Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Begini Cara Ngabuburit Sebagian Warga Probolinggo, Mulai Piknik hingga Khatamkan Alquran

Inneke Agustin • Minggu, 24 Maret 2024 | 20:05 WIB
PACARAN: Seeorang pemuda dan pemudi ngabuburit di Kota Probolinggo.
PACARAN: Seeorang pemuda dan pemudi ngabuburit di Kota Probolinggo.

NGABUBURIT merupakan sebuah istilah populer di Indonesia. Merujuk pada kegiatan yang dilakukan menjelang berbuka puasa selama Ramadan. Kata ngabuburit berasal dari bahasa Sunda, ngalantung ngadagoan burit atau bersantai sambil menunggu waktu sore.

Istilah ngabuburit kini bukan hanya menjadi milik masyarakat Sunda. Di berbagai wilayah di Indonesia, kegiatan ini dilakukan saat menjelang berbuka puasa. Kebiasaan ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia. Khususnya di kalangan anak muda.

Asal mula ngabuburit dapat ditelusuri dari kebiasaan masyarakat Indonesia yang ingin mengisi waktu antara waktu Ashar dan waktu Magrib. Awalnya ngabuburit hanya mencakup kegiatan sederhana, seperti bersantai di rumah, berbincang dengan keluarga, atau mempersiapkan hidangan untuk berbuka puasa.

Seiring perkembangan zaman dan pengaruh sosial, ngabuburit telah berevolusi menjadi lebih dari sekadar menunggu waktu berbuka puasa. Kini, mencakup berbagai aktivitas yang beragam dan kreatif. Mulai dari bermain, piknik, hingga menjelajahi tempat-tempat menarik.

Seperti dilakukan Zulfikar dan Vina. Mereka memilih ngabuburit bersama di Wisata Kum-Kum Pelabuhan Perikanan Pantai Mayangan, Kota Probolinggo. Sepasang kekasih ini tampak asyik menikmati ombak yang menderu di pantai wisata tersebut.

Zulfikar mengaku ini kali pertama ngabuburit bersama tunangannya, Vina. “Sebelum bertunangan dengannya, biasanya berkeliling kota bersama teman. Ini kebetulan dia juga sedang libur kuliah, jadi saya ajak main ke kota,” ujar pria asal Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo ini.

Vina mengaku hanya menikmati suasana pantai sore. Menjelang Magrib, mereka mulai beranjak. “Cari masjid untuk salat dulu. Baru cari warung untuk berbuka. Berbuka apa saja dan di mana saja, yang penting bisa berbuka dulu. Selepas itu pulang agar masih nututi tarawih,” katanya.

Ngabuburit lebih positif dilakukan oleh Teguh Bangun Aribowo. Pria 60 tahun ini memilih mengisi waktu menjelang berbuka dengan membaca Alquran di masjid. Kegiatan ini dilakukan setiap hari dengan berpindah-pindah masjid.

“Kadang di Masjid An-Nur atau Masjid Al Hidayah. Tergantung keinginan hari itu  Dalam 10 hari, saya mampu menghatamkan Alquran. Insyaallah selama Ramadan ini bisa hatam 3 kali,” ujar warga Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo ini.

Ngabuburit sudah menjadi tradisi. Tidak ada larangan untuk melaksanakannya, selama dalam kegiatan positif. Serta, tidak melupakan kewajiban lain, seperti salat.

“Jangan sampai melupakan hal yang wajib. Salat Ashar dan Magrib, jangan ditinggalkan,” ujar Ketua Umum MUI Kota Probolinggo, K.H. Nizar Irsyad.

Ngabuburit memang jadi salah satu momen paling menyenangkan ketika Ramadan. Namun, dalam praktinya, ngabuburit juga terkadang diisi bersama kekasih ataupun pacar. Berdasarkan syariat Islam, hal tersebut tidak diizinkan, karena melibatkan interaksi antara pria dan wanita yang bukan mahram.

Dalam agama Islam terdapat batasan yang jelas terkait hal tersebut. Hal ini sejalan dengan prinsip menjaga kehormatan, kemurnian, dan kesucian hati selama Ramadhan.

Berdasarkan ajaran Islam, kata Kiai Nizar, ngabuburit dengan pacar dapat membuka celah terhadap berbagai risiko dan godaan yang dapat melanggar aturan agama.

“Sebaiknya dihindari. Sebab, pacaran dalam Islam itu dilarang. Jangan sampai karena hal tersebut puasa menjadi sia-sia. Hanya mendapat lapar dan dahaga, tapi pahalanya tidak dapat,” jelasnya.

Kiai Nizar menyarankan dalam ngabuburit, hendaknya diisi dengan hal-hal positif dan bermanfaat. “Jauhi hal-hal yang tidak bermanfaat. Terlebih yang melanggar agama,” pesannya. (gus/rud)

Editor : Ronald Fernando