelah perahu yang dikendarainya untuk mencari ikan ditemukan tanpa awak. Perahu itu ditemukan sekitar 2 mil dari bibir Pantai Bahak, Kecamatan Tongas.
Perahu tanpa mesin itu kali pertama ditemukan oleh warga Desa Tongas Wetan, Kecamatan Tongas, Ahmad Fauji. Kala itu, sekitar pukul 03.00, Fauji juga berlayar mencari ikan.
Mengetahui itu, Fauji langsung menepi. Ia memberitahu sejumlah warga jika perahu milik Muzzani, tanpa awak. Marsam, salah seorang tetangga korban yang mendapatkan kabar dari Fauji langsung mengabarkan kepada keluarga Muzzani.
Mendapati itu, keluarga korban juga bergegas menuju Pantai Bahak. Sebagian ikut mencari keberadaan korban menggunakan perahu milik nelayanan lain. Mereka menyusuri sekitar tempat kejadian perkara (TKP) mencari keberadaan korban.
Sampai sekitar pukul 06.00, korban belum ditemukan. Kabar ini juga sampai ke Pemerintah Desa Bayeman. Mereka pun melaporkan kepada Polsek Tongas dan Polairud Polres Probolinggo.
Karena itu, kepolisian juga merapat ke lokasi kejadian. Mereka juga turun berusaha mencari keberadaan Muzzani. Sekitar pukul 07.00, korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Lokasinya sekitar 500 meter dari perahunya ditemukan.
Kasatpolairud Polres Probolinggo I Wayan Mulyana menjelaskan, korban ditemukan dalam kondisi sudah meninggal. Ia tenggelam dengan posisi tersangkut alat tangkap ikan bernama bubu.
“Korban ditemukan tersangkut alat tangkap bubu miliknya sendiri dalam keadaan meninggal dunia,” katanya.
Tak diketahui pasti penyebab tenggelamnya korban. Namun, diduga karena tersangkut tali bubu. Terlebih saat itu korban dalam kondisi kurang fit.
Dari keterangan kelurga korban, menurut Kanitreskrim Polsek Tongas Aipda Anang Farid, korban berangkat melaut sejak Jumat (21/2), pukul 14.00.
“Berangkatnya sendirian, karena pakai perahu kecil tanpa mesin. Biasanya kalau perahu seperti itu, hanya cukup dinaiki satu orang,” jelasnya.
Dari lokasi penemukan, korban dievakuasi menggunakan perahu milik Fauji. Kemudiah, dari pantai dibawa menggunakan mobil milik Polairud Polres Probolinggo.
Keluarganya, enggan korban diotopsi. Sebab, mereka menyakini bahwa kejadian ini musibah.
“Keluarganya tidak mau diperiksa apa-apa, sehingga langsung dibawa pulang,” ujar Perangkat Desa Banyeman, Imam. (mg/rud)
Editor : Ronald Fernando