KEDOPOK, Radar Bromo- Memasuki kemarau, suhu di Kota Probolinggo terasa semakin dingin. Terutama pada malam hari. Bahkan, suhu bisa mencapai 15 hingga 20 derajat Celsius.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Probolinggo Sugito Prasetyo mengatakan, wilayah Kota Probolinggo berada pada posisi di selatan garis ekuator (khatulistiwa). Secara umum. wilayah di selatan khatulistiwa sedang musim kemarau dan akan merasakan suhu udara lebih dingin dibanding wilayah di utara khatulistiwa.
Fenomena iklim dengan suhu udara dingin sering disebut bediding atau masyarakat Probolinggo mengenalnya sebagai angin gending. Angin ini berembus dengan kecepatan berkisar 20-30 knot atau 17-31 kilomter per jam.
“Suhu terendah pada malam hari, berkisar 15 hingga 20 derajat Celsius. Bulan Juli adalah masa-masa awal berembusnya angin gending. Biasanya, puncaknya pada Agustus dan terus berembus selama musim kemarau,” kata Sugito.
Dampaknya, kata Sugito, meski musim kemarau, suhu udara terasa dingin. Hal itu disebabkan dari aliran angin monsun Australia yang memengaruhi penurunan suhu udara. Terutama saat menjelang malam hingga pagi.
Ketika siang, udara akan terasa lebih panas karena tidak ada awan dan kurangnya uap air saat musim kemarau. Menyebabkan radiasi langsung matahari akan lebih banyak yang mencapai permukaan bumi.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk menjaga kesehatan. Sebab, cuaca juga bisa mempengaruhi kesehatan. “Jangan bakar sampah di sekitar rumah atau lahan kosong, bisa memicu kebakaran. Hindari berteduh di bawah pohon saat angin kencang,” pesannya. (mg2/rud)
Editor : Ronald Fernando