PROBOLINGGO, Radar Bromo – Kota Probolinggo ternyata memiliki naskah kuno cukup beragam. Saat ini, total ada tujuh naskah kuno yang ditemukan di kota.
Namun, saat ini kondisi tujuh naskah kuno itu cukup rentan. Karena itu, naskah kuno itupun direstorasi dan dilakukan digitalisasi.
Restorasi dan digitalisasi naskah kuno ini dilakukan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Jawa Timur.
Kabid Perpustakaan di Disdikbud Kota Probolinggo, Retno Widosari mengatakan, restorasi dan digitalisasi itu dilakukan untuk menjaga keberadaan naskah berharga yang mengandung nilai historis dan kearifan lokal.
“Sekaligus bertujuan untuk memastikan kelestariannya bagi generasi mendatang,” tambahnya.
Proses pelestarian dimulai dengan penelusuran naskah kuno di kota. Hasilnya, ditemukan tujuh naskah berharga.
Di antaranya lembaran Alquran dan tulisan Jawa kuno yang merupakan koleksi Pojok Literasi Kota Probolinggo milik Edi Martono.
Dalam penelusuran itu, pihaknya memastikan naskah-naskah tersebut telah memenuhi kriteria sebagai naskah kuno.
Salah satunya, yaitu harus berusia minimal 50 tahun. Lalu, ditulis tangan pada media kertas, kain, maupun lainnya.
“Setelah itu, baru kami laporkan temuan ini kepada Disperpusip Jatim untuk dialihmediakan,” ungkap Retno.
Koordinator pelaksana dari Bidang Pelestarian Disperpusip Jatim, Wahyu Dian Permana menyebut, pemerintah memang punya kewajiban melestarikan naskah masyarakat.
Sebaliknya, masyarakat juga wajib mendaftarkan naskahnya ke Perpustakaan Nasional melalui pemerintah daerah untuk mendapatkan sertifikat kepemilikan.
Proses pelestarian ini mencakup dua langkah utama. Yakni digitalisasi untuk menyelamatkan informasi dalam naskah. Serta restorasi untuk menjaga fisik naskah agar bertahan hingga ratusan tahun ke depan.
“Kami memulai dengan digitalisasi dan pemetaan awal. Jika naskah memerlukan restorasi, maka akan dibawa ke Surabaya. Proses ini memakan waktu cukup lama, sekitar tiga sampai empat bulan,” katanya.
Wahyu menjelaskan, restorasi dimulai dengan pengecekan tingkat keasaman naskah. Dilanjutkan dengan laminasi menggunakan tisu Jepang.
Setelah itu, naskah dijilid ulang atau disimpan dalam kotak khusus untuk mencegah kerusakan lebih lanjut akibat kontak langsung dengan tangan.
Kemudian, setiap naskah akan dibuatkan katalog yang memuat keterangan detil. Seperti isi naskah, tahun penyalinan, dan informasi penting lainnya.
Dari Kota Probolinggo, pihaknya menemukan tujuh naskah kuno. Termasuk fragmen, khutbah Jumat, dan naskah Islam lainnya yang ditulis tangan di berbagai media, seperti kertas Eropa.
“Naskah-naskah ini dipastikan memiliki manfaat besar bagi masyarakat. Dengan pelestarian, pemilik naskah dapat mewariskan baik ilmu, maupun fisiknya kepada generasi selanjutnya,” ujar Wahyu.
Menurut Wahyu, keberadaan naskah kuno mencerminkan peradaban dan kearifan lokal masyarakat Kota Probolinggo.
“Adanya naskah seperti ini menunjukkan bahwa masyarakat di sini sejak dulu telah mengenal aksara dan budaya literasi yang kaya,” jelasnya. (gus/hn)
Editor : Muhammad Fahmi