MAYANGAN, Radar Bromo - Puluhan PKL angkringan di Jalan Suroyo, Kota Probolinggo, akhirnya direlokasi. Namun, rencana merelokasi mereka ke sekitar Stadion Bayuangga batal dilakukan. Pemkot Probolinggo merelokasi 47 PKL itu ke empat tempat.
Yakni di Jalan Basuki Rachmat depan TWSL, depan Pasar Mangunharjo, Pujasera Alun-alun, dan Jalan Niaga (Jalan Cut Nyak Dien). Pre-launching sentra PKL angkringan baru digelar di depan TWSL, Senin (2/10) malam.
Puluhan PKL itu disebar. Antara lain, 19 pedagang ke depan TWSL, 6 pedagang ke Pujasera Alun-alun. Lalu, 15 pedagang ke Jalan Niaga dan 7 pedagang ke depan Pasar Mangunharjo.
Kabid Perdagangan di Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (DKUP) Kota Probolinggo Erwan Kiswandoko menjelaskan, para PKL angkiran Jalan Suroyo memang harus direlokasi. Sebab, mereka berjualan di kawasan tertib lalu lintas. Jadi, segala bentuk perdagangan harus disterilkan dari Jalan Suroyo.
“Karena sebagai fungsi pembinaan dan penataan PKL, kami menyediakan tempat untuk mereka, khususnya PKL angkringan. Juga untuk meningkatkan pendapatan mereka selaku pelaku usaha di Kota Probolinggo,” ungkapnya.
Kepala DKUP Fitriawati menambahkan, pemkot sangat mendukung potensi usaha kecil dan menengah. Termasuk mereka yang bergerak di bidang kuliner. Karena itu, dilakukan penataan PKL angkringan agar lingkungan tertata rapi, tertib, dan nyaman.
”Kami menyiapkan tempat yang lebih baik dan memadai, serta lengkap dengan air dan listrik. Kami juga menyiapkan sarana hiburan musik. Kami serahkan ke angkringan untuk menggelar hiburan di sini,” terangnya.
Ahmad (bukan nama sebenarnya), salah satu PKL angkringan yang dipindah ke depan TWSL mengatakan, dirinya menerima saja relokasi yang dilakukan pemkot. Namun, ada kekhawatiran tempat jualan yang baru akan sepi. Sementara di Jalan Suroyo, hampir tiap malam ramai pembeli.
”Waktu jualan di Jalan Suroyo, paling sepi bisa dapat laba bersih Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. Ini awal jualan, malam Minggu juga, hasil jualan tidak sampai seratus ribu. semoga ke depan semakin ramai,” ungkapnya.
Jawa Pos Radar Bromo kembali mendatangi PKL angkringan di depan TWSL pada hari ketiga. Hanya ada empat PKL yang jualan di sana. Padahal, ada 19 PKL yang dipindah ke tempat itu. Semuanya sedang sepi pengunjung.
Lalu di depan Pasar Mangunharjo, ada dua PKL yang mangkal. Sementara di sekitar Pasar Baru atau Jalan Niaga, malah tidak ada yang jualan.
Salah satu PKL di depan TWSL mengaku, dia baru buka magrib. Dan sampai sekitar satu jam di sana, belum ada pembeli satu pun.
“Di sini kan sepi. Mana ada anak muda yang mau datang ke sini. Dak pas sebenarnya dipindah ke sini,” tutur lelaki yang tidak mau namanya disebut itu. (mas/hn)
Editor : Jawanto Arifin