Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Perayaan Yadnya Kasada Suhu Capai di Bawah 10 Derajat, Tetap Khidmat

Inneke Agustin • Minggu, 23 Juni 2024 | 04:07 WIB

 

Warga Hindu suku Tengger Bromo sedang melakukan ritual larung sesaji pada puncak perayaan Yadnya Kasada 1946 Saka di bibir kawah Gunung Bromo, Sabtu (22/6/2024) pagi.
Warga Hindu suku Tengger Bromo sedang melakukan ritual larung sesaji pada puncak perayaan Yadnya Kasada 1946 Saka di bibir kawah Gunung Bromo, Sabtu (22/6/2024) pagi.

PROBOLINGGO, Radar Bromo- Untuk kali pertama, resepsi Hari Raya Yadnya Kasada atau Pujan Kasada digelar di Amfiteater Terminal Wisata Seruni Poin, Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Acara berlangsung khidmat, meski digelar saat suhu udara di bawah 10 derajat Celsius.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, resepsi yang digelar Jumat (21/6), itu dilakukan siang hari. Mulai pukul 14.00. Biasanya, resepsi dilakukan malam hari. Berdekatan dengan kegiatan ritual Yadnya Kasada.

“Tahun ini atas permintaan masyarakat, resepsi dilakukan siang. Supaya masyarakat punya waktu cukup lama untuk persiapan ritual dan fokus melakukan ritual,” kata Plh Bupati Probolinggo Heri Sulistyanto.

Lima pejabat dikukuhkan sebagai warga kehormatan Suku Tengger saat resepsi. Antara lain, Pj Gubernur Jawa Timur Ardhy Karyono; Ketua Kwartir Daerah (Ka Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Timur Muh. Arum Sabil; Pj Wali Kota Probolinggo Nurkholis; Kapolres Probolinggo AKBP Wisnu Wardana; dan Direktur Utama Bank Jatim Busrul Iman.

Pengukuhan digelar di lokasi terbuka dengan berlatar Gunung Bromo, Gunung Batok, Pura Luhur Poten Bromo, dan Kaldera Tengger. Tokoh yang juga sesepuh masyarakat Tengger, Supoyo mengatakan, pengukuhan sengajar digelar di amfiteater yang merupakan ruang terbuka. Tujuannya, untuk mendekatkan diri dengan megahnya alam Tengger. Juga untuk mempromosikan wisata.

Seorang pemarit membawa seekor kambing yang ia dapatkan saat larung sesaji perayaan Yadnya Kasada 1946 Saka di puncak kawah Gunung Bromo, Sabtu (22/6/2024) pagi.
Seorang pemarit membawa seekor kambing yang ia dapatkan saat larung sesaji perayaan Yadnya Kasada 1946 Saka di puncak kawah Gunung Bromo, Sabtu (22/6/2024) pagi.

“Amfiteater Terminal Wisata Seruni Point ini sangat representatif dan menambah daya tarik pengunjung berwisata ke Gunung Bromo,” tuturnya.

Selama prosesi pengukuhan, selendang kuning diselempangkan pada lima warga kehormatan. Warna kuning sendiri menandakan keagungan.

Selanjutnya, Sabtu (22/6) dini hari, dilaksanakan ritual Yadnya Kasada 2024 di Pura Luhur Poten Bromo. Ritual diikuti oleh seluruh dukun pandita dari empat wilayah Tengger. Yaitu, Probolinggo, Malang, Pasuruan, dan Lumajang.

Warga suku Tengger Bromo sedang melarung saji seekor ayam saat perayaan Yadnya Kasada 1946 Saka di bibir kawah Gunung Bromo, Sabtu (22/6/2024) pagi.
Warga suku Tengger Bromo sedang melarung saji seekor ayam saat perayaan Yadnya Kasada 1946 Saka di bibir kawah Gunung Bromo, Sabtu (22/6/2024) pagi.

Ratusan warga Tengger juga mengikuti ritual itu, di bawah cahaya bulan purnama penuh. Mereka khidmat mengikuti ritual dengan membawa ongkek hasil bumi, meski suhu udara di bawah 10 derajat Celsius.

Rangkaian upacara diawali dengan pembacaan sejarah Yadnya Kasada. Dilanjutkan dengan upacara larung saji ongkek hasil bumi ke Kaldera Tengger.

Warga suku Tengger Bromo tengah melarung saji seekor kambing saat perayaan Yadnya Kasada 1946 Saka di bibir kawah Gunung Bromo, Sabtu (22/6/2024) pagi.
Warga suku Tengger Bromo tengah melarung saji seekor kambing saat perayaan Yadnya Kasada 1946 Saka di bibir kawah Gunung Bromo, Sabtu (22/6/2024) pagi.

“Kami persembahkan hasil bumi tersebut kepada Dewa Brata Kusuma yang ada di Kawah Gunung Bromo dengan tulus ikhlas sebagai bentuk rasa syukur. Harapannya, ke depan masyarakat dapat hidup lebih makmur lagi,” terang Ketua Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Kabupaten Probolinggo Sugiono.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo Bambang Suprapto menambahkan, tahun ini tidak ada acara pengukuhan dukun seperti tahun sebelumnya. “Sebab, Kasada tahun ini masuk tahun Pahing. Sehingga, upacara semacam itu tidak diperbolehkan dulu,” katanya.

Sementara itu, Yadnya Kasada tahun ini diwarnai dengan berbagai harapan dan doa dari warga Tengger. Seperti yang disampaikan Santi, 41. Dia berharap diberikan kelancaran dalam berbagai aspek kehidupan ke depannya.

Warga umat Hindu Suku Tengger Bromo saat menaiki tangga menuju kawah Gunung Bromo untuk melakukan ritual larung sesaji pada puncak perayaan Yadnya Kasada 1946 Saka, Sabtu (22/6/2024) dini hari.
Warga umat Hindu Suku Tengger Bromo saat menaiki tangga menuju kawah Gunung Bromo untuk melakukan ritual larung sesaji pada puncak perayaan Yadnya Kasada 1946 Saka, Sabtu (22/6/2024) dini hari.

“Kasada tahun ini kami memohon agar diberikan kelancaran dalam segala hal,” kata perempuan asal Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura itu.

Sementara Sadirun, 52, warga Cemoro Lawang, Desa Ngadisari memohon keselamatan, kerukunan, dan kesuburan tanah tahun ini. Bukan hanya untuk warga Tengger, tapi juga seluruh masyarakat Indonesia.

“Semoga kita semua, seluruh masyarat Indonesia, diberikan keselamatan dan selalu rukun. Semoga tanah di sini juga semakin subur. sehingga hasil panen dapat melimpah,” tuturnya.  (gus/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#tengger #yadnya kasada #gunung bromo #bromo #tnbts