Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sambut Maulid Nabi Muhammad SAW., Pedagang Buah di Kota Probolinggo Rela Buka 24 Jam

Inneke Agustin • Sabtu, 14 September 2024 | 15:10 WIB
MENGAIS REZEKI: Sejumlah pedagang buah membuka lapak di Jalan Supriadi, Kota Probolinggo. Memasuki Maulid Nabi Muhammad SAW, permintaan buah meningkat.
MENGAIS REZEKI: Sejumlah pedagang buah membuka lapak di Jalan Supriadi, Kota Probolinggo. Memasuki Maulid Nabi Muhammad SAW, permintaan buah meningkat.

PROBOLINGGO, Radar Bromo- Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW membawa berkah bagi para pedagang buah di Kota Probolinggo. Jumlah permintaan meningkat tajam. Meski harga buah turun, pedagang tetap untung.

“Sejak seminggu lalu pembeli mulai ramai. Biasanya puncaknya menjelang hari H peringatan Maulid Nabi. Setelah itu, kembali normal seperti biasa,” ujar salah seorang pedagang buah Megawati, 27, yang membuka lapak di Jalan Basuki Rahmat, Kota Probolinggo.

Pada masa puncak ini, Megawati rela membuka lapaknya selama 24 jam. Biasanya, hanya berjualan mulai pukul 07.00 hingga 18.00. Karena permintaan meningkat, ia memperpanjang waktu operasionalnya.

“Selama tiga hari ke depan ini momen yang sangat menguntungkan. Jadi, saya buka lapak sepanjang hari. Ini berkah setahun sekali yang tidak boleh dilewatkan,” ujar warga Desa Jangur, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo.

Berkah serupa dirasakan Ema, 38, pedagang buah di Jalan Panglima Sudirman, Kota Probolinggo. Menjelang Maulid Nabi, sejumlah jenis buah, seperti apel, pir, dan anggur sangat laris. Menariknya, meski permintaan tinggi, harga buah justru turun.

“Seminggu lalu pir masih Rp 20-25 ribu per kilogram, sekarang Rp 15 ribu. Apel yang dulu Rp 30-35 ribu, sekarang turun jadi Rp 25 ribu per kilogram. Anggur juga turun dari Rp 70 ribu jadi Rp 40-50 ribu per kilogram,” ungkap Ema.

Ia menduga turunnya harga karena pasokannya melimpah. Meski harga turun, Ema mengaku keuntungannya meningkat signifikan. “Biasanya saya kulakan sekitar Rp 30 juta sehari, saat ini bisa mencapai Rp 400 juta," katanya, sambil tersenyum.

Parsel buah juga menjadi incaran pembeli. Bahkan, Hedi, 60, pedagang parsel buah di Pasar Gotong Royong, Kota Probolinggo, juga memperpanjang jam operasionalnya. “Biasanya buka pukul 06.30 sampai 22.00, sekarang saya buka lebih awal, pukul 05.30 dan tutup pukul 23.00. Biar bisa melayani lebih banyak pembeli,” ujarnya. (gus/rud)

Editor : Ronald Fernando
#buah #pedagang #maulid