DRINGU, Radar Bromo - Empat dari 24 kecamatan di Kabupaten Probolinggo terus dipantau.
Sebab, di empat wilayah ini paling sering terjadi bencana.
Karena itu, masuk wilayah rawan bencana.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo Zubaidullah mengatakan, kerawanan dan zonasi dilakukan mengacu terhadap jumlah kejadian bencana.
Pemetaan perlu dilakukan dalam mewujudkan mitigasi dan upaya meminimalisasi dampak bencana.
Dengan demikian, potensi kerugian dan korban jiwa dapat ditekan.
“Setiap bulan kami lakukan pemetaan sebagai wujud mitigasi risiko bencana yang dapat ditimbulkan, sehingga semua potensi yang dapat terjadi bisa dicegah,” katanya.
Selama sepuluh bulan terakhir, sejak Januari-Oktober, terdapat empat kecamatan yang masuk zona merah. Sebab, telah terjadi lebih dari enam kali bencana.
Di antaranya, Kecamatan Lumbang terjadi 10 bencana; Kecamatan Tongas dan Dringu masing-masing terjadi 8 bencana; dan Kecamatan Pakuniran 7 bencana.
Di empat kecamatan ini, terjadi beragam jenis bencana. Mulai dari longsor, cuaca ekstrem dan angin kencang, kebakaran hutan dan lahan, serta krisis air bersih.
Zubaidullah mengatakan, sejatinya semua wilayah di Kabupaten Probolinggo berpotensi terjadi bencana.
Hanya saja wilayah yang sering dilanda bencana lebih menjadi atensi. Sebab, berkaitan dengan penanganan dan koordinasi yang perlu dilakukan.
Meski demikian, bukan berarti wilayah yang saat ini statusnya masih aman tidak akan terjadi bencana.
Mitigasi dan kewaspadaan tetap perlu dilakukan. Dengan harapan potensi dan risikonya ditekan seminimal mungkin.
“Semua wilayah tetap kami waspadai. Tetapi, yang sering terjadi bencana tentunya lebih menjadi atensi,” jelasnya. (ar/rud)
Editor : Ronald Fernando