Minimnya pendapatan asli desa (PADes) yang dimiliki Desa/Kecamatan Bantaran, mendapat atensi khusus dari pemerintahan desa (pemdes) setempat. Karena itu, tahun ini, pihak desa membangun toko desa. Harapannya, bisa menyumbangan pendapatan desa.
KEPALA Desa Bantaran Abdullah Rofiq mengungkapkan, pembangunan toko desa ini dilakukan sejak awal tahun. Saat ini, realisasinya mencapai 80 persen. Diharapkan tahun depan sudah bisa difungsikan.
Sebenarnya toko desa ini sudah ada sejak 1985. Namun, waktu itu belum ada aturan dari Perdes. Sehingga, yang menempati perangkat dan tokoh masyarakat.
Seiring berjalan waktu, lapak toko dijual dengan hak pakai. Karena hanya digunakan saja, toko ini sudah mulai mengalami kerusakan. Banyak kayu yang mulai lapuk. Pengguna membuat talang tidak beraturan sehingga mengganggu warga yang melintas.
"Yang memakai itu bukan hanya warga desa saja. Tapi, ada juga warga Lumajang. Karena saat itu memang belum ada Perdesnya," katanya.
Kondisi ini membuat toko desa ini harus direhab. Rencananya, toko desa ini akan memiliki 22 lapak jika difungsikan. Saat ini sudah disusun Perdes untuk pemakaiannya. Mereka yang menyewa dikenakan retribusi Rp 5 juta per lapak.
"Retribusi ini akan langsung masuk ke PADes, sehingga bisa meningkatkan pendapatan desa," tutur Rofiq.
Katanya, bagi penyewa dari luar kota boleh saja tetap memakai lapak tersebut. Asal mereka bersedia membayar retribusi per tahunnya. Namun, jika tidak mau, maka lapak itu akan diberikan kepada warga desa yang mau menyewa. Sebab, dalam Perdes disebutkan jika penyewa dikhususkan bagi warga desa. Nantinya mereka bisa menempati mulai awal Januari mendatang. Lapak bisa digunakan untuk jual beli perancangan.
"Meski ada Pasar Bantaran, tidak akan berpengaruh. Karena warga yang berbelanja bukan hanya warga setempat, tapi juga luar desa," terang Rofiq. (riz/fun/*)
Kembangkan Potensi setelah Bimtek
DESA Bantaran masih bergantung pada dana desa (DD). Desa ini masih berupaya bisa mandiri dengan potensi yang dimiliki. Sehingga, tidak ketergantungan pada DD.
Kades Bantaran Abdullah Rofiq menyebut, desa pernah menggelar bimbingan teknis ke sejumlah desa yang mampu mandiri. Seperti Desa Pujon di Kabupaten Malang dan Desa Mangkungharjo di Jogjakarta.
Kedua desa ini bisa memperoleh pendapatan Rp 2 miliar setahun. Setelah dicari tahu, rupanya desa tersebut mampu mengembangkan potensi desa yang ada.
Mangkungharjo misalnya. Saat memasuki desa, seseorang akan disuguhi sejumlah kedai di kanan-kiri jalan. Kedai ini menjual makanan khas Jogjakarta. Hasilnya masuk dalam kas desa. "Desa Bantaran belum ada. Harapannya desa sini juga bisa," katanya.
Ada pula penjualan minyak jelanta habis pakai dari warga yang dijual ke pabrik untuk dijadikan biogas. Dari dua sumber ini, Mangkungharjo bisa menghasilkan pendapatan hingga Rp 2 miliar.
Karena besarnya pendapatan mereka, pihak desa pernah menolak untuk menerima transfer dari DD. Sebab, pencairan DD yang tidak mudah. Sementara pendapatan desa pun cukup.
"Kalau punya penghasilan sendiri kan bagus. Ini yang kami inginkan berawal dari toko desa," tutur Rofiq.
Desa Bantaran, Kecamatan Bantaran
APBDes Desa Bantaran Tahun Anggaran 2023
Pendapatan
Pendapatan Asli Desa Rp 7.560.000
Pendapatan Transfer Rp 1.683.171.984
Jumlah Pendapatan Rp 1.690.731.984
Belanja
Belanja Penyelenggaraan Pemerintahan Rp 490.528.284
Belanja Pelaksanaan Pembangunan Rp 257.431.000
Belanja Pembinaan Kemasyarakatan Rp 43.400.000
Belanja Pemberdayaan Masyarakat Rp 746.172.700
Belanja Penanggulangan Bencana Rp 153.200.000
Jumlah Belanja Rp 1.690.731.984
Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran 0,00
Editor : Ronald Fernando