Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Hindari Sabung Ayam, Kopali Projang Pilih Kontes Kecantikan Ayam

Inneke Agustin • Selasa, 11 Februari 2025 | 15:25 WIB
SENANG: Kopali Projang memamerkan sejumlah koleksi ayam jago ekor lidi di Taman Maramis Kota Probolinggo, Minggu (9/2).
SENANG: Kopali Projang memamerkan sejumlah koleksi ayam jago ekor lidi di Taman Maramis Kota Probolinggo, Minggu (9/2).

PROBOLINGGO, Radar Bromo- Ayam jago selama ini sering dikaitkan dengan sabung ayam dan perjudian. Karena itu, sekelompok pehobi ayam jago di Kota Probolinggo dan Lumajang, berupaya mengubah stigma ini.

Mereka membentuk Komunitas Pecinta Ayam Ekor Lidi Probolinggo-Lumajang (Kopali Projang). Fokus menjadikan ayam jago sebagai ayam hias, bukan untuk diadu.

Wakil Ketua Kopali Projang Husein mengatakan, komunitas ini berdiri sejak 2021. Kini anggotanya ada 20 orang. Mereka ingin menunjukkan bahwa ayam jago bisa menjadi hewan peliharaan bernilai tinggi tanpa harus dikaitkan dengan pertarungan atau perjudian.

“Selama ini, ayam jago selalu diidentikkan dengan sabung ayam. Padahal, kalau dijadikan ayam hias, justru lebih menguntungkan dan punya nilai jual tinggi tanpa harus bertaruh nasib,” ujar warga Kelurahan/Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, ini.

 

 

Menurutnya, ayam jago ekor lidi memiliki keunikan tersendiri. Membuatnya cocok diadu dalam kontes kecantikan ayam. Dengan perawatan yang tidak jauh berbeda dari ayam aduan, ayam ini bisa memberikan keuntungan lebih stabil.

“Kalau ayam aduan, harus diuji tarung dulu sebelum bisa dijual mahal. Itu pun belum tentu menang. Sementara ayam ekor lidi cukup dinilai dari postur dan keindahannya, tanpa harus bertarung,” ujar pria yang akrab disapa Black ini.

Black mengaku memiliki hampir 100 ekor ayam ekor lidi dengan omzet sekitar Rp 2 juta per bulan. Anakan ayam ini dihargai Rp 200 ribu, sedangkan ayam dewasa bisa mencapai Rp 1,5 hingga Rp 2 juta per ekor.

“Jika ayamnya menang kontes, harganya bisa melambung hingga Rp 10 juta,” katanya.

 

 

Anggota Kopali Projang Widiarto, 42, juga merasakan manfaat ekonomi dari mengembangkan ayam ekor lidi. Katanya, komunitas ini bertujuan mengubah citra ayam jago agar tidak lagi hanya dikenal sebagai ayam sabung.

“Dulu orang lihat ayam jago pasti mikirnya untuk diadu. Tapi, sekarang bisa dialihfungsikan untuk kontes, kembang latar (hiasan halaman), atau sekadar koleksi,” ujarnya. (gus/rud)

Editor : Ronald Fernando
#sabung #ayam #kecantikan #judi