SUKAPURA, Radar Bromo - Kebakaran hebat yang terjadi di kawasan sabana Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mengakibatkan kerugian cukup fantastis. Diperkirakan, kerugian akibat kebakaran selama delapan hari di kawasan wisata Bromo tersebut mencapai sekitar Rp 8,3 miliar.
Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo menyebutkan, luas lahan yang terbakar di Gunung Bromo mencapai 989 hektare. Dari kebakaran itu, nilai kerugiannya diperkirakan mencapai Rp 8.344.741.000.
Nilai kerugian itu dihitung dari setidaknya tiga item. Pertama, biaya pemadaman kebakaran hutan sekitar Rp 216 juta. Kemudian, kerugian akibat hilangnya habitat atau pendekatan biaya pemulihan ekosistem sekitar Rp 3.259.329.000. Terakhir, kerugian akibat hilangnya jasa rekreasi sekitar Rp 4.869.412.000.
Kepala Balai Besar TNBTS Hendro Widjanarko mengatakan, kerugian dari dampak kebakaran hutan di kawasan TNBTS selama beberapa hari tidaklah sedikit. Diperkirakan untuk pemulihan ekosistem di kawasan TNBTS, membutuhkan biaya sekitar Rp 3 miliar lebih.
”Kalau pemulihan sabana sih, bisa dilakukan secara alami. Semoga, segera bisa pulih untuk sabananya,” katanya.
Ketua Tim Data Evaluasi Pelaporan dan Kehumasan (DEP. HUMAS) Balai Besar TNBTS Hendra Wisantara menambahkan, estimasi kerugian secara total akibat kebakaran hutan di kawasan sabana TNBTS, cukup signifikan. Yaitu, berkisar Rp 8,3 miliar. Mulai dari biaya pemadam kebakaran, pemulihan ekosistem di kawasan sabana BTS, sampai kerugian akibat wisata Bromo ditutup selama terjadi kebakaran.
”Kerugian itu sudah mencakup potensi pendapatan wisata yang hilang selama kawasan TNBTS ditutup. Tetapi, belum termasuk biaya pemadaman yang melibatkan helikopter atau water bombing yang dibiayai Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB),” lanjutnya.
Hendra menambahkan, proses pemulihan yang membutuhkan waktu cukup lama itu, terkait pemulihan ekosistem di Bromo. Agar pepohonan asli di kawasan tersebut dapat tumbuh dengan optimal, butuh waktu tidak sebentar.
Ada tiga mekanisme yang akan diterapkan dalam pemulihan ekosistem Bromo. Pertama, pemulihan secara alami. Terutama untuk area sabana atau padang rumput di kawasan tersebut. Kedua, rehabilitasi dengan melakukan penanaman pohon kembali. Ketiga, restorasi atau upaya mengembalikan unsur hayati.
”Pemulihan pepohonan asli di kawasan Bromo Tengger Semeru seperti cemara gunung, yang terkena dampak kebakaran membutuhkan waktu cukup lama. Bisa sekitar 3 hingga 5 tahun,” terangnya. (mas/hn)
Fakta kerugian akibat karhutla di Gunung Bromo
• Luas areal terbakar pada 6–14 September 2023 mencapai 989 hektare.
• Estimasi nilai kerugian akibat kebakaran hutan berkisar Rp 8.344.741.000.
Terdiri atas
a) Biaya pemadaman kebakaran hutan sekitar Rp 216 juta.
b) Kerugian akibat hilangnya habitat (dihitung berdasarkan pendekatan biaya pemulihan ekosistem) sekitar Rp. 3.259.329.000.
c) Kerugian akibat hilangnya jasa rekreasi sekitar Rp 4.869.412.000.
Editor : Jawanto Arifin