DRINGU, Radar Bromo- Bencana yang melanda Kabupaten Probolinggo, sejak lima tahun terakhir terus meningkat. Paling tinggi terjadi pada 2022, ada 160 kejadian. Tahun ini sampai Maret, tercatat telah terjadi 46 bencana.
Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, pada 2018 tercatat ada 76 bencana. Setahun berikutnya terjadi 99 kejadian dan ada ada 107 bencana pada 2020. Pada 2021, jumlah bencana kembali naik walau tipis, 108 bencana. Tahun 2022, sebanyak 160 kejadian dan tahun kemarin turun, ada 91 kejadian.
“Bencana di sini termasuk bencana alam dan bencana nonalam. Bencana nonalam berupa wabah penyakit, baik penyakit pada manusia maupun pada hewan,” ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Probolinggo, Zubaidullah.
Pada 2024, hingga Maret terjadi 46 bencana. Di antaranya, ada kebakaran rumah, hutan, dan lahan masing-masing ada dua kejadian. Untuk cuaca ekstrem dan angin kencang terjadi 10 kali dan 13 kali terjadi bencana tanah longsor.
Untuk bencana banjir atau genangan terjadi yang paling banyak, 20 kejadian. Sedanglan, kecelakaan atau musibah merupakan bencana yang paling sedikit terjadi. Hanya satu kali.
“Dampak dari kejadian bencana bermacam-macam. Seperti meninggal dunia, hilang, rumah yang rusak, dan tergenang, infrastuktur dan fasilitas umum yang rusak dan lain-lainya,” ujar Izub -sapaan akarab Zubaidullah.
Pada 2024, ada empat kecamatan tidak terdampak bencana. Di antaranya, Kecamatan Bantaran, Kecamatan Tegalsiwalan, Kecamatan Krucil, dan Kecamatan Tiris. Sedangkan, kecamatan dengan kejadian lebih dari tujuh bencana, ada Kecamatan Dringu, Kecamatan Lumbang, dan Kecamatan Tongas.
Akibat dari bencana tersebut, paling banyak yaitu 10.848 jiwa menderita dan terdampak bencana. Sedangkan, jumlah rumah yang yang terdampak sebanyak 4.199 rumah. Selain itu, seluas 11.529 hektare lahan rusak.
Pihaknya mengimbau kepada masyarakat dalam mendekati musim pancaraba, senatiasa untuk menjaga kesehatan. Apabila terjadi musibah bencana alam maupun nonalam, segera melaporkan ke BPBD. (mg2/rud)
Editor : Ronald Fernando