PROBOLINGGO - Inilah keseriusan Pemkot Probolinggo memerangi kejahatan lingkungan. Untuk kali pertama, Pemkot Probolinggo menggelar kampanye Anti Green Financial Crime (GFC). Kampanye dilakukan dengan cara menanam pohon kehidupan Jumat (24/01) pagi.
Dalam kampanye ini, sejumlah pohon kehidupan lokal jenis Bungur ditanam di wilayah Kota Probolinggo. Antara lain ditanam di sepanjang jogging track Maramis–Gladak Serang Kota Probolinggo.
Yang menarik, ribuan pohon ini juga dilengkapi barcode DigiTree sebagai sarana edukasi. Siapa pun bisa scan barcode hanya melalui HP untuk mendapat berbagai informasi edukasi tentang pohon Bungur ini.
Informasi ini disampaikan melalui video animasi menarik. Mulai dari nama latin pohon hingga karakteristik pohon. Termasuk nama pihak atau stakeholder yang menyediakan pohon-pohon ini.
Pohon-pohon ini juga dilengkapi titik koordinat yang menerangkan lokasi pohon dan disimpan dalam peta digital pusat database. Sehingga, lokasi pohon-pohon ini bisa dilacak. Tujuannya di antaranya untuk meminimalisasi kejahatan lingkungan di Kota Probolinggo.
Kampenye Anti GFC sendiri digelar sebagai kolaborasi dan sinergi Pemkot Probolinggo dengan Pusat Pelaporan & Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Termasuk stakeholder Bank Jatim Pusat dan PT PLN (Persero) UP3 Pasuruan. Kegiatan ini sekaligus rangkaian peringatan Hari 1 Juta Pohon yang biasa diperingati pada 10 Januari setiap tahunnya.
Pj Wali Kota Probolinggo Muhammad Taufik Kurniawan mengapresiasi kehadiran PPATK di Kota Probolinggo. Apalagi Kota Probolinggo jadi tujuan pertama di Jawa Timur atas pelaksanaan program PPATK Mengajar yang sudah dilakukan pada Rabu - Kamis (22-23/01) dan dipuncaki dengan Kampanye Anti GFC, Jumat (24/1).
“Komitmen pemkot dalam memerangi pencucian uang dan pendanaan terorisme hingga komitmen Anti Green Financial Crime dilakukan demi kelestarian lingkungan di Kota Probolinggo. Itulah mengapa butuh peran semua pihak. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah, namun juga tanggung jawab stakeholder. Dan aksi nyata itu harus diwujudkan bersama dengan seluruh lapisan masyarakat Kota Probolinggo,” tegas Pj Muhammad Taufik.
Kepala PPATK yang diwakili Kepala Pusat Pemberdayaan Kemitraan Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (Bermitra) Supriadi menyebut, ada 3.028 kasus yang memberikan sanksi administrasi kepada korporasi dari 7.802 pengaduan yang dilakukan masyarakat. Ini berdasarkan data Direktorat Jendral Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun 2015-2023.
“Inilah mengapa kejahatan lingkungan perlu jadi perhatian bersama. Sebab, kerugian yang ditimbulkan jauh lebih besar dibandingkan multiefek dampak rusaknya lingkungan jangka panjang. Untuk itulah, mari kita jaga lingkungan kita, jaga bumi kita, demi masa depan kita bersama,” ungkap Supriadi.
Kampanye Anti GFC ini juga mengundang Prof. Lukman Hakim dari Universitas Brawijaya. Dia memaparkan materi tentang pentingnya menanam pohon lokal sesuai dengan karakter dan ekologi daerah. Sementara Susenohaji yang juga narasumber, mengulas kecanggihan DigiTree.
DigiTree adalah sistem digital yang digunakan untuk mencatat dan memantau kondisi pohon di Kota Probolinggo. DigiTree memiliki beberapa manfaat. Di antaranya, mendukung pengelolaan lingkungan yang efisien, menyediakan data akurat tentang kondisi pohon sebagai alat edukasi, sebagai alat pengembangan wisata lingkungan.
Data yang tercatat dalam DigiTree ada beberapa hal. Meliputi taksonomi pohon, kondisi fisik pohon, kontribusi pohon terhadap kualitas lingkungan.
Acara ini dihadiri oleh Dirut Bank Jatim dan Kepala PLN (Persero) UP3 Pasuruan yang diwakili oleh Kepala PT PLN UP Probolinggo. Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Pemkot dan PPAT atas kolaborasi sinergi terselenggaranya Kampenye Anti GFC. (el/adv)
Editor : Muhammad Fahmi