TEGALSIWALAN, Radar Bromo- Sudah 20 tahun Masrep menjadi blantik atau pedagang sapi. Namun, baru kali ini lelaki 70 asal Gunungbekel, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo tahun itu dirampok.
Perampokan itu terjadi Senin (6/11) malam di simpang tiga Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo.
Yaitu di perbatasan Desa Malasan Wetan, Desa Gunungbekel dan Desa Bulujaran Kidul.
Saat itu, warga Desa Gunungbekel itu dalam perjalanan pulang ke rumahnya setelah menjual sapi di pasar hewan di Lumajang.
Tidak sendirian. Masrep bersama rekannya sesama blantik sapi, Taslim, 50, warga Desa Bulujaran Kidul
Sekitar pukul 18.30, mereka sampai di pertigaan Tegalsiwalan dengan berboncengan naik motor. Taslim menyetir dan korban Masrep dibonceng.
Saat itu, kondisi sudah gelap dan jalanan sepi. Sebab, memang lokasi itu jauh dari pemukiman. Tidak ada satupun orang atau kendaraan yang lewat.
Namun, mereka tidak curiga sedikitpun. Sebab, pekerjaan itu sudah mereka lakoni selama 20 tahun. Bahkan, sudah biasa mereka pulang dari pasar hewan malam hari.
Lalu tiba-tiba, dua orang tak dikenal sudah berdiri di tengah jalan. Menghadang motor mereka. Karena kaget, Taslim pun langsung ngerem motornya dan berhenti.
Dua orang itupun langsung mendekati keduanya dengan menghunus celurit. Satu orang menghunuskan celurit pada Taslim dan satu lagi pada Masrep.
Bahkan, pelaku langsung menyabetkan celurit pada bagian perut Masrep yang memakai tas berbentuk sabuk. Sekali sabet, tas itu langsung putus.
Pelaku lantas menarik tas itu. Padahal di tas itu, Masrep menyimpan uang Rp 26 Juta hasil menjual sapi hari itu.
Masrep yang tidak menduga sama sekali, hanya bisa diam. Keduanya bahkan mengaku tidak bisa berbuat apa-apa, seperti kena sirep.
Masrep menduga, pelaku sudah nyanggong atau nunggu di tempat itu. Sebab, dia tidak melihat ada motor atau kendaraan parkir.
Tiba-tiba saja, pelaku sudah menghadang motor mereka dan menghunuskan celurit.
Beruntung, saat itu Masrep memakai dua rangkap celana. Sehingga, sabetan celurit pelaku tidak sampai mengenai kulitnya. Namun, celana Masrep sampai sobek.
“Untung saya pakai dua celana. Kalau tidak, mungkin sabetan celurit itu sudah kena perut saya,” jelas Masrep.
Taslim dan Masrep beserta motornya kemudian didorong ke jurang oleh kawanan rampok itu. Masrep mengaku, tidak tahu berapa jumlah pelaku.
Dia hanya tahu dua orang yang menghadang mereka. Lagipula kondisinya gelap, dia mengaku tidak bisa melihat jelas. Namun, Masrep menduga ada lebih dari dua pelaku.
“Saya tidak tahu ada berapa pelaku, mungkin dua orang lebih. Kondisinya gelap, jadi agak kurang jelas. Saya dan Taslim seperti bingung saat itu,” lanjutnya.
Beruntung mereka didorong ke jurang yang tidak terlalu dalam. Sebab ada tumpukan sampah batok kelapa di sana. Keduanya pun berhasil naik ke jalan dan pulang begitu para pelaku kabur.
Namun, Masrep enggan melaporkan kejadian itu kepada pihak berwajib. Salah satu alasannya, karena dia tidak melihat jelas ciri-ciri pelaku. Namun, pemerintah desa maupun Polsek Tegalsiwalan telah mengetahui hal ini.
“Kemarin (Selasa, red) dari polisi juga sudah ke sini tanya-tanya kejadian itu. Tapi saya tidak melapor,” jelasnya. (mg/hn)
Editor : Muhammad Fahmi