MAYANGAN, Radar Bromo - Tahun anggaran 2023 tersisa dua bulan. Namun, capaian retribusi dari Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL) Kota Probolinggo, masih jauh dari target. Bahkan, tahun ini diperkirakan targetnya tak akan tercapai.
Tahun ini, TWSL ditarget bisa menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) Rp 300 juta. Sampai akhir Oktober, realisasinya masih kurang Rp 88,6 juta.
“Agak berat. Apalagi bulan November bukan liburan sekolah. Ramai-ramainya TWSL hanya pada Januari dan Juni karena bersamaan dengan libur semester sekolah,” ujar Kepala UPT TWSL Kota Probolinggo Muhammad Akbarul.
Dalam pembahasan Perubahan APBD 2023, targetkan retribusi TWSL tak berubah. Alasannya, target ini semestinya bisa dipenuhi. Namun, sejauh ini masih kurang Rp 88,6 juta. Artinya, dalam dua bulan ke depan harus mampu memperoleh Rp 45 juta per bulan.
Namun, kata Akbar, mengaju pada capaian beberapa bulan terakhir, target Rp 45 juta dalam sebulan tampak mustahil. Karena pada Juli-Oktober, hanya bisa memperoleh Rp 20 juta per bulan. Bahkan, pada Agustus hanya dapat Rp 10 juta. “Saat ini anak-anak tidak terlalu suka datang ke TWSL. Tidak seperti dulu. Wahana hiburan di luar kota juga kian beragam,” katanya.
Anggota Komisi II DPRD Kota Probolinggo Zainul Fatoni sangat menyayangkan kondisi TWSL. Menurutnya, minimnya retribusi ini dikarenakan minimnya kunjungan. Karena itu, seharusnya Pemkot membenahi TWSL agar mampu menarik perhatian pengunjung.
“TWSL ini wisata utama Kota Probolinggo. Semestinya dibenahi dengan diperbaiki fasilitas dan satwa ditambah. Kalau tetap saja dan anggaran minim, ya susah,” ujarnya. (riz/rud)
Editor : Ronald Fernando