PROBOLINGGO, Radar Bromo- Seorang siswi salah satu SMP negeri di Kota Probolinggo, berinisial Jn, 14, enggan kembali ke sekolah. Diduga, ia enggan bersekolah setelah sebelumnya berseteru dengan seorang temannya di sekolah yang berinisial Zs.
Tercatat, telah tiga bulan Jn tak bersekolah. Jn mengaku, pernah bertengkar dengan Zs di sekolah. Sebab, Jn difitnah menjelek-jelekkan Zs, sehingga membuat Zs marah dan memukul Jn.
“Awalnya saya diam. Hingga suatu saat Zs menendang perut saya. Saat itu kebetulan saya tengah haid,” ujarnya, Selasa (11/2).
Tak tahan dengan perlakuan Zs, Jn melawan. Warga Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, ini menghantamkan kepala Zs ke papan tulis hingga papan tulis roboh.
“Kejadian itu diketahui guru kami,” katanya.
Karena permasalahan itu, Jn dipanggil ke ruang bimbingan konseling (BK) untuk menulis surat sanksi. Namun, setelah itu, Jn enggan bersekolah. Hingga kini terhitung sudah tiga bulan ia tidak bersekolah.
“Akhirnya, kami menandatangani surat pengunduran diri karena Jn tidak mau bersekolah. Padahal, kami sangat ingin putri kami bisa sekolah,” orang tua Jn, berinisial Wh, 51.
Baca Juga: Lupa Matikan Kompor, Rumah Warga Mangunharjo Probolinggo Terbakar
Saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo, Jn engga mengatakan jelas alasannya tak ingin bersekolah lagi. Termasuk ketika ditawarkan bersekolah di tempat lain. Ia kekeh tidak mau bersekolah.
Kepala sekolah tempat Jn bersekolah mengatakan, Jn terindikasi merupakan siswi berkebutuhan khusus. Saat pendaftaran, ia didaftarkan melalui sistem zonasi, sehingga tidak terdeteksi adanya kebutuhan khusus.
“Baru dari kegiatan pembelajaran sehari-hari, kami menemukan indikasi tersebut. Salah satunya, siswi bersangkutan tak dapat menghubungkan kata konsonan,” ujar kepala sekolah berinisial Rd ini.
Ia memastikan pihak sekolah tak tinggal diam. Jn sempat diminta mengikuti tes psikologi. Tujuannya, untuk dapat menentukan kebutuhan yang sesuai baginya ke depan saat sekolah.
Baca Juga: Hindari Sabung Ayam, Kopali Projang Pilih Kontes Kecantikan Ayam
“Yang bersangkutan tidak mau mengikuti tes tersebut dan memilih tidak masuk sekolah ini. Kami juga sudah berupaya melakukan home visit, namun tetap tak mau sekolah,” jelasnya.
Terkait petengkaran Jn dengan Zs, dibenarkan pihak sekolah. Memang sebelumnya keduanya sempat cekcok, tetapi jauh sebelum Jn diminta untuk melakukan tes psikologi.
“Saat itu, keduanya masih sama-sama masa pengenalan sekolah. Jadi, namanya anak-anak, ya seperti itu dan telah dilerai oleh gurunya,” ujar Wakil Kepala SMP yang bersangkutan berinisial Hl.
Katanya, kini Zs juga sudah tak bersekolah di SMP-nya. Ia pindah setelah kedua orang tuanya bercerai.
“Kami kurang tahu sekarang pindah ke mana. Informasi terakhir ikut ayahnya,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo Siti Romlah mengatakan, pihaknya akan melakukan home visit untuk berjumpa dengan Jn, Rabu (12/2).
“Kami ingin jumpa dengan anaknya langsung untuk memastikan apa kebutuhan dan keinginan belajarnya. Akan kami pastikan tidak ada anak putus sekolah di Kota Probolinggo,” ujarnya. (gus/rud)
Editor : Ronald Fernando