LECES, Radar Bromo - Relokasi pedagang terdampak kebakaran di Pasar Leces, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, tak kunjung dilakukan.
Bahkan, pembangunan bedak di tempat relokasi yang direncanakan pemerintah, belum ada sama sekali. Pedagang pun membuat sendiri bedak darurat untuk berjualan.
Bedak darurat itu dibuat sederhana. Menggunakan bahan dari kayu dan terpal. Namun, lokasinya tidak memanfaatkan tempat relokasi.
Praktis, tiga tempat relokasi yang disepakati sebelumnya kosong. Tidak ada aktivitas berjualan di sana.
Hanya pedagang daging dan selep daging yang menempati tempat relokasi sesuai kesepakatan. Yaitu, di depan pasar sisi timur, dekat pintu masuk.
Kepala Pasar Leces Joni Sukisworo mengatakan, hal yang dilakukan para pedagang sejatinya tidak dilarang. Namun, biaya pembuatan bedak secara pribadi itu tidak akan mendapat ganti rugi dari pemerintah.
“Sebab, nantinya pemerintah akan membangun bedak di tempat relokasi. Titiknya sesuai dengan kesepakatan kemarin,” terangnya.
Berdasarkan kesepatakan, ada empat titik relokasi. Yaitu, pedagang daging dan selep di depan pasar sisi timur (dekat pintu masuk). Pedagang sayur di sebelah barat, tepatnya di depan pasar kambing.
Pedagang peracangan, pecah belah, warung, dan busana, di pasar sisi tengah atau bagian depan. Dan pedagang ikan direlokasi ke selatan atau belakang pasar.
Joni sendiri berharap pembangunan bedak relokasi dapat segera terealisasi. Sebab, para pedagang sangat membutuhkan bedak itu.
“Kasihan para pedagang ini. Apalagi hampir Nataru seperti sekarang. Pasti butuh tempat berjualan yang lebih nyaman dan aman,” katanya.
Sementara itu, Kepala DKUPP Kabupaten Probolinggo Taufik Alami mengatakan, rencanan pembangunan bedak sementara di tempat relokasi saat ini masih proses perhitungan bersama pihak terkait. Yaitu, Dinas Perumahan, Pemukiman, dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Probolinggo.
“Setelah selesai, nantinya akan diusulkan ke Pemkab Probolinggo. Pada intinya prosesnya kami kebut, meski saat ini masa tutup anggaran. Semoga segera dapat terselesaikan,” katanya.
Kabid Perdagangan di DKUPP Mehdinsareza Wiriarsa menambahkan, pihaknya berusaha secepat mungkin agar relokasi terlaksana. Termasuk, pembanguna bedak untuk pedagang di lokasi relokasi.
Reza–panggilannya–menyebut, pihaknya telah mendata pedagang terdampak kebakaran. Hal ini dilakukan agar saat proses pembangunan bedak sementara rampung, tidak ada pedagang siluman yang masuk.
“Ini penting, sebab dikhawatirkan ada pedagang yang bukan merupakan bagian dari pedagang terdampak. Yang entah itu siapa, tiba-tiba masuk,” katanya.
Sementara Kepala DPKPP Kabupaten Probolinggo Roby Siswanto mengatakan, pihaknya sedang berkoordinasi dengan DKUPP Kabupaten Probolinggo untuk membahas pembangunan bedak sementara. Terutama terkait koreksi spesifikasi dan rencana anggaran biaya (RAB).
“Nanti kami koordinasikan kembali dengan DKUPP untuk hal ini,” katanya.
Sementara itu, di Pasar Leces cukup banyak pedagang yang membangun sendiri bedak darurat. Seperti Rohmawati, 35, pedagang hijab. Ia mengaku, seluruh barang dagangannya ludes dilalap api saat kebakaran.
Karena itu, dia memutuskan lekas berjualan lagi untuk menyambung hidup. Meskipun dengan modal seadanya. Sayangnya, bedak dari pemerintah di lokasi relokasi belum juga dibangun.
Karena itu, Rohmawati membangun bedak sementara di sisi belakang (selatan) Pasar Leces dengan uang sendiri. Barang dagangannya ia gelar di atas lincak bambu. Termasuk patung manekin hijabnya.
Dia harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 1,5 juta untuk mendirikan bedak daruratnya itu. Selain karena faktor dana yang terbatas, yang terpenting bisa jualan dulu.
“Kalau menunggu relokasi dari pemerintah, mungkin lama. Jadi saya buat bedak seadanya. Saya berharap bedak relokasi cepat dibangun. Kalau sudah terbangun, baru saya pindah,” tutur warga Jorongan, Kecamatan Leces, itu.
Saat jam pulang, Rohmawati mengemas barang dagangannya kembali. Ia memasukkan seluruh manekin dan hijab yang digelar.
“Saya bawa pulang, sebab kalau ditinggal di sini riskan. Kan tidak ada pengamannya. Berbeda dengan ketika di bedak dulu. Kalau di sini hanya ditutup terpal,” jelasnya.
Fitri, 28, seorang penjual gerabah melakukan hal yang sama. Ia mulai berjualan kembali seminggu pasca kebakaran. Awalnya Fitri hanya berjualan cobek saja. Sebab, seluruh barang dagangannya habis terbakar.
Kini, dagangannya kembali pulih. Fitri sudah bisa menjual aneka gerabah lainnya. Seperti kendi, sapu lidi, dan keranjang sampah dari anyaman bambu.
Fitri menggelar barang dagangannya itu di dipan, di bedak nonpermanen beratapkan terpal. Bedak itu juga dibuatnya di sisi belakang (selatan) pasar. Ia lekas membuka bedak-nya lagi karena tak ingin pelanggannya lari. Meski tak dapat dipungkiri bahwa pendapatannya jauh menurun.
“Pelanggan saya kebanyakan orang lanjut usia. Jadi kalau lokasinya berubah, mereka kebingungan mencari saya,” kata warga Sumberkedawung, Kecamatan Leces, ini. (mg/hn)
Relokasi Pedagang Terdampak Kebakaran
- Pedagang daging dan selep direlokasi ke depan pasar sisi timur (dekat pintu masuk).
- Pedagang sayur direlokasi ke sebelah barat, tepatnya di depan pasar kambing.
- Pedagang peracangan, pecah belah, warung, dan busana, direlokasi ke depan pasar sisi tengah.
- Pedagang ikan direlokasi ke sebelah selatan atau belakang pasar.