Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Aboge Probolinggo Baru Puasa Mulai Rabu, Berpedoman pada Kitab Mujarobat

Jawanto Arifin • Kamis, 14 Maret 2024 | 20:40 WIB
TARAWIH: Sejumlah jemaah Aboge di Desa/Kecamatan Leces, melaksanakan salat tarawih, Rabu (13/3) malam.
TARAWIH: Sejumlah jemaah Aboge di Desa/Kecamatan Leces, melaksanakan salat tarawih, Rabu (13/3) malam.

LECES, Radar Bromo - Dalam penentuan awal Ramadan, jemaah Aboge berbeda dengan pemerintah.

Tahun ini, jemaah Aboge memulai Ramadan telat sehari dari ketetapan pemerintah. Mereka baru mulai berpuasa sejak Rabu (13/3).

Salah seorang tokoh Jemaah Aboge Desa/Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, Abu Hasan, 55, mengakui jemaahnya memulai puasa sejak Rabu (13/3).

Berbeda dengan pemerintah yang menyatakan Ramadan 1445 Hijriah jatuh pada Selasa (12/3).

Menurutnya, dalam penentuan awal Ramadan, jemaah Aboge menggunakan metode hisab berdasarkan kitab mujarobat.

Rumus dalam penentuan awal Ramadan memiliki pola Don-Nem-Ro (Wulan Romadon Dinone Enem Pasarane Loro).

Maksud dari pola tersebut, penentuan bulan Ramadan dilihat dari hari ke enam dari hari awal penentuan tahun baru Islam yang bertepatan hari Jumat.

Hari ke enam merupakan hari Rabu. Kemudian, Pasarane Loro dilihat dari hari kedua dalam kalender Jawa, yang bertepatan Wage. Jadi, penetapan awal Ramadan pada hari Rabu Wage.

“Penetapan ini menggunakan metode hisab. Jadi, hitungannya sudah ditentukan jauh-jauh hari dan pasti. Puasa satu bulan kami dihitung 30 hari,” katanya.

Bahkan, untuk penentuan Hari Raya Idul Fitri sudah ditentukan. Pola yang digunakan untuk menentukan yaitu Wal-Ji-Ro (Wulan Syawal Dinone Siji Pasarane Loro).

Artinya, bulan Syawal ditentukan pada hari pertama dari hari awal penentuan tahun baru Islam dan hari kedua di kalender Jawa, yaitu Pon.

Sehingga, Idul Fitri nanti akan jatuh pada Jumat Pon bulan Syawal.

Meski penentuan awal Ramadan dan Idul Fitri berbeda dengan ketetapan pemerintah, Abu Hasan mengatakan, pihaknya tetap menjunjung tinggi toleransi. Saling menghargai perbedaan dan saling menghormati.

“Kalau untuk tarawih kami 20 rakaat dengan 10 salam, beda witir,” katanya. (mg2/rud)

Editor : Jawanto Arifin
#mujarobat #aboge